Sukses

Kareku Kandei, Tradisi Perempuan dari NTB yang Kaya Makna

Liputan6.com, Mataram Banyak tradisi unik dan menarik yang bisa kita temukan di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satunya adalah tradisi Kareku Kandei (memukul lesung) yang hanya dilakukan oleh kalangan perempuan yang ada di desa Sanggar, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima.

Pada tradisi ini, beberapa orang perempuan memukul Lesung (wadah padi) kosong yang terbuat dari batang pohon kelapa dengan alat pukul sebilah bambu atau dalam masyarakat Bima disebut Alu.

Keunikan dari tradisi Kareku Kandei ini terletak pada bunyi pukulan yang keluar dari lesung tersebut dan juga kostum yang digunakan oleh para pemukul yaitu ‘Tembe Nggoli’ atau kain tenun khas masyarakat Bima dan Dompu.

Bagi masyarakat dua kabupaten tersebut, Tembe Nggoli memiliki serat makna karena memiliki nilai budaya yang sangat tinggi yang terus mengakar dari generasi ke generasi lainnya. Kain tenun Tembe Nggoli ini juga memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari cara pembuatannya hingga cara pemakaiannya.

Pengunaan Tembe Nggoli tidak boleh sembarang. Jika Tambe Nggoli tersebut dipakai oleh wanita yang masih gadis, maka nggoli tersebut harus menutupi seluruh badan dan muka kecuali pada bagian alis dan mata seperti menggunakan cadar.

Namun, jika yang mengenakan Nggoli tersebut berasal dari kalangan wanita yang sudah bersuami maka Nggoli tersebut tetap harus tertutup hingga telapak tangan , mereka hanya diperbolehkan membuka bagian muka saja.

“Ini sebagai tanda bahwa meski zaman dahulu Agama Islam belum masuk ke kerajaan ini, namun setiap gadis tetap mengggunakan Tambe Nggoli ini untuk menutup aurat,” kata Ayaturrahman, ketua pemuka adat Sanggar, Bima kepada Liputan6.com.

Hingga saat ini, Tradisi Kareku Kandei masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat Bima dan Dompu. Selain sebagai tugas khusus bagi wanita, Kareku Kandei juga sebagai bukti bahwa kebersamaan perempuan tetap terjaga.

“Tradisi ini merupakan bentuk gotong royong dan kebersamaan bagi para wanita. Tidak hanya saat memukul padi namun Kareku Kendai juga biasanya dimainkan pada upacara pernikahan atau ukur baju,” tutur dia.

Selain di Sanggar, Tradisi Kareku Kandei juga bisa ditemukan di hampir seluruh daerah di dua kabupaten ini. Tradisi ini ternyata merupakan tradisi turun menurun dari nenek moyang mereka. (Hans Bahanan/Ars)

Loading