Sunscreen Makin Menjamur, Apakah Kesadaran Melindungi Kulit Sudah Diikuti Cara Pakai yang Tepat?

Tekstur ringan dan harga terjangkau menjadi pertimbangan pengguna. Namun, kebiasaan mengaplikasikan ulang sunscreen masih menjadi tantangan.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 10:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi hari kerap dimulai dengan rangkaian kecil di depan cermin. Wajah dibersihkan, pelembap diratakan, lalu sunscreen dioleskan sebelum beranjak menjalani aktivitas.

Bagi sebagian orang, langkah ini sudah menjadi kebiasaan yang nyaris otomatis. Produk pelindung matahari pun semakin mudah dijumpai, hadir dalam beragam tekstur, kemasan, serta klaim yang menjanjikan kenyamanan sepanjang hari.

Sunscreen tak lagi sekadar pelengkap di rak perawatan kulit. Kesadaran akan pentingnya melindungi kulit dari paparan sinar matahari ikut mendorong produk ini masuk ke rutinitas harian.

Meski begitu, kebiasaan memakai sunscreen belum tentu berjalan beriringan dengan pemahaman tentang cara menggunakannya secara tepat. Ada jarak antara mengoleskan produk sebelum keluar rumah dan menjaga perlindungan kulit sepanjang beraktivitas.

"Paparan sinar ultraviolet dapat memicu pembentukan radikal bebas yang merusak DNA, kolagen, dan elastin kulit," jelas dr. Arini Widodo, dokter spesialis dermatologi dan estetik, pada Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 16 Oktober 2026.

Dampak paparan matahari tidak selalu terlihat seketika. Kerusakan dapat terakumulasi dari waktu ke waktu, memengaruhi elastisitas kulit, serta berkontribusi terhadap munculnya tanda-tanda penuaan dini.

Gambaran kebiasaan pengguna terlihat dalam survei internal terhadap 191 anggota komunitas KapanLagi Youniverse berusia sekitar 20–40 tahun. Survei ini menggali kebiasaan menggunakan sunscreen, pertimbangan saat memilih produk, serta alasan perlindungan matahari dianggap penting.

Hasilnya memberikan gambaran tentang perilaku para responden, termasuk tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga konsistensi pemakaian. Lupa mengaplikasikan ulang menjadi salah satu kendala dalam rutinitas sehari-hari.

 

Pertimbangan Memilih Sunscreen

Sebagian orang merasa perlindungan tambahan tidak terlalu diperlukan ketika berada di dalam ruangan. Bagi pengguna makeup, mengulang pemakaian juga bisa terasa merepotkan karena dikhawatirkan mengubah tampilan riasan.

Tekstur yang lengket atau terasa berat menambah pertimbangan, terutama ketika wajah mudah berkeringat. Pilihan sunscreen turut dipengaruhi oleh kenyamanan dan harga.

Formula yang ringan, mudah diratakan, serta sesuai dengan kondisi kulit menjadi pertimbangan saat menentukan produk. Tingkat perlindungan, kandungan, dan reputasi merek juga dapat memengaruhi keputusan pembelian. Produk yang cocok dengan kebutuhan pengguna berpotensi lebih mudah dipertahankan dalam rutinitas sehari-hari.

Tantangan menjaga kesehatan kulit semakin kompleks ketika paparan sinar matahari berlangsung bersamaan dengan kondisi lingkungan yang kurang bersahabat. Menurut dr. Arini, panas dapat memicu keringat dan kemerahan, sementara udara kering meningkatkan kehilangan air dari kulit.

Paparan Polusi

Polusi juga berpotensi memperbesar stres oksidatif dan peradangan. Kombinasi paparan tersebut dapat berkontribusi terhadap iritasi, kulit kusam, dan perubahan pigmentasi.

Pemilihan sunscreen perlu mempertimbangkan tingkat paparan dan kebutuhan kulit. Produk berspektrum luas dengan SPF minimal 30 dapat menjadi perlindungan dasar sehari-hari.

Saat indeks UV tinggi atau aktivitas lebih banyak dilakukan di luar ruangan, SPF 50 atau lebih, perlindungan UVA tinggi seperti PA++++, serta formula tahan air dapat dipertimbangkan. Kulit yang rentan berjerawat dapat memilih produk nonkomedogenik, sedangkan kulit sensitif mungkin lebih nyaman dengan formula tanpa pewangi.

"Sunscreen perlu diaplikasikan kembali sekitar setiap dua jam saat beraktivitas di luar ruangan, serta setelah berenang, berkeringat, atau mengusap wajah," ujar dokter lulusan Harvard Medical School tersebut.

 

Tak Hanya tentang Pakai Sunscreen

Perlindungan kulit tidak berhenti pada pemakaian sunscreen. Petunjuk pada kemasan tetap perlu diperhatikan, termasuk untuk produk tahan air. Debu yang menempel di wajah tidak serta-merta menonaktifkan sunscreen, tapi mengusap kulit untuk membersihkannya dapat mengganggu lapisan pelindung yang sudah diaplikasikan.

Perawatan kulit dapat dilengkapi dengan pembersih lembut dan pelembap yang mengandung gliserin atau ceramide untuk menjaga kelembapan. Antioksidan topikal, seperti vitamin C dan E, juga bisa menjadi pelengkap, meski tidak menggantikan fungsi sunscreen.

Klaim anti-pollution pada produk pun bukan pengganti perlindungan terhadap sinar ultraviolet. Untuk mengurangi paparan, dr. Arini menyarankan perlindungan tambahan melalui topi, pakaian pelindung, kacamata hitam, dan tempat teduh.

Langkah-langkah ini membantu menjaga kulit dari paparan lingkungan yang tidak dapat diatasi sunscreen seorang diri.