Kronologi Bocah 13 Tahun Meninggal Setelah Makan Mi Instan Mentah

Remaja laki-laki itu sempat mengeluh sakit perut parah, tubuh berkeringat, serta muntah berulang setelah makan dua bungkus mi instan mentah.

Diterbitkan 29 Agustus 2025, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang remaja laki-laki berusia 13 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah mengonsumsi tiga bungkus mi instan mentah. Remaja yang tidak disebutkan namanya itu berasal dari Kairo, Mesir. Ia tiba-tiba merasa tidak enak badan sekitar setengah jam setelah makan mi kering tersebut tanpa dimasak terlebih dahulu.

Tidak lama kemudian, ia mengeluhkan gejala yang cukup serius, mulai dari sakit perut parah, tubuh berkeringat, hingga muntah berulang. Kondisinya memburuk dengan cepat sebelum meninggal dunia tidak lama setelah itu.

Mengutip Daily Mail, Kamis, 28 Agustus 2025, pihak berwenang setempat awalnya sempat memeriksa penjual yang menjual ketiga bungkus mi instan itu. Pemeriksaan dilakukan karena muncul kekhawatiran bahwa produk yang dijual mungkin tidak memenuhi standar keamanan makanan.

Namun setelah dilakukan pengujian pada produk dan autopsi terhadap korban, hasilnya menunjukkan bahwa penyebab kematian bukanlah keracunan makanan. Hasil penyelidikan menyebutkan, remaja tersebut meninggal karena masalah usus akut pada sistem pencernaan. Kondisi itu dipicu konsumsi mi instan mentah dalam jumlah besar sekaligus.

Makanan dengan Zat Aditif

Kasus tragis ini memicu perdebatan di tingkat lokal. Banyak pihak menyoroti perlunya protokol yang lebih ketat terkait makanan olahan, termasuk kandungan zat aditif di dalamnya, agar kejadian serupa bisa dicegah di masa depan.

Makanan yang mengandung zat aditif, seperti keripik dan permen, telah dikritik selama beberapa dekade karena risikonya. Puluhan penelitian juga telah mengaitkan konsumsi makanan dengan zat tambahan tersebut dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari diabetes tipe 2 hingga penyakit serius lain.

Tidak hanya itu, mengonsumsi mi instan mentah dalam jumlah banyak juga ikut jadi sorotan, terutama karena kebiasaan ini sempat populer sebagai camilan tanpa dimasak. Tren memakan mi instan mentah sendiri bahkan telah berubah jadi sebuah "tantangan" di media sosial selama bertahun-tahun.

Kandungan Mi Instan

Mengonsumsi mi instan mentah dikhawatirkan dapat menimbulkan dehidrasi parah dan penyumbatan usus, kondisi yang berpotensi fatal bila tidak segera ditangani. Para ahli juga memperingatkan, dampak buruk tidak hanya datang dari mi instan mentah itu sendiri, tapi juga kandungan di dalamnya.

Satu bungkus mi instan umumnya mengandung hingga 1.330 miligram (mg) natrium. Angka ini tergolong tinggi, terlebih bila dibandingkan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan batas konsumsi harian hanya sampai dua ribu mg natrium.

Jika dikonsumsi berlebihan, asupan natrium yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Sebuah studi terbaru oleh para peneliti di Korea Selatan menemukan, konsumsi mi instan yang sering, lebih dari dua kali seminggu, dikaitkan dengan risiko sindrom metabolik yang lebih tinggi.

Korban Kematian Mendadak Lainnya

Profesor Lauren Ball dari University of Queensland dan Dr. Emily Burch dari Southern Cross University, Australia, juga mengatakan, "Seiring waktu, asupan natrium yang tinggi dapat membebani jantung dan ginjal."

Mereka juga memperingatkan, sering mengonsumsi mi instan dapat memengaruhi sistem pencernaan Anda. "Karena terbuat dari gandum olahan (bukan gandum utuh), mi instan biasanya tidak mengandung banyak serat. Serat makanan penting untuk membantu menjaga pencernaan Anda tetap teratur dan mendukung kesehatan usus."

Kematian mendadak serupa terjadi ketika seorang pria memakan semangkuk pasta yang dipanaskan ulang. Mengutip The Sun, AJ (20) mengalami gejala sakit kepala, sakit perut, dan beberapa kali muntah.

Autopsi kemudian mengungkap bahwa ia diduga mengalami keracunan makanan akibat bakteri Bacillus cereus. Bakteri tersebut menyebar ke pasta setelah dibiarkan pada suhu ruangan selama beberapa hari sebelum dikonsumsi.