Kenapa Dinding Rumah Mengeluarkan Bau Tanah Setelah Hujan? Wajar atau Tanda Lembap

Dinding rumah berbau tanah setelah hujan? Ketahui peran geosmin, dinding berpori, rembesan air, dan jamur, plus tips menjaga kelembapan rumah dengan benar.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 18:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kenapa dinding rumah mengeluarkan bau tanah setelah hujan? Pertanyaan ini kerap muncul ketika ruangan yang biasanya netral mendadak beraroma seperti tanah basah.

Melansir dari Smithsonian Magazine, aroma khas hujan dipicu geosmin, senyawa yang dihasilkan bakteri tanah bernama aktinomiset. Namun, bau yang menetap di dinding juga bisa menandakan kelembapan berlebih, seperti dicatat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pedoman kualitas udara dalam ruang.

Kementerian Kesehatan lewat Permenkes Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011 menetapkan kelembapan ruang rumah yang sehat berada pada kisaran 40-60 persen. Karena itu, bau tanah yang tidak kunjung hilang patut dicari penyebabnya.

Bau tanah pada dinding setelah hujan umumnya berasal dari tiga hal. Pertama, aroma tanah basah di luar rumah yang terbawa udara. Kedua, dinding berpori yang menyerap air hujan. Ketiga, mikroba yang tumbuh pada dinding lembap. Bau yang lenyap setelah dinding kering tergolong wajar, sedangkan bau yang menetap menandakan kelembapan yang perlu ditangani.

Berikut adalah kenapa dinding rumah mengeluarkan bau tanah setelah hujan dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (22/10/2026).

Mengenal Petrichor, Aroma Khas Hujan

Asal Nama dan Penemuan

Peneliti Australia, Isabel Joy Bear dan Richard Grenfell Thomas, menamai bau ini petrichor lewat makalah "Nature of Argillaceous Odour" di jurnal Nature pada 1964. Menurut Smithsonian Magazine, istilah itu gabungan kata Yunani petra (batu) dan ichor (darah para dewa dalam mitos).

Dalam makalah tersebut, keduanya mengusulkan nama itu untuk bau khas yang berasal dari batuan atau tanah. Bau ini muncul ketika material yang lama kering terkena air.

Peran Geosmin

Smithsonian Magazine menjelaskan, aktinomiset menghasilkan spora saat musim kering dan terus menumpuk di tanah. Itu sebabnya geosmin paling terasa pada hujan pertama setelah kemarau.

Melansir dari MeteoNews, minyak tanaman ikut menyumbang aroma, dan saat badai petir ozon bisa menambahnya. Angin kemudian menyebarkan zat-zat tersebut, sehingga aroma hujan kadang tercium sebelum air turun.

Mengapa Hujan Ringan Lebih Beraroma

Studi Youngsoo Joung dan Cullen Buie dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang terbit di jurnal Nature Communications pada 2015, merekam tetes hujan dengan kamera berkecepatan tinggi. Mereka menjalankan sekitar 600 percobaan pada 28 jenis permukaan, terdiri atas 12 material buatan dan 16 sampel tanah.

Hasilnya, hujan ringan dan sedang melepaskan lebih banyak aerosol daripada hujan deras. Menurut Buie, mekanisme ini mungkin menjelaskan petrichor, meski ia menyebutnya sebagai hipotesis.

 

Kenapa Aromanya Terasa Kuat di Dalam Rumah

Dinding Berpori Ikut Menyerap Air

Bata, mortar, dan plester memiliki pori-pori halus. Lembar informasi Kantor Warisan Budaya Pemerintah New South Wales, Australia, menyebut semua bahan batu bata memiliki rongga halus yang dapat menyedot air lewat gaya kapiler.

Penelitian MIT menguji bahan berpori dan menemukan sifat bahan memengaruhi pelepasan aerosol. Belum ada studi khusus pada dinding rumah, sehingga kaitan ini masih berupa dugaan yang masuk akal.

Aroma dari Luar Ikut Terbawa Masuk

Udara luar yang membawa aroma tanah basah dapat masuk lewat ventilasi dan jendela. Di ruangan yang sempit dan jarang terkena sirkulasi udara, aroma itu cenderung bertahan lebih lama.

Penyebab Dinding Lembap yang Berbau Tanah

Aroma tanah yang bertahan biasanya berasal dari dinding yang menyimpan air. Permenkes 1077/2011 menyebut atap bocor serta lantai dan dinding yang tidak kedap air sebagai faktor risiko kelembapan, ditambah minimnya pencahayaan.

