Sukses

Ketiga Finalis Puteri Indonesia 2018 dari Kepulauan Sumatera Ini Senang Berkegiatan Sosial

Liputan6.com, Jakarta Yayasan Puteri Indonesia (YPI) didukung penuh oleh Mustika Ratu kembali menggelar ajang tahunan Pemilihan Puteri Indonesia ke-22 tahun 2018 dengan mengangkat tema "Indonesia Inspirasiku - Pesona Tanah Pasundan - Bumi Parahyangan" yang terinspirasi dari keindahan serta kekayaan alam dan juga budaya dari Jawa Barat.

Tema tersebut dipilih untuk tahun ini dengan harapan dapat turut berkontribusi mendukung dan menumbuhkan potensi tanah air melalui remaja- Puteri Indonesia dalam membangun negeri diberbagai bidang, serta menjadi panutan bagi generasi muda untuk membangun dan mencintai bangsa.

 

Tak hanya cantik dan memiliki bakat dan pengetahuan, ketiga wanita cantik yang siap memperebutkan gelar Puteri Indonesia 2018 dan bersaing dengan finalis lainnya berbagi cerita tentang kegiatannya yang gemar berkegiatan sosial, yuk, simak!

1. NANDIYA DEVA PUSPA DEWI - Aceh

Tsunami mengajarkannya akan pentingnya berkegiatan sosial. Maka dari itu finalis asal Aceh ini mencoba memberikan kepeduliannya kepada orang yang lebih membutuhkan, melalui program #saveanaknanggroe.

Program tersebut membantu anak-anak kurang mampu dibidang pendidikan, seperti menjadi tenaga pengajar dikomunitas anak pemulung dan Thallasemia.

 

 

"Ketika saya tahu bahwa ibu dan adik saya meninggal saat tsunami membuat saya kehilangan jati diri saya, menjadi orang yang tertutup, selalu menunduk, dan menghindari untuk bertemu dan komunikasi dengan banyak orang, tapi saya bersyukur memiliki keluarga, teman, dan orang-orang yang selalu mendukung. Ayah dan ibu saya adalah inspirasi hidup saya mereka mengajarkan arti sebuah cinta, kasih sayang, ketulusan, sabar dan ikhlas menjalani roda kehidupan. Ayah saya adalah pria terhebat, dia mampu menjadi dua peran dalam hidupnya, menjadi ayah sekaligus ibu. Saya pun berharap #saveanaknanggroe terus berkembang menjadi kegiatan sosial yang lebih besar, mampu berkontributif dan memotivasi orang lain untuk lebih peduli terhadap sesama," tutur Wiwik, panggilan finalis asal Aceh ini.

 

2. YESSY FOURYANA - Kepulauan Riau

Menjadi seorang pramugari membuatnya lebih menghargai waktu dan kedisplinan. Seringnya bertemu dengan banyak orang berdampak positif pada kehidupannya yang lebih membuatnya supel, ramah, mudah beradaptasi dengan keadaan. Tak hanya itu Yessy pun aktif dalam kegiatan sosial khususnya pada alam dan lingkungan pada komunitas/organisasi peduli alam, budaya, dan lingkungan, Rumah Pohon.

Rumah Pohon “Budaya, Bumi Alam Lestari“ dimana para Musisi, Guru, Seniman dan Pecinta Alam berkumpul. Mereka membantu dan mengajarkan kepada anak muda dan anak kecil untuk mencintai alam sejak dini dengan cara salah satunya nenanami kembali hutan hutan gundul seperti menanam mangrove di sekitar danau maupun pantai seperti yang kita tau tanaman Mangrove adalah penghasil O2 lebih banyak, sebagai tempat berkembang biak dan berlindungnya hewan, abrasi tanah, penetral limbah.

 

 

"Sekarang ini dunia sedang mengalami global warming maka dari itu kita harus menjaga alam kita dengan dimulai dari hal-hal kecil seperti menghijaukan hutan-hutan yang sudah gundul dan mengumpulkan sampah. Selain itu juga saling berbagi ilmu bermain musik kepada anak-anak dan mengajar menggambar dan mewarnai. Juga memberikan pertunjukan pertunjukan atau drama yang memiliki makna yang positif dan saling berbagi ilmu pengetahuan. Saya bangga bisa menjadi bagian dari Rumah Pohon yang menjadi Inspirasiku. Cintai budaya, cintai alam dan cintai seni karena Indonesia kaya akan budaya, alam dan seninya yang menginspirasi," ungkap Yessy.

3. SHAFIRA BELLA SUKMA - Lampung

Gadis asal lampung ini salah satu perempuan yang berhasil menjadi Duta Museum Provinsi Lampung 2017. Dikenal bukan hanya prestasinya namun juga aktifnya Shafira di kegiatan sosial yang diikutinya melalui Himpunan Mahasiswa Matematika yang fokus pada kegiatan sosial di panti asuhan di provinsinya.

Sosok Noelia Garella memberikannya inspirasi untuk memberikan perhatian kepada anak – anak down syndrome yang terkumpul di Yayasan Panti Asuhan Dharmasari Lampung, Noelia Garella merupakan pemilik gangguan down syndrome pertama yang menjadi guru di Argentina.

Sangat sedikit anak down syndrome memiliki keluarga yang baik dalam segi perekonomian, sehingga mereka dapat diberikan perawatan serta perhatian khusus dengan baik. Berbanding terbalik dengan kondisi anak down syndrome yang berasal dari keluarga yang kurang mampu, kebanyakan orang tua lebih memilih untuk menitipkan atau bahkan meninggalkan anaknya di panti asuhan.

 

"Keterbatasan tenaga pengasuh dan pendidik di panti asuhan menjadi permasalahan yang krusial. Berawal dari kunjungan sosial bersama dengan rekan - rekan organisasi yang saya ikuti, kami berkomitmen untuk memberikan bantuan kepada pihak pengelola panti asuhan untuk menjadikan anak–anak panti sebagai siswa asuh kami. Saya ingin mereka dapat berinteraksi dengan baik, karena di masyarakat saat ini kita semua memiliki hak yang sama untuk hidup yang layak. Begitulah keinginan saya saat memilih untuk mengabdikan diri kepada masyarakat khusunya anak – anak down syndrome," kata Shafira.

Tak disangka sudah memiliki paras yang cantik ketiga finalis Pemilihan Puteri Indonesia ini punya hati yang cantik juga. Jadi, kalian pilih yang mana nih?

Penasaran ya, siapa yang nantinya akan berhasil meraih Mahkota Borobudur dan dinobatkan sebagai Puteri Indonesia 2018 tahun ini?

Saksikan malam puncak grand final Pemilihan Puteri Indonesia 2018 yang akan diselenggarakan pada Jumat (9/3/2018) di Plenary Hall Jakarta Convention Center yang akan disiarkan langsung di Indosiar dan livestreaming di official fanpage Puteri Indonesia dan fanpage Mustika Ratu.

 

 

(Adv)