Sukses

Cerita Akhir Pekan: Kolintang Menuju Pencatatan Warisan Budaya Dunia UNESCO

Liputan6.com, Jakarta - Kolintang adalah salah satu alat musik tradisional dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar kayu. Sekilas kolintang ini hampir sama dengan alat musik gambang dari Jawa, namun yang membedakan adalah nada yang dihasilkan lebih lengkap dan cara memainkannya sedikit berbeda.

Melansir laman resmi Kemdikbud, kolintang dapat dibuat dari jenis kayu telur, bandaran, wenang, kakinik. Namun, bisa juga jenis kayu lain yang ringan tetapi bertekstur padat dan serat kayunya tersusun rapi membentuk garis-garis horizontal.

Kata kolintang berasal dari bunyi: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada tengah). Dahulu dalam bahasa daerah Minahasa digunakan untuk mengajak orang bermain kolintang "mari kita ber-Tong, Ting, Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul kolintang.

Meski alat musik tradisional ini berbahan dasar kayu, tapi jika dipukul akan menghasilkan bunyi-bunyi yang nyaring dan merdu. Bunyi yang dihasilkan bisa mencapai nada-nada tinggi maupun rendah.

Musik kolintang ini sangat dikenal di Minahasa bahkan di seluruh Indonesia dan sampai di luar negeri. Kolintang dimainkan pada acara kegembiraan seperti Hari Ulang Tahun Provinsi, kabupaten, kotamadya sampai tingkat kelurahan, acara pesta, syukuran, penyambutan tamu, dan sebagainya.

Usulan agar menjadikan kolintang sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) pun sudah mengemuka sejak beberapa tahun lalu. Pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek), sudah merintis jalan untuk mengajukan kolintang ke UNESCO dan sejauh ini mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan kita perlu mendukung event musik internasional. Dukungan tersebut salah satunya agar kolintang bisa mendunia jadi warisan budaya UNESCO.

"Kolintang merupakan salah satu alat musik warisan budaya asli Indonesia dari Provinsi Sulawesi Utara. Oleh karena itu, saat ini kami akan gerak cepat memastikan Kolintang diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO," kata Sandiaga melalui akun Instagram pribadinya, Jumat, 18 Februari 2022.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Dwiki Dharmawan Bikin Album Kolintang

Dukungan juga datang dari musisi senior Dwiki Dharmawan. Salah seorang personel band Krakatau ini ternyata sangat concern terhadap kolintang bahkan pernah membuat karya dengan menggandeng pemain kolintang.

Lalu, apa yang membuat Dwiki tertarik dengan alat musik kolintang?  "Awalnya karena sangat mirip dengan Balafon (alat musik pukul berbahan kayu dan bambu) dan Marimba (alat musik perkusi berbahan kayu dan resonator pipa) sehingga lama lama saya jatuh cinta dengan alat musik tradisional ini," ungkapnya pada Liputan6.com, Sabtu, 11 Maret 2023.

"Karena itu saya sampai membuat album Duo Kolintang: The Sounds from Minahasa (2021) bersama pemain kolintang milenial Ferdinand Soputan," lanjutnya. Dwiki mengatakan mendapat dorongan dan dukungan dari Penny Marsetio Ketua Umum Pinkan (Persatuan Insan Kolintang Nasional) yang mempertemukan dirinya dengan Ferdinand.

Keduanya mengeksplorasi unsur ritmis, harmoni dan melodi, memberi sentuhan jazzy serta pembaharuan dalam aransemen musik kolintang yang dikolaborasikan dengan piano. Menurut Dwiki hal itu bisa dilakukan karena kolintang adalah alat musik yang terbuka

"Kami (Duo Kolintang) sudah membuat single, album serta tampil pada side event G20 di tahun lalu. Sekarang ini sedang persiapan untuk tampil di beberapa negara," terangnya.

3 dari 4 halaman

Kolintang Tak Hanya di Indonesia

Dwiki mengaku sangat mendukung pengajuan kolintang sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO.  "Saya sebagai pendukung dan pemerhati saja. Jadi saya memberikan dukungan moral dan juga sedikit dukungan support semangat karena saya pikir sangat layak sekali Kolintang mendapat pengskuan UNESCO," tutur suami dari penyanyi Ita Purnamasari ini.

"Menurut Kemdikbud, Kolintang diajukan ke UNESCO bersama beberapa negara yaitu Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading. Kenapa harus dengan 3 negara itu dan kenapa kita tidak megajukan sendiri saja? karena mnggunakan pola ekstensi," jelas Dwiki.

Pola ekstensi ditempuh karena menurut pandangan UNESCO budaya musik kolintang yang beragam, terdapat di beberapa negara termasuk Indonesia, dan bagi UNESCO hal ini menjadi prioritas merekaMeski begitu, upaya ini tidak kemudian meninggalkan originalitas dari musik kolintang yaitu kolintang kayu.

Dengan diajukannya kolintang sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO, Dwiki Dharmawan berharap alat musik tradisional Indonesia ini lebih lestari, lebih berkembang, lebih maju, dan tentunya kalau sudah diakui dunia bisa semakin memperkuat ketahanan bangsa.

 

4 dari 4 halaman

Target Pengajuan ke UNESCO

Selain angklung dan kemudian sekarang kolintang, alat musik tradisional Indonesia lainnya yang menurut Dwiki pantas diajukan ke UNESCO adalah gamelan. "Saya rasa Gordang Sambilan (alat musik semacam gendang dan beduk) dari Sumatera Utara juga sangat layak diajukan ke UNESCO," tutupnya.

Sejauh ini, upaya pemerintah melalui Kemdikbudristek untuk mengajukan kolintang ke UNESCO bersama tiga negara lainnya yaitu Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading sudah hampir mendekati tahap akhir.

"Pemerintah Indonesia masih menunggu surat resmi dari Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading yang menyatakan mereka tidak keberatan dgn rencana ekstensi Balofon-Kolintang," terang Anton Wibisono selaku Pamong Budaya Ahli Muda dari Direktorat Pelindungan Kebudayaan Kemenbudristek pada Liputan6.com, 9 Maret 2023.

"Sejauh ini, Mali dan Pantai Gading sudah mengirimkan surat persetujuan sementara dari Burkina Faso belum ada. Naskah nominasi Kolintang pun sudah disiapkan oleh komunitas," sambung Anton Wibisono. Ia menambahkan, targetnya pada akhir Maret 2023 ini segala persyaratan untuk pengajuan bersama ke UNESCO sudah lengkap dan siap untuk diajukan sebagai warisan budaya tak benda.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.