Penyebab Cara terjadinya Tanda yang tampak
Rembesan air Atap, talang, pipa, atau retakan dinding meloloskan air Noda basah tidak beraturan di dinding atau plafon
Kenaikan air kapiler Air tanah terisap naik lewat pori-pori dinding Dinding bawah lembap, cat menggelembung, plester rapuh
Kondensasi Uap air mengembun pada permukaan yang dingin Bintik air di dinding atau kaca
Ventilasi kurang Udara lembap terperangkap di dalam ruangan Ruangan pengap dan berbau apek

Kantor Warisan Budaya New South Wales mencatat, kenaikan air kapiler dapat menimbulkan noda, cat menggelembung, dan plester yang rapuh. WHO juga menyebut kondensasi, jamur yang terlihat, bau apek, dan riwayat kebocoran sebagai indikator kelembapan bangunan.

Mikroba Memperkuat Bau

WHO menyatakan, kelebihan air pada hampir semua material dalam ruangan memicu pertumbuhan jamur dan bakteri. Mikroba itu melepaskan spora, serpihan sel, dan senyawa organik mudah menguap ke udara.

Permenkes 1077/2011 menyebut ventilasi yang tidak memadai juga menyuburkan mikroorganisme. Pada ruang rumah yang sehat, syarat kadar jamur di udara ditetapkan 0 CFU/m3.

Wajar atau Perlu Dicek?

Kondisi Kemungkinan artinya
Bau hilang setelah dinding kering Wajar, bersumber dari aroma hujan dan air yang menguap
Bau muncul berulang setiap hujan Ada rembesan atau kebocoran yang perlu dilacak
Ada noda, cat mengelupas, atau plester rapuh Dinding menyimpan air dalam jangka panjang
Muncul bercak jamur dan bau apek Kelembapan sudah memicu pertumbuhan mikroba

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyarankan area yang terkena air dikeringkan dalam 24-48 jam agar jamur tidak tumbuh. Jika dinding masih basah melewati batas itu, waspadai bau yang semakin menusuk.

Dampak Kesehatan yang Perlu Diwaspadai

Menurut WHO, kelembapan dan jamur dalam ruangan berkaitan dengan meningkatnya gejala pernapasan, alergi, dan asma. Pedoman Kemenkes menyebut jamur dan bakteri udara dapat memicu flu, alergi, asma, hingga gejala sick building syndrome seperti sakit kepala dan iritasi mata.

Informasi ini bukan pengganti konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan. Segera periksakan diri jika ada anggota keluarga yang mengalami keluhan pernapasan berulang di rumah yang lembap.

Cara Mengatasi dan Mencegah

  1. Cari sumber air. Periksa atap, talang, pipa, dan retakan dinding sesudah hujan.
  2. Keringkan ruangan. Buka jendela dan nyalakan kipas agar dinding cepat kering, sesuai panduan EPA 24-48 jam.
  3. Perkuat dinding. Perbaiki dinding yang tidak kedap air. Untuk kenaikan air kapiler, panduan konservasi New South Wales menyebut lapisan kedap air pada dasar dinding sebagai pencegahnya.
  4. Atur ventilasi. Permenkes 1077/2011 menganjurkan ventilasi minimal 10 persen dari luas lantai dengan sistem silang.
  5. Biarkan matahari pagi masuk. Kemenkes menganjurkan sinar matahari pagi masuk ke rumah, terutama kamar tidur.
  6. Pantau kelembapan. Jaga kelembapan di angka 40-60 persen, misalnya dengan higrometer.
  7. Bersihkan jamur dengan aman. EPA menyarankan menyikat jamur pada permukaan keras dengan deterjen dan air, lalu mengeringkannya sempurna. Hindari menyentuhnya dengan tangan telanjang.
  8. Minta bantuan. Jika bau menetap, hubungi tukang berpengalaman atau petugas kesehatan lingkungan di puskesmas.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kenapa Dinding Rumah Mengeluarkan Bau Tanah Setelah Hujan

1. Apa itu petrichor?

Petrichor adalah istilah untuk aroma khas yang muncul ketika hujan turun di tanah atau batuan yang lama kering. Istilah ini diperkenalkan peneliti Australia, Isabel Joy Bear dan Richard Grenfell Thomas, pada 1964.

2. Apakah bau tanah di dinding setelah hujan berbahaya?

Tidak selalu. Bau yang hilang setelah dinding kering umumnya wajar. Bau yang menetap bisa menandakan kelembapan dan pertumbuhan jamur yang berkaitan dengan gangguan pernapasan dan alergi.

3. Berapa kelembapan ideal di dalam rumah?

Permenkes Nomor 1077/MENKES/PER/V/2011 menetapkan kelembapan ruang rumah 40-60 persen.

4. Berapa lama dinding basah boleh dibiarkan?

EPA menyarankan area yang terkena air dikeringkan dalam 24-48 jam untuk mencegah pertumbuhan jamur.

5. Kapan harus memanggil ahli?

Jika bau muncul berulang setiap hujan, ada noda atau cat mengelupas, atau terlihat bercak jamur, minta bantuan tukang berpengalaman atau petugas kesehatan lingkungan di puskesmas.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6