Liputan6.com, Jakarta Masyarakat Indonesia, khususnya di budaya Jawa, seringkali dihadapkan pada berbagai mitos dan pantangan yang diwariskan secara turun-temurun, terutama terkait dengan kehamilan. Salah satu mitos yang cukup populer adalah larangan bagi suami untuk membunuh hewan, termasuk ular, saat istrinya sedang mengandung. Kepercayaan ini seringkali disertai dengan kekhawatiran bahwa tindakan tersebut dapat menyebabkan anak lahir dengan cacat fisik, seperti kulit bersisik yang menyerupai ular yang dibunuh.
Mitos ini, meskipun tidak memiliki dasar ilmiah, telah menimbulkan kecemasan di kalangan pasangan suami istri dan bahkan dapat menciptakan dilema dalam situasi darurat, misalnya ketika ada ular berbisa yang mengancam keselamatan. Di sisi lain, ajaran agama, khususnya Islam, memiliki pandangan tersendiri mengenai pembunuhan hewan yang perlu dipahami dengan benar.
Artikel ini akan mengupas tuntas mitos membunuh ular saat istri hamil dari berbagai perspektif: budaya, medis, dan agama Islam. Kami juga akan menyajikan fakta ilmiah tentang penyebab cacat lahir yang sebenarnya serta langkah-langkah pencegahannya yang dapat dilakukan oleh setiap pasangan. Jadi simak informasi selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (3/12/2025).
Advertisement
Mengurai Mitos 'Membunuh Ular Sebabkan Cacat Janin'
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5429305/original/082580800_1764580566-anakan_ular.jpg)
Mitos larangan membunuh hewan saat istri hamil, termasuk ular, merupakan salah satu "pamali" atau pantangan yang kuat dalam budaya Jawa dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Kepercayaan ini meyakini bahwa tindakan suami membunuh hewan dapat berdampak negatif pada janin, menyebabkan cacat fisik yang menyerupai hewan yang dibunuh.
Interpretasi lain dari mitos ini adalah sebagai cara untuk menjaga kondisi psikologis ibu hamil. Trauma atau rasa takut yang dialami ibu saat menyaksikan pembunuhan hewan, atau bahkan ketakutan berlebihan saat melihat ular, dapat berdampak negatif pada kehamilan.
Secara ilmiah, tidak ada bukti yang menunjukkan hubungan langsung antara tindakan membunuh ular oleh suami dan cacat lahir pada anak. Cacat lahir tidak disebabkan oleh perbuatan simbolis atau kejadian eksternal seperti membunuh hewan.
Penelitian medis menegaskan bahwa cacat lahir biasanya disebabkan oleh faktor genetik, gaya hidup ibu selama kehamilan, pengaruh obat yang dikonsumsi, atau infeksi. Oleh karena itu, mitos ini tidak terbukti secara ilmiah dan meyakininya dapat mengalihkan perhatian dari penyebab cacat lahir yang sebenarnya.
Dalam ajaran Islam, membunuh hewan tanpa alasan yang syar'i atau menyiksanya tidaklah dibenarkan. Namun, ada pengecualian penting terkait hewan yang membahayakan.
Membunuh ular diperbolehkan bahkan dianjurkan jika hewan tersebut membahayakan manusia, seperti ular berbisa, karena termasuk dalam kategori binatang yang membahayakan (fuwaisiq). Keselamatan jiwa adalah prioritas dalam Islam. Namun, untuk ular yang ditemukan di dalam rumah, ada anjuran untuk memperingatkan ular tersebut terlebih dahulu untuk pergi dalam waktu tiga hari, baru boleh dibunuh jika masih ada.
Tidak ada dalil satu pun dalam Islam yang melarang suami menyembelih hewan (untuk konsumsi) atau membunuh hewan berbahaya saat istri hamil. Meyakini bahwa membunuh binatang saat istri hamil bisa menyebabkan janin cacat tanpa bukti ilmiah atau dalil agama dapat termasuk dalam kategori syirik kecil.
Advertisement
Fakta Medis Penyebab Bayi Lahir Cacat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5429053/original/061734600_1764572199-pregnant-woman-sitting-bed-touching-her-belly.jpg)
Setelah mengurai mitos, penting untuk memahami penyebab cacat lahir yang sebenarnya dari sudut pandang medis. Ada banyak faktor yang dapat membuat bayi lahir dalam kondisi cacat, dan sebagian besar dapat dicