Tren Jamu Modern, Saat Minuman Tradisional Naik Kelas di Kafe Kekinian

Jamu modern menghadirkan racikan herbal tradisional dengan cita rasa, teknik penyajian, dan konsep bisnis yang lebih kontemporer.

Liputan6.com, Jakarta - Jamu memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Minuman berbahan rempah dan tanaman herbal ini diwariskan antargenerasi melalui pengetahuan keluarga serta peracik tradisional.

Kini, jamu mulai hadir di ruang yang berbeda dari tempat penjualan konvensional, yakni kafe yang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat urban. Melansir BBC Travel, Rabu (21/10/2026), tradisi jamu telah dikenal selama lebih dari 1.300 tahun dan memiliki akar sejarah di lingkungan kerajaan Jawa.

Kunyit, jahe, kencur, serai, dan asam jawa termasuk bahan yang digunakan dalam berbagai racikan. Survei Kementerian Kesehatan pada 2012 mencatat terdapat 15.773 resep jamu di Indonesia, menggambarkan luasnya keragaman pengetahuan herbal yang berkembang di masyarakat.

Perkembangan kafe jamu membuka cara baru untuk memperkenalkan tradisi tersebut kepada generasi muda. Alih-alih hanya mengandalkan penjualan jamu siap minum, pelaku usaha menghadirkan ruang bagi pelanggan untuk mengenal bahan dan menikmati minuman dalam suasana yang akrab dengan budaya nongkrong.

Acaraki menjadi salah satu contoh usaha yang mengembangkan konsep kafe jamu di Jakarta. Pendekatan ini mempertemukan warisan minuman herbal dengan pengalaman pelanggan yang sebelumnya lebih lekat dengan kedai kopi.

Jamu pun mulai diposisikan sebagai bagian dari pilihan minuman sehari-hari, bukan semata-mata minuman yang dikonsumsi ketika seseorang merasa kurang sehat. Perubahan tempat menikmati jamu memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menemukan konteks baru tanpa harus kehilangan asal-usulnya.

Kafe menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan kembali pengetahuan herbal pada konsumen yang mungkin belum terbiasa menikmati jamu secara tradisional.

Eksplorasi Rasa Membuat Jamu Lebih Variatif

Salah satu tantangan dalam memperkenalkan jamu kepada pelanggan baru adalah karakter rasanya yang kuat. Sebagian racikan memiliki rasa pahit, getir, atau pedas dari rempah-rempah, sehingga tidak semua orang langsung menyukainya. Pelaku usaha kemudian bereksperimen dengan bahan tambahan untuk menghasilkan minuman yang lebih mudah diterima tanpa menghilangkan karakter utama rempah.

Sebagai contoh, mengutip kanal Kesehatan Liputan6.com, Wiratea Spices Bar di Yogyakarta mengembangkan minuman rempah melalui pendekatan mixology. Pengalaman pendirinya membantu sang ibu membuat jamu menjadi salah satu dasar pengembangan racikan dengan profil rasa yang berbeda.

Kombinasi rempah dengan cokelat, susu, bunga, dan matcha memperluas pilihan bagi pelanggan yang ingin mengenal jamu secara bertahap. Cokelat dan susu dapat memberikan rasa yang lebih lembut, sedangkan bunga dan matcha menghadirkan karakter aroma serta rasa yang berbeda pada minuman.

Teknik Barista dalam Meracik Minuman Herbal

Perubahan pada jamu modern juga terlihat pada peralatan dan metode pengolahannya. Acaraki memanfaatkan penggiling kopi elektrik, French press, dan alat seduh V60 untuk menyiapkan minuman herbal.

Peralatan yang populer dalam penyajian kopi tersebut digunakan untuk mengolah bahan jamu dengan pendekatan berbeda dari cara konvensional. Metode seduh memberi perhatian pada proses pengolahan bahan sebelum minuman disajikan.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari pengalaman pelanggan karena proses peracikan dapat dilihat secara langsung, menyerupai cara barista menyiapkan kopi.

Setiap rempah memiliki aroma dan rasa berbeda, sehingga metode pengolahan perlu disesuaikan dengan racikan. Penggunaan peralatan modern tidak dengan sendirinya menjamin hasil yang lebih baik, tetapi memberi pelaku usaha lebih banyak pilihan untuk mengeksplorasi teknik penyajian.

Peluang Jamu Modern dan Pentingnya Memahami Khasiatnya

Perkembangan kafe jamu membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menghubungkan produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Munculnya pengusaha Indonesia melalui pengembangan interpretasi modern jamu melalui kafe dan format minuman baru.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa warisan kuliner dapat dikembangkan menjadi pengalaman yang relevan bagi konsumen masa kini. Bagi industri kuliner, jamu menawarkan ruang untuk mengeksplorasi bahan lokal sekaligus memperkenalkan keragaman rempah Indonesia.

Pengembangan menu dan cerita mengenai asal-usul bahan dapat menjadi pembeda bagi usaha yang ingin mengangkat minuman tradisional. Aspek kesehatan tetap perlu diperhatikan dalam tren ini.

Sebutan alami atau herbal tidak otomatis menjamin suatu minuman aman bagi semua orang maupun terbukti memberikan manfaat tertentu. Efeknya bergantung pada bahan, jumlah yang dikonsumsi, cara pengolahan, serta kondisi kesehatan individu.