Sukses

Cerita Akhir Pekan: Mengintip Isi Warteg Kharisma Bahari

Liputan6.com, Jakarta - Citra warteg yang cenderung kumuh dan jorok mulai terkikis dengan hadirnya Warteg Kharisma Bahari (WKB). Beberapa tahun belakangan ratusan WKB tersebar di berbagai tempat, salah satunya di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur.

Fransiskus Pascaries (Aries) merupakan investor WKB di tempat itu. Bersama Khadirin dan tiga orang karyawan, ia menjalankan roda warteg yang akan genap berusia setahun pada 18 November 2019.

"Saya awalnya pekerja kantoran yang mengharuskan pergi pagi pulang sore, berpakaian rapi. Bagi saya itu cukup membosankan sehingga akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan," kata Aries kepada Liputan6.com di Utan Kayu, Jakarta Timur, baru-baru ini.

Aries sempat bekerja di Kedubes Kolombia dan beberapa pekerjaan lain, seperti mengajar bahasa Spanyol, penerjemah. Dari hasil pekerjaannya itu, ia mengumpulkan dana untuk investasi. Ia dan istri sebagai dosen sepakat memilih menjadi salah satu investor WKB.

Setelah membaca dan bertemu dengan pendiri WKB Sayudi yang akrab disapa Yudika, Aries memutuskan untuk bergabung sebagai investor. Setelah melalui proses yang cukup cepat, sekitar dua minggu akhirnya berdiri Warteg Kharisma Bahari di Jalan Utak Kayu.

"Ya, semoga terus berkembang," harap Aries yang didampingi Khadirin, yang mengelola warteg tersebut.

2 dari 3 halaman

Menjaga Kebersihan

Warteg tersebut terbagi beberapa ruangan. Ruang makan, ruang tamu, ruang masak, dan ruang tidur. Semua tertata rapi dan disekat-sekat.  Liputan6.com dipersilakan untuk melihat tempat masak dan di bawahnya terdapat keran air yang biasa digunakan untuk mencuci.

Selain tempat memasak, kebersihan juga terlihat setiap orang makan. Karyawan selalu mengelap tempat mereka meletakkan piring dan air minum.

Warteg yang dikelola Aries dan Khadirin selalu  memperhatikan kebersihan. Kebersihan jadi hal yang sangat penting dan lampu setiap ruangan  terang.

"Itu memang konsep Kharisma Bahari. Sebagai pengelola, sebisa mungkin kami harus menjaga kebersihan. Selama ini orang di luar sana melihat warteg kami karena bersih," jelas Khadirin.

"Sebenarnya, menjaga kebersihan itu bukan hanya dalam usaha warteg, tapi juga yang lain," lanjutnya.

Sebelum WKB berkembang, agak sulit untuk mencari orang yang bersedia tanahnya dikontrak untuk warteg karena dianggapnya warteg tempat yang kumuh.

"Sekarang banyak orang yang bersedia tanahnya dikontrak oleh WKB karena mereka tahu bahwa WKB itu bersih," ucap lelaki yang akrab disapa Dirin.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Konnichiwa, Kedai Kopi di Utara Jakarta yang Tak Sediakan Meja Pengunjung
Artikel Selanjutnya
Mencicipi 5 Makanan Unik Cilegon