Doa Menjadi Pemimpin yang Benar, Adil dan Memakmurkan

Doa menjadi pemimpin penting bagi tiap orang, terlebih bagi yang kini sedang mengemban jabatan tertentu walau skala kecil

Diterbitkan 15 September 2025, 05:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam perspektif Islam, manusia adalah khalifatul ard yakni pemimpin di bumi, yang artinya di antara makhluk Allah SWT, manusia menjadi wali di bumi. Oleh karenanya, bagi umat Islam, penting untuk mengetahui doa menjadi pemimpin. Terlebih bagi yang kini sedang mengemban jabatan tertentu walau skala kecil.

Dalil bahwa manusia adalah khalifah (pemimpin) di bumi salah satunya termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 30, yang artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi," (QS. Al-Baqarah: 30).

Dalam tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan dalam konteks ini, "khalifah" diartikan sebagai "pengganti" atau "wakil" Allah di bumi. Manusia, melalui Nabi Adam AS dan keturunannya, diberi tugas untuk mengelola bumi sesuai dengan petunjuk Allah. Tugas ini mencakup memakmurkan bumi, menjaga keseimbangan alam, dan menegakkan keadilan sosial. Dan itu adalah tugas seorang khalifah, atau pemimpin atau pengganti.

Karena itu, penting bagi seseorang yang kini sedang mengemban jabatan tertentu untuk mengetahui doa menjadi pemimpin.

1. Doa memohon Petunjuk Allah jadi Pemimpin yang Benar

Sebagaimana tugas yang dijelaskan oleh Quraish Shihab, di dunia, manusia diamanahi jabatan 'khalifah' yang tugasnya adalah memakmurkan dan memelihara. Kepala rumah tangga misalnya, adalah seorang suami yang juga ayah. Kemudia, dalam skala lainnya, dalam kehidupan sosial politik; ada Ketua RT, RW, Kepala Desa, Lurah, camat, bupati dan lain sebagainya.

Seorang pemimpin juga dapat berdoa untuk dirinya sendiri. Di bawah ini bacaan doanya diambil dari buku 'Kumpulan Doa Mustajab Pembuka Pintu Rezeki' oleh K.H. Sulaeman bin Muhammad Bahri:

Doa memohon Petunjuk Allah jadi Pemimpin yang Benar

رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

Latin: Rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja sidqin waj'al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā/

Artinya: "Ya Tuhanku, masukkanlah aku dan keluarga dengan cara yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong."

Doa ini merupakan doa Nabi Muhammad SAW yang merupakan petikan surat Al-Isra Ayat 80. Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk berdoa memohon kepada-Nya agar diberikan jalan yang benar dalam setiap langkah hidupnya. Tafsir ini menekankan pentingnya memohon kepada Allah agar setiap tindakan kita selalu berada dalam keridhaan-Nya dan dijauhkan dari godaan dan kesesatan.

Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk selalu memohon pertolongan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, serta untuk selalu berusaha berada di jalan yang benar dan diridhai-Nya.

At-Tirmiżī meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās bahwa Nabi berada di Mekah, lalu diperintahkan Allah untuk hijrah. Maka turunlah ayat ini. Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengucap-kan doa yang tersebut dalam ayat ini, yang maksudnya “Wahai Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat, dan tempatkan aku ke tempat yang Engkau kehendaki, baik di dunia maupun di akhirat.”

Di antara contoh masuknya Rasulullah ke suatu tempat dengan benar ialah beliau dan para sahabat memasuki kota Medinah sebagai orang-orang yang hijrah dari Mekah, memasuki kota Mekah di waktu penaklukan kota itu, masuk kubur setelah mati, dan memasuki tempat yang diridai Allah, seperti masuk masjid, rumah sendiri, rumah sahabat, dan kenalan setelah minta izin darinya, dan sebagainya.

Keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti keluar dari kota Mekah waktu hijrah, keluar dari kubur waktu hari kebangkitan, atau keluar dari semua tempat yang dikehendaki Allah, seperti kota-kota yang menjadi tempat melakukan perbuatan maksiat dan sebagainya.

Allah swt juga memerintahkan kepada Nabi agar berdoa kepada-Nya supaya dijadikan orang yang menguasai hujah dan alasan yang dapat diterima dan ketika berdakwah, dapat memuaskan orang-orang yang mendengarkannya sehingga bertambah kuat imannya. Jika yang mendengar orang kafir, hati mereka menjadi lunak dan mau masuk Islam.

2. Doa Jadi Pemimpin bagi orang-orang beriman

Doa mustajab agar terpilih pemimpin ini sangat populer dan sering dibaca banyak kalangan. Terutama ketika berkumpul dengan keluarga dan handai taulan.

Doa ini diambil dari al-Qur’an, surat al-Furqan (25), ayat 74. Jika dipahami secara seksama, doa ini berisi permintaan untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.

Artinya, dengan lafal doa ini, maka berarti ia sedang berdoa untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman. Di samping isi lain dari doa ini untuk memperoleh kebaikan dan keindahan hidup dari keluarga dan anak-anak.

 رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Latin: Rabbanā hab lanā min azwājinā wa żurriyyātinā qurrata a‘yuniw waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā(n)

Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Perhatikan kalimat terakhir dari doa al-Qur’an ini. “Waj’alna lil muttaqin imama” (Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa).

Quraish Shihab menjelaskan, doa ini sebagai permohonan keluarga yang shalih dan kepemimpinan yang adil bagi orang-orang bertakwa. Sementara, dalam Tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa Nabi Zakaria AS memohon anak yang saleh dan status kepemimpinan agar bisa menegakkan agama dan memberi manfaat bagi umat.

3. Doa Keselamatan dan Kesejahteraan Negeri

Doa ini termasuk doa umum yang diajarkan oleh para ulama untuk keselamatan dan kemakmuran negeri, dan sering ditemui dalam kitab-kitab masyhur.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَّاءً رَخَاءً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ

Latin: Allahumma aj‘al baladanaa baladan aaminan muthma-innaa, sakhkhaa-an rakhkhaa-an, wa saa-ira bilaadil muslimiin.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman, tenteram, penuh kelapangan dan kemakmuran, begitu juga seluruh negeri kaum muslimin.”

Dalam Buku Hisnul Muslim Koleksi doa sehari-hari karya Syekh Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qahtani dijelaskan, doa ini termasuk doa untuk kepemimpinan yang aman, rakyat yang sejahtera, dan kemakmuran masyarakat, bukan hanya untuk satu negara tapi juga bagi negeri kaum Muslimin secara umum.

Keutamaan Pemimpin Adil dalam Islam

Pemimpin yang baik dalam Islam tentu mendapat banyak kemuliaan serta rahmat dari Allah SWT. Terdapat beberapa jaminan dari Allah SWT kepada pemimpin-pemimpin yang adil dikutip dari buku Jawahir Al-Bukhari: 800 Hadits Pilihan dan Penjelasannya oleh Syaikh Muhammad Musthafa, Buku Ringkasan Kitab Adab oleh Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub dan ulama lainnya, di antaranya:

1. Mendapat Naungan dari Allah SWT di Hari Kiamat

Bahwa pemimpin yang adil akan dinaungi Allah SWT pada hari kiamat. Abu Hurairah RA berkata Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

"Ada tujuh orang yang dinaungi Allah dengan naungan-Nya pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Tuhannya, orang yang hatinya terpaut di masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya pula, dan seorang laki-laki yang diminta berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, tetapi ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah, seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seorang yang berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, lalu matanya mengucurkan (air mata)." (HR Bukhari)

2. Pemimpin yang Adil Paling Dicintai Allah SWT

Pemimpin yang adil termasuk dalam orang yang paling dicintai oleh Allah SWT. Sedangkan yang paling dibenci-Nya adalah pemimpin yang zalim. Dari Abu Said Al-Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

"Dari Abu Said Al-Khudri RA: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling dicintai Allah Azza Wajalla dan yang paling dekat tempat duduknya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, sedangkan manusia paling dibenci oleh Allah dan paling jauh tempat duduknya di hari kiamat adalah pemimpin yang zalim." (HR Tirmidzi)

3. Mendapat Mimbar yang Terbuat dari Cahaya

Pemimpin yang adil kelak akan mendapatkan keistimewaan berupa mimbar yang terbuat dari cahaya di sisi Allah SWT. Dan itu berlaku untuk skala lebih kecil, contohnya dalam keluarga.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, di sisi kanan Ar- Rahman Azza wa Jalla, dan kedua Tangan-Nya kanan. Yaitu, orang- orang yang berlaku adil dalam menghukum dan berlaku adil terhadap keluarga mereka dan terhadap bawahan mereka ketika mereka berkuasa." (HR Muslim, Ahmad, dan An-Nasa'i).

People Also Ask:

1. 7 Langkah Menjadi pemimpin yang Baik?

  1. Jujur
  2. Memiliki Kreativitas Yang Tinggi.
  3. Tidak Sekedar Memberi Perintah.
  4. Menerima Kritik dan Saran.
  5. Kemampuan Retorika (Keahlian Berkomunikasi)
  6. Terbuka dengan Berbagai Ide dan Gagasan Baru.
  7. Memiliki Critical Thinking.

2. Apa doa agar diberi kemudahan dan kelancaran?

Allahumma laa sahla illa maa ja'altahu sahlaa, wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa. Artinya: Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.

3. Doa apa yang kita inginkan tercapai?

ALLAHUMMA INNI AS-ALUKA BI-ANNA LAKAL HAMDU LAA ILAHA ILLA ANTA AL-MANNAAN BADII'US SAMAAWAATI WAL ARDHI, YAA DZAL JALAALI WAL IKROOM, YA HAYYU YA QOYYUUM

4. Apa saja 5 P kepemimpinan?

Inilah "Lima P Kepemimpinan", sebuah kerangka kerja yang dikembangkan oleh Grint dan Smolović Jones (2022). Dalam kerangka ini, kepemimpinan dapat dilihat melalui fokus orang, proses, posisi, produk, dan tujuan