Sukses

Efek Nonton Film Porno Seperti Jefri Nichol

Liputan6.com, Jakarta - Jefri Nichol mengungkapkan bahwa dia suka menonton film porno. Ia biasa menontonnya saat kesulitan tidur atau sedang banyak pikiran.

Pengakuan tersebut disampaikannya saat menjadi bintang tamu di Podcast YouTube Denny Sumargo. Jefri mengatakan usai menonton film porno, ia bisa tidur nyenyak.

"Kalau susah tidur memang gue nonton bokep dan nggak setiap hari. Kalau susah tidur dan banyak pikiran aja," ungkap Jefri Nichol. "Gue nggak kecanduan," kata dia.

Faktanya, film porno bisa membuat seseorang kecanduan. Definisi kecanduan ini lebih dari sekadar minat yang kuat pada sesuatu. Ini adalah kondisi medis yang mengubah otak dan tubuh dan menyebabkan orang tersebut merasa terdorong untuk terus menggunakan zat atau mengambil bagian dalam suatu aktivitas, bahkan ketika melakukannya dapat menyebabkan bahaya, seperti dilansir dari Medical News Today, Rabu (18/5/2022).

Sebagian besar penelitian tentang kecanduan menunjukkan bahwa itu mengaktifkan daerah di otak yang terkait dengan motivasi dan pengakuan. Secara khusus, kecanduan mengubah sistem dopamin tubuh.  Di dalam tubuh, hormon dopamin dikenal sebagai neurotransmiter, yaitu senyawa kimia yang berperan sebagai penghantar stimulus pesan berupa rangsangan ke sel saraf, baik di otak maupun di otot.

Menggunakan pornografi juga dapat mengaktifkan sistem dopamin, yang berpotensi menyebabkan kecanduan. Kecanduan juga mempengaruhi aspek lain dari otak, terus mengubahnya, dan membuat orang tersebut semakin sulit untuk menghindari zat atau perilaku adiktif.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Penelitan

Sebuah studi pada 2017 tentang pria yang mencari pengobatan untuk penggunaan pornografi bermasalah (PPU) menemukan perubahan kondisi otak peserta yang mengalami kecanduan. Para peneliti menemukan bahwa otak pria dengan PPU bereaksi berbeda terhadap gambar erotis – atau antisipasi mereka – dibandingkan otak pria tanpa PPU.

Penggunaan pornografi juga dapat memengaruhi hubungan antar-manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pornografi menciptakan ekspektasi seks yang tidak realistis.

Sebuah studi 2013 menemukan bahwa di antara peserta laki-laki heteroseksual dalam pasangan, penggunaan pornografi dikaitkan dengan kepuasan seksual yang lebih sedikit. Hal sebaliknya berlaku untuk peserta wanita — pornografi dikaitkan dengan kepuasan seksual yang lebih besar.

Mengakses pornografi itu mudah, dan membutuhkan usaha yang jauh lebih sedikit daripada berinteraksi dengan pasangan. Bagi sebagian orang, pornografi dapat berkontribusi pada siklus yang tidak sehat dan menyebabkan masalah dalam suatu hubungan, membuat orang tersebut semakin bergantung pada pornografi untuk mencapai kepuasan seksual dan menghindari hubungan yang nyata.

3 dari 4 halaman

Tak Semua Adiktif

Tidak semua penelitian mendukung gagasan bahwa pornografi itu adiktif. Sebuah studi pada 2014 menekankan bahwa banyak penelitian tentang kecanduan pornografi telah dirancang dengan buruk atau bias. Para penulis mengingatkan bahwa sedikit bukti yang mendukung hubungan sebab akibat antara penggunaan pornografi dan efek berbahayanya.

Sebuah studi pada 2015 menemukan bahwa, di antara peserta yang melaporkan melihat rangsangan seksual visual yang berlebihan atau bermasalah, jalur kecanduan otak yang biasa tidak ada. Pada kecanduan standar, otak menunjukkan peningkatan aktivitas saat terpapar zat adiktif, tetapi partisipan yang bersangkutan malah menunjukkan penurunan aktivitas otak saat melihat rangsangan. Ini menunjukkan bahwa model kecanduan yang khas mungkin tidak berlaku.

Asosiasi Pendidik, Konselor, dan Terapis Seksualitas Amerika (AASECT) berpendapat bahwa hanya ada sedikit bukti bahwa seks atau pornografi membuat ketagihan. Mereka juga berargumen gagasan kecanduan pornografi berakar pada norma budaya yang sudah ketinggalan zaman dan berpotensi berbahaya.

Menreka menyebut beberapa orang yang mengklaim bahwa pornografi adalah adiktif, mungkin menentang keberadaannya sama sekali atau memiliki gagasan yang sangat kaku tentang seksualitas yang sehat. Misalnya, mereka mungkin percaya bahwa hubungan heteroseksual monogami adalah satu-satunya jalan keluar seksual yang sesuai.

4 dari 4 halaman

Penyebab Kecanduan Pornografi

Gagasan kecanduan pornografi masih kontroversi, karena para peneliti belum mengidentifikasi penyebab yang jelas. Sebuah studi pada 2015 menemukan bahwa mempercayai diri sendiri untuk kecanduan pornografi, bukan penggunaan pornografi yang sebenarnya, adalah penyebab yang lebih signifikan.

Gagasan kecanduan pornografi ada bisa menjadi penyebab utama kecemasan yang dialami beberapa orang saat menonton film porno.

Sementara itu, para ahli dan pendukung keberadaan kecanduan pornografi berpendapat bahwa, seperti kecanduan lainnya, ini adalah masalah yang kompleks dengan berbagai kemungkinan penyebabnya. Beberapa penyebab ini mungkin, termasuk, seseorang mungkin menggunakan pornografi untuk menghindari tekanan psikologis.

Pornografi bisa menjadi jalan keluar untuk ketidakpuasan seksual. Gagasan tentang bagaimana orang seharusnya berpenampilan dan berperilaku saat berhubungan seks, jenis seks yang harus dinikmati seseorang, dan norma serupa dapat menarik beberapa orang ke pornografi. Selain itu, faktor biologis tertentu, termasuk perubahan kimia otak ketika seseorang melihat film porno, dapat meningkatkan risiko kecanduan.