Sukses

Warung Angkringan Buka di Persawahan demi Hindari Razia Petugas Selama PPKM

Liputan6.com, Jakarta - Di masa PPKM Darurat yang sekarang menjadi PPKM Level 3 dan 4, sejumlah kegiatan masyarakat dibatasi. Begitu pula dengan para penjual makanan yang biasa membuka lapak di pinggir jalan atau di trotoar. Sebelum ada pandemi Covid-19, mereka bisa leluasa berdagang, kini aktivitas jual beli itu serba dibatasi.

Agar dapur bisa tetap ngebul, para pedagang makanan, termasuk warung angkringan harus putar otak. Kalau tidak mematuhi aturan selama PPKM maupun pandemi, tempat usaha bisa didatangi petugas keamanan dan diminta untuk tutup atau bahkan disegel.

Mereka pun harus melakukan beragam cara kreatif untuk tetap bisa berjualan. Hal itu juga dilakukan oleh warung angkringan yang berlokasi di dekat Monumen Tugu Garuda, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Angkringan yang dikenal dengan nama Bakoel Kopi Tjap Kebang ini merasakan sulitnya menjalankan usaha di tengah masa pandemi ini. Untuk itu, mereka berinisiatif mencari tempat yang jauh dari jangkauan aparat.

Di masa PPKM, dia memutuskan berjualan di tengah areal persawahan. Lokasi yang dipilih untuk berjualan di areal persawahan yang ada di Desa Semanding, Kecamatan Pare. 

Unggahan di grup Facebook "Kuliner Pare dan sekitarnya" ini ternyata mendapat tanggapan dari sejumlah warganet. Akun @Dhuta Parreza menanyakan, lokasi sawah yang dipilih oleh pemilik usaha tersebut. 

"jl. Walet 3 mentok belok kanan sitek," jawab si pengunggah. Beberapa warganet lainnya mengingatkan untuk tidak membagikan di media sosial. 

Saksikan Video Pilihan Berikut:

2 dari 4 halaman

Bisa Pindah Tempat Lagi

Mereka khawatir, angkringan ini kembali didatangi petugas. Namun sepertinya si pemilik usaha sudah pasrah kalau memang kembali harus berhadapan dengan petugas. Selain Facebook, ia juga membagikan informasi tersebut di akun Instagram @bakoel_kopi_pare.

Dari video singkat yang dibagikan pada 6 Juli 2021, terlihat pemilik usaha menggunakan mobil untuk tempatnya berjualan. Dia juga menggelar beberapa tikar sebagai tempat lesehan.

Kalau dibandingkan dengan lesehan di trotoar, menikmati makanan maupun menyeruput kopi di tengah sawah sepertinya lebih syahdu. Namun, ia tidak mengungkapkan apakah kedainya ramai didatangi pengunjung atau justru semakin sepi. Yang jelas, dalam unggahan tersebut dituliskan kalau lokasi warung angkringan tersebut bisa saja berpindah ke tempat lain.

3 dari 4 halaman

Kopi Gratis

Situasi hampir serupa dialami sebuah kedai kopi di Jepara, Rumah Seduh Jepara. Namun mereka punya cara tersendiri untuk berbagi. Bila biasanya berbagi kepada orang yang membutuhkan, Albani, pemilik kedai kopi itu justru memberikannya kepada para petugas patroli PPKM Darurat di wilayah Kota Jepara.

Banyak orang menganggap aturan PPKM Darurat sudah tidak masuk akal, tapi bagi Albani, pihaknya tetap mematuhi aturan. Misalnya, ia menggunakan masker, takeaway, dan tutup lebih awal.

"Seperti yang saya ditulis di Instagram, entah ini sarkasme atau apa. Artinya, daripada dagangan kita nggak laku, mending kopi ini untuk mereka yang sedang patroli saja," kata lelaki yang akrab disapa Al ini. "Saya sendiri sudah merumahkan dua orang staf sejak pandemi. Ya, jadi saya jualan sendiri sekarang yang awalnya dibantu oleh dua orang," sambung Al.

Albani didukung teman-temannya untuk program kopi gratis itu. Untuk sementara, ia memperkirakan akan memberikan 70 cup kopi, jumlah tersebut tentu akan bertambah terus.

Ia mengatakan kegiatannya untuk memberi kopi gratis kepada para petugas patroli di Kota Jepara akan berlangsung hingga PPKM Darurat berakhir.  Ini bentuk kepedulian Al dan teman-temannya yang juga pelaku kopi untuk mereka yang berpatroli. Al berharap pandemi bisa segera berakhir dan ada solusi bagi para pelaku kopi. 

4 dari 4 halaman

Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19