Sukses

6 Fakta Menarik Kabupaten Karangasem yang Berjuluk Mutiara dari Timur Bali

Liputan6.com, Jakarta - Karangasem, salah satu kabupaten yang posisinya paling timur Provinsi Bali. Ibu kota kabupaten ini bernama di Amlapura. Wilayah kabupaten berbatasan dengan Selat Lombok di sebelah timur, Samudera Indonesia di sebelah selatan, Laut Jawa di sebelah utara, serta Kabupaten Klungkung, Bangli, dan Buleleng di sebelah barat.

Kabupaten Karangasem memiliki luas 839,24 kilometer persegi. Wilayahnya terbagi atas delapan kecamatan, yaitu Rendang, Sidemen, Manggis, Karangasem, Abang, Bebandem, Selat, dan Kubu.

Pada 2020, jumlah penduduk Karangasem mencapai 492.400 jiwa. Kabupaten ini dijuluki sebagai Mutiara dari Timur yang diharapkan dapat menjadi daerah pertumbuhan baru di Bali, khususnya dalam hal pariwisata, industri kecil, potensi lahan kering, serta tambang emas hitam. Simak enak fakta menarik dari Kabupaten Karangasem yang sudah dirangkum oleh Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Puri Agung Karangasem

Puri Agung Karangasem berada di pusat kota Amlapura, sekitar lima kilometer dari Taman Soekasada Ujung. Daya tarik puri ini terletak pada kemegahan arsitektur yang memadukan unsur Indonesia, Belanda, dan China.

Puri ini terdiri dari tiga bagian area. Bagian depan atau pintu masuk disebut sebagai bencingah, tempat diadakannya pertunjukan kesenian tradisional. Sementara, sisi sebelah kanan dan kiri digunakan untuk tempat menerima tamu.

Kerajaan Karangasem berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, dengan raja yang berkuasa saat itu I Dewa Karangamla. I Dewa Karangamla menikahi janda I Gusti Arya Batanjeruk, dengan syarat anak dari Batanjeruk harus menjadi penguasa.

I Gusti Arya menepati janji tersebut dan memberikan kekuasaannya pada putra Batanjeruk. Hal ini menandakan dimulainya kekuasaan Kerajaan Karangasem dari Dinasti Batanjeruk.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

2. Taman Ujung Soekasada

Taman Ujung Soekasada merupakan sisa reruntuhan dari kompleks istana milik Kerajaan Karangasem. Pembangunan istana ini dimulai dari 1901 dan selesai pada 1921. Gempa bumi yang terjadi pada 1979 di Bali menghancurkan istana ini.

Dahulu, tempat ini bernama Kolam Dirah, yang berarti kolam tempat pembuangan bagi orang yang memiliki ilmu hitam. Pendirinya adalah Raja Karangasem, I Gusti Bagus Jelantik yang bergelar Agung Anglurah Ketut Karangasem.

Pada 1909, Raja Karangasem memerintahkan arsitektur Belanda, Van Den Hentz, dan Tiongkok, Loto Ang, dibantu dengan arsitek lokal dari Kerajaan Karangasem, untuk mengembangkan Kolam Dirah menjadi tempat istirahat Raja Karangasem. Pengembangan kolam ini menghasilkan perpaduan tiga arsitektur, yakni Bali, Belanda, dan Cina.

3. Pura Lempuyang Luhur

Pura Lempuyang Luhur berada di Kecamatan Abang yang merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Pura yang berlatar panorama Gunung Agung ini dikelilingi oleh hutan. Wisatawan yang menyukai trekking dapat melalui jalur pendakian menuju puncak.

Tersedia pula jalur yang biasa digunakan oleh umat Hindu untuk jalur bersembahyang dengan menggunakan tangga berundak. Tempat pertama yang dapat dikunjungi yaitu Pura Lempuyang Madya.

4. Pura Agung Besakih

Pura Agung Besakih berada di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, berada di lereng sebelah barat daya Gunung Agung. Pura Agung Besakih juga disebut sebagai Hulundang Basukih, yang kemudian berkembang menjadi Desa Besakih.

Nama Besakih berasal dari Bahasa Sansekerta, Wasuki, yang berarti selamat. Penamannya didasari oleh mitologi Naga. Pada lokasi pura ini terdapat banyak peninggalan zaman megalitik, antara lain menhir dan tahta batu.

 

 

3 dari 4 halaman

5. Tulamben

Tulamben merupakan sebuah desa yang berkembang menjadi objek wisata dengan potensi laut. Desa Tulamben terletak di Kecamatan Kubu, sekitar 25 kilometer dari Kota Amlapura dan berada di kaki Gunung Agung.

Laut yang berada di Tulamben biasa dijadikan snorkeling atau diving. Selain itu, Tulamben sebagai tempat para pendaki gunung untuk menjelajah Gunung Agung.

Pantai yang terdapat di desa ini tidak berpasir putih, tetapi berupa batuan sungai dengan bentuk yang bervariasi. Kondisi pantainya pun tidak terlalu panas karena dikelilingi oleh banyak pepohonan.

6. Nasi Sela

Nasi Sela dulunya merupakan makanan bertahan sewaktu krisis dan menjadi hidangan yang lezat. Isinya nasi putih dengan cacahan ubi kecil. Pada 1970-an, nasi ini sempat populer di Bali karena kelangkaan beras. Nasi ini juga banyak digemari wisatawan. Nasi ini juga kerap dicampur dengan berbagai macam sayur/lauk, antara lain udang kecil, ayam betutu, dan sate kulit ayam. (Gabriella Ajeng Larasati)

4 dari 4 halaman

Bali Siap Sambut Wisatawan Mancanegara