Gaya Hidup Downgrade: Antara Terpaksa karena Ekonomi dan Pilihan Sadar untuk Berhemat

Gaya hidup downgrade makin ramai. Simak pengertian, penyebab, manfaat, risiko, dan tips menjalaninya agar keuangan tetap sehat dan kebutuhan penting terjaga.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 16:41 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gaya hidup downgrade kini ramai dibicarakan di media sosial dan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang mengurangi nongkrong di kafe, beralih ke merek yang lebih terjangkau, hingga menahan diri membeli barang baru.

Melansir dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen, lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang sebesar 2,65 persen. Kenaikan harga tersebut menekan kemampuan belanja sebagian rumah tangga.

Namun, tidak semua orang menurunkan standar hidup karena terpaksa. Berikut adalah gaya hidup downgrade dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (14/10/2026).

Apa Itu Gaya Hidup Downgrade?

Gaya hidup downgrade adalah penyesuaian pola hidup ke tingkat yang lebih hemat, baik dari sisi harga, kualitas, maupun frekuensi belanja. Yang diturunkan adalah standar konsumsi, bukan kebutuhan dasar.

Dalam literatur ilmiah, perilaku serupa dikenal sebagai downshifting. Studi berjudul "Everyday Life After Downshifting: Consumption, Thrift, and Inequality" karya Jo Lindsay, Ruth Lane, dan Kim Humphery (2020) di jurnal Geographical Research mewawancarai warga Australia usia kerja yang sengaja mengurangi jam kerja. Para responden ternyata lebih menekankan penghematan ketimbang keberlanjutan lingkungan.

Studi itu juga menemukan bahwa pengalaman downshifting sangat dipengaruhi tanggung jawab mengasuh serta rasa aman secara keuangan dan tempat tinggal. Responden dengan kekayaan lebih rendah mengelola ketat pengeluaran tidak wajib, sedangkan yang lebih mapan tidak mengurangi konsumsi secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan di Australia sehingga konteksnya tidak sepenuhnya sama dengan Indonesia.

Wujud Gaya Hidup Downgrade yang Sering Dijumpai

Contohnya antara lain mengurangi makan di luar, memilih merek lokal atau produk yang lebih murah, menunda mengganti gawai, dan berhenti berlangganan layanan digital yang jarang dipakai.

Melansir dari PwC Indonesia lewat survei Voice of the Consumer 2025, 50 persen konsumen Indonesia khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi dan naiknya biaya hidup. Mereka berencana membeli lebih sedikit dan memilih alternatif yang lebih murah.

Dalam urusan makanan, 63 persen responden berencana membeli alternatif lebih murah dan 56 persen berencana menyusun menu sejak awal agar tidak berbelanja impulsif.

Mengapa Banyak Orang Memilih Downgrade?

Harga Kebutuhan Terus Naik

BPS mencatat inflasi tahunan September 2026 naik dari 3,19 persen pada Agustus. Seluruh 38 provinsi mengalami inflasi secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi bulanan. Komoditas penyumbang terbesar adalah cabai rawit, cabai merah, dan daging ayam ras.

Ruang Menabung Menyempit

Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) September 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 118,1. Angka itu masih optimis, tetapi sedikit lebih rendah dibandingkan Agustus 2026 yang sebesar 118,5.

BI juga mencatat rata-rata 74,9 persen pendapatan konsumen dipakai untuk konsumsi, naik dari 74,2 persen sebulan sebelumnya. Sementara itu, 9,7 persen pendapatan untuk cicilan atau utang dan 15,4 persen untuk tabungan.

Kelompok berpengeluaran Rp1 juta sampai Rp2 juta berada pada level pesimis soal penghasilan saat ini. Survei tersebut melibatkan sekitar 4.600 rumah tangga di 18 kota.

Kelas Menengah Menyusut

Berdasarkan data BPS dari Susenas Maret 2024, jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang atau 21,45 persen penduduk pada 2019 menjadi 47,85 juta orang atau 17,13 persen pada 2024. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut masih ada dampak jangka panjang (scarring effect) pandemi Covid-19 terhadap ketahanan kelas menengah.

Terpaksa atau Sadar? Dua Wajah Gaya Hidup Downgrade

Tidak semua orang menjalaninya dengan alasan yang sama. Secara umum, ada dua kelompok besar.

Aspek Karena Terpaksa Karena Sadar
Pemicu Penghasilan tetap atau turun, harga naik Ingin hidup lebih sederhana dan punya target keuangan
Contoh Menjual kendaraan, memangkas kebutuhan Berhenti langganan tak terpakai, membeli sesuai fungsi
Risiko Kebutuhan penting ikut terpangkas Lebih kecil bila terencana

Karena itu, downgrade tidak bisa langsung diartikan sebagai kemunduran. Bagi sebagian orang, ini justru cara mengatur prioritas.

Manfaat dan Risiko Gaya Hidup Downgrade

Manfaat

Arus kas rumah tangga menjadi lebih longgar. Dana yang sebelumnya habis untuk gengsi dapat dialihkan ke tabungan, pelunasan utang, atau kebutuhan mendesak.

Risiko: Jangan Pangkas Perlindungan Kesehatan

Masyarakat boleh menurunkan gengsi, hiburan, atau barang tidak mendesak. Namun, perlindungan kesehatan sebaiknya tidak ikut diturunkan. Terdapat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah yang bisa dimanfaatkan masyarakat.

 

Tips Menjalani Gaya Hidup Downgrade dengan Bijak

Melansir keterangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), keuangan yang sehat ditandai anggaran terencana, rutin menabung, tidak ada tumpukan utang konsumtif, serta memiliki dana darurat dan proteksi. OJK juga pernah menyebut dana darurat umumnya sebesar tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan.

Berikut langkah praktisnya:

  1. Catat seluruh pengeluaran selama satu bulan.
  2. Pisahkan kebutuhan dan keinginan, lalu pangkas keinginan lebih dulu.
  3. Turunkan secara bertahap, bisa dari harga, spesifikasi, atau frekuensi.
  4. Siapkan dana darurat di rekening terpisah.
  5. Pertahankan proteksi dasar, seperti asuransi dan pemeriksaan kesehatan.
  6. Hindari utang konsumtif untuk menutup gaya hidup lama.

Informasi ini bukan pengganti nasihat perencana keuangan profesional.

Bukan Soal Gengsi, tetapi Prioritas

Pada akhirnya, gaya hidup downgrade adalah cara menyesuaikan hidup dengan kemampuan dan tujuan. Selama kebutuhan dasar dan perlindungan penting tetap terjaga, penyesuaian ini bukan tanda kegagalan.

Jika tekanan penghasilan berlangsung lama, persoalannya tidak lagi sebatas kebiasaan belanja. Pada titik itu, peningkatan pendapatan dan perlindungan sosial menjadi bagian dari jawabannya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Gaya Hidup Downgrade

1. Apa itu gaya hidup downgrade?

Gaya hidup downgrade adalah penyesuaian pola hidup ke tingkat yang lebih hemat, baik dari harga, kualitas, maupun frekuensi belanja. Kebutuhan dasar tetap dipenuhi.

2. Apakah gaya hidup downgrade tanda kemiskinan?

Tidak selalu. Sebagian orang terpaksa karena tekanan ekonomi, sebagian lain memilihnya secara sadar untuk mengatur prioritas keuangan.

3. Apa saja contoh gaya hidup downgrade?

Contohnya mengurangi makan di luar, memilih merek yang lebih murah, menunda mengganti gawai, dan berhenti berlangganan layanan digital yang jarang dipakai.

4. Apa risiko gaya hidup downgrade?

Risikonya muncul jika pemangkasan menyentuh kebutuhan penting, seperti pemeriksaan kesehatan dan proteksi dasar, sehingga berdampak buruk dalam jangka panjang.

5. Bagaimana cara memulai gaya hidup downgrade?

Catat pengeluaran, pisahkan kebutuhan dan keinginan, turunkan secara bertahap, lalu siapkan dana darurat.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6