Sukses

Inovasi Permen Halloween yang Diklaim Tidak Akan Jadi Sampah Makanan

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan Halloween di berbagai negara di dunia telah begitu identik dengan permen. Tapi, gagasan mengumpulkan dan memakan sekantong permen trick-or-treat jadi sedikit menakutkan ketika Anda memikirkan dampaknya.

Melansir CNN, Selasa, 25 Oktober 2022, tidak hanya sebagian besar makanan favorit Halloween tidak baik untuk kesehatan anak-anak, tapi juga banyak bahan permen yang bersumber melalui proses yang membahayakan Bumi. Kakao sering ditanam di hutan hujan yang telah ditebang habis untuk pertanian, misalnya.

Lalu, produksi tebu yang tidak berkelanjutan juga dapat memancarkan sejumlah besar gas CO2. Selain itu, ada kemungkinan permen terbuang sia-sia setelahnya alias menimbulkan sampah makanan.

Tapi, Amy Keller mengaku punya solusi manis. Keller adalah anggota keluarga Spangler Candy, perusahaan di balik suguhan ikonis di Amerika Serikat (AS), seperti Dum Dums Lollipops. Ia melakukan putaran baru pada bisnis keluarga dengan mencoba memperhatikan nutrisi anak-anak, limbah makanan global, dan krisis iklim dengan Climate Candy.

Permen FAVES nabati yang kenyal mengandung 96 persen buah dan sayuran, termasuk jus apel, berbagai ekstrak buah murni, bubuk ubi jalar, tepung beras, dan banyak lagi. Setiap bungkus FAVES berisi empat porsi buah dan sayuran yang seharusnya terbuang sia-sia di pertanian dan toko kelontong, kata perusahaan itu.

Bahan-bahannya termasuk wortel, bit, ubi jalar, labu dan labu, semua makanan super bergizi. Produk permen Halloween ini kemudian hadir dalam rasa, seperti ceri, jeruk, lemon, dan stroberi.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Terjangkau dan Mudah Diakses

Keller, salah satu pendiri dan CEO PurePlus, mengatakan pada CNN, "Makanan adalah bahan bakar. Bagi saya, membangun sesuatu seperti Climate Candy adalah sesuatu yang terjangkau dan mudah diakses. Anda bisa masuk ke ambang pintu, ke dalam rumah tangga, dan membuat orang berbicara tentang iklim dengan cara yang sangat menyenangkan."

Sekitar sepertiga dari semua makanan terbuang secara global, menurut Project Drawdown. Tercatat pula bahwa limbah makanan menyumbang sekitar delapan persen dari emisi gas rumah kaca global.

Pasalnya, makanan yang terbuang, baik dari rak bahan makanan, sisa restoran, atau makanan yang mudah rusak yang terlupakan di lemari es, akhirnya berakhir di tempat pembuangan sampah. Itu menghasilkan metana, gas yang tidak terlihat dan tidak berbau dengan daya pemanasan lebih dari 80 kali lipat daripada karbon dioksida.

Keller mengatakan, Climate Candy menawarkan solusi untuk masalah limbah makanan karena bahan-bahan pilihan perusahaannya. Buah dan sayuran dengan tampilan terbaik biasanya berakhir di toko bahan makanan. Mereka adalah bentuk dan dimensi yang tepat untuk dijual di toko dan sesuai ide konsumen tentang seperti apa seharusnya buah dan sayuran.

3 dari 4 halaman

Produk Tingkat 2

Namun demikian, ada produk tingkat kedua "yang akhirnya tidak dipanen, dikembalikan ke tanah, atau dikirim ke pakan ternak atau tempat pembuangan sampah," kata Keller, yang juga berkarier di bidang lingkungan dan kesehatan. "Ini adalah buah dan sayuran yang sangat baik (secara nutrisi)."

Climate Candy menjaga sedikit dari hasil yang terbuang dan mengubahnya jadi sesuatu yang memiliki umur simpan lebih lama. "Ada lebih dari cukup untuk dijual," kata Keller tentang produk yang terbuang. "Tidak ada bank makanan yang bisa mengimbangi karena itu mudah rusak."

Mendekati Halloween, Keller mengatakan Climate Candy akan jadi tambahan yang berharga untuk tas trick-or-treat. Tapi, ia juga membayangkan camilan itu sebagai alternatif yang sehat untuk permen tradisional sepanjang tahun.

"Halloween akan datang dan semua orang akan mengambil makanan ringan apapun, dan itu adalah satu hari untuk Anda memanjakan diri," kata Keller. "Apa yang kami katakan adalah, coba tebak, 364 hari lain dalam setahun (bisa makan makanan ringan yang manis)? Ini bisa jadi camilan alternatif bagi pecinta makanan manis."

4 dari 4 halaman

Sampah Makanan di Indonesia

Di Indonesia, melansir kanal Global Liputan6.com, Badan Pangan Nasional (NFA) telah jadi salah satu yang menyoroti fenomena pemborosan pangan akibat menumpuknya jumlah sampah makanan. Kepala NFA, Arief Prasetyo Adi mengatakan, secara global sekitar 1,3 miliar ton sampah makanan terbuang setiap tahun.

Menurut data Economist Intelligence Unit, Indonesia merupakan penyumbang sampah makanan terbesar kedua dunia. Jumlah sampah makanan tersebut berdampak besar terhadap ekonomi, berupa produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga mencapai Rp551 triliun per tahun.

"Menurut kajian Bappenas, food loss and waste di Indonesia tahun 2000--2019 berkisar 23-48 juta ton per tahun, setara dengan 115--184 kg per kapita per tahun," ujar Arief. "Yang berarti, masing-masing dari kita menyumbang lebih dari satu kwintal sampah pangan per tahun."

"Hal itu berdampak pada kerugian ekonomi kurang lebih sebesar Rp213-551 triliun per tahun," imbuhnya. Padahal, Arief menambahkan, potensi food loss and waste tersebut seharusnya dapat disalurkan untuk memberi makan 61--125 juta orang, atau sekitar 29--47 persen populasi Indonesia.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS