Mengenal Ragam Rumah Adat Kepulauan Riau yang Wajib Dilestarikan

Rumah Adat Kepulauan Riau dikenal dengan bentuk panggung dan ukiran khas. Rumah Adat Kepulauan Riau mencerminkan budaya Melayu yang kuat dan penuh filosofi.

Diterbitkan 11 Desember 2025, 02:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keberagaman budaya yang dimiliki oleh Indonesia terasa begitu kuat diberbagai aspek kehidupan, termasuk didalamnya adalah arsitektur tradisional yang masih dijaga hingga kini. Salah satu kekayaan budaya tersebut dapat ditemukan pada rumah adat kepulauan Riau, yang merupakan sebuah warisan penting untuk masyarakat Melayu yang hidup di wilayah pesisir. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah adat kepulauan Riau juga menyimpan nilai luhur yang mencerminkan karakter masyarakatnya. 

Diterangkan dalam berbagai sumber sejarah, rumah adat kepulauan Riau dikenal karena memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dengan rumah tradisional Melayu lain yang ada di Nusantara. Desainnya banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis, tradisi, dan kepercayaan lokal yang diwariskan secara turun temurun. Setiap rumah memiliki ciri khas yang mengandung nilai dan filosofi di setiap bagian nya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini telah Liputan6.com rangkum informasi lengkap beragam rumah adat Kepulauan Riau, pada Rabu (10/12).

1. Rumah Melayu Atap Limas Potong

Rumah adat kepulauan Riau yang pertama bernama, rumah Melayu atap limas potong. Rumah ini menjadi salah satu jenis rumah adat yang paling sering ditemui, terutama di kawasan Batam dan daerah pesisir. 

Ciri paling terlihat dari rumah ini adalah bentuk atap limas tiga dimensi nya, yang tampak seperti terpotong pada bagian ujungnya. Desain tersebut bukan hanya sekedar untuk estetika, namun juga berfungsi untuk menahan terpaan angin kencang yang umum terjadi di wilayah pesisir dan kepulauan.

Rumah ini umumnya berbentuk rumah panggung dengan ketinggian sekitar 1,5 meter. Model panggung dipilih sebagai bentuk adaptasi masyarakat pesisir terhadap risiko banjir rob, air pasang, serta keberadaan hewan liar pada masa lampau. Material yang digunakan biasanya berupa kayu pilihan seperti kayu meranti atau kayu kulim, yang terkenal kuat, awet dan tahan terhadap cuaca lembab.

2. Rumah Selaso Jatuh Kembar

Rumah selaso jatuh kembar adalah rumah adat yang tidak digunakan untuk tempat tinggal, tapi digunakan sebagai balai umum, pusat musyawarah adat, hingga lokasi kegiatan budaya. Nama ‘selaso jatuh kembar’ merujuk pada desain lantai selasar yang dibuat lebih rendah dibandingkan ruang tengah. Struktur ini memberikan kesan seolah terdapat dua ruang selasar yang jatuh atau lebih rendah dari area utama.

Fungsi rumah ini sangat penting, karena menjadi pusat penyelenggaraan upacara adat, tempat penyimpanan alat musik tradisional, hingga lokasi pertemuan para datuk. Rumah ini juga dikenal sebagai Balai Kerapatan atau Balairung Sari. Keindahan rumah ini dicirikan melalui ukiran khas Melayu pada setiap bagian bangunan, mulai dari tiang, tangga, dinding hingga loteng.

Ukiran seperti itik pulang petang melambangkan kebersamaan dan hidup rukun. Ada pula ukiran ombak atau lebah bergantung yang mengandung makna agar manusia hidup bermanfaat bagi sesama. Di bagian atap ada juga ornamen bernama ‘Tunjuk Langit’, yang melambangkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3. Hunian Melayu Lipat Kajang

Rumah adat Kepulauan Riau yang berikutnya adalah hunian Melayu Lipat Kajang, ini adalah salah satu rumah yang kini sudah sangat jarang ditemui. Dahulu, rumah ini banyak dijumpai di kawasan Sungai Rokan, Siak Sri Indrapura, dan hilir Sungai Indragiri. Bentuk atap lipat kajang yang curam dibuat dengan tujuan agar air hujan cepat mengalir sehingga tidak menimbulkan genangan. 

Rumah ini menggunakan bahan-bahan alami seperti atap dari daun nipa atau alang-alang, serta dinding dari anyaman bambu. Anyaman tersebut berfungsi sebagai ventilasi alami yang membuat bagian dalam rumah tetap sejuk meski cuaca sedang panas. Tiang dan struktur rumah diperkuat dengan tali rotan dan ijuk agar lebih kokoh menghadapi kondisi lingkungan pesisir.

Hunian ini juga dihiasi dengan ornamen khas Melayu seperti selembayung dan tanduk buang yang melambangkan kasih sayang, perlindungan, serta nilai adat. Pada masa lampau, rumah ini menjadi simbol kearifan lokal masyarakat Melayu dalam membangun hunian yang selaras dengan lingkungan namun tetap memancarkan keindahan seni tradisional.

4. Rumah Melayu Atap Lontik 

Rumah Melayu Atap Lontik terkenal dengan bentuk atap yang yang meruncing ke atas dan menyerupai tanduk kerbau. Banyak yang menganggap desain rumah ini terinspirasi dari Rumah Gadang Minangkabau mengingat wilayah Kepulauan Riau berbatasan langsung dengan Sumatera Barat. Namun demikian, rumah atap lontik tetap memiliki karakter khasnya sendiri yang berbaur dengan budaya Melayu kepulauan.

Bagian bawah rumah dibuat panggung untuk menghindari banjir dan serangan hewan liar. Ketinggian rumah juga dimanfaatkan untuk menyimpan peralatan dan memelihara ternak. Dari sisi filosofis, jumlah anak tangga rumah ini dibuat ganjil seperti 3, 5, atau 7 sebagai lambang kepercayaan dan tradisi Islam. Sementara itu, lengkungan atap menggambarkan bahwa hidup manusia memiliki awal dan akhir yang semuanya kembali kepada Sang Pencipta.

Keunikan lain rumah ini adalah bentuk kaki rumah yang menyerupai perahu. Bentuk tersebut merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada perairan. Rumah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

 

QnA Seputar Rumah Adat Kepulauan Riau

1. Mengapa rumah adat Kepulauan Riau mayoritas berbentuk rumah panggung?

Karena masyarakat Kepulauan Riau hidup di daerah pesisir sehingga rumah panggung membantu menghindari banjir, air pasang, serta serangan hewan liar.

2. Bahan apa yang paling sering digunakan dalam pembangunan rumah adat?

Kebanyakan rumah adat menggunakan kayu kuat seperti meranti, kulim, serta bahan alami seperti bambu, rotan, dan daun nipah.

3. Apakah rumah adat Kepulauan Riau masih banyak ditemukan?

Tidak semuanya. Beberapa rumah seperti Lipat Kajang mulai jarang ditemui, sedangkan jenis lain seperti Limas Potong masih dilestarikan melalui kawasan wisata budaya.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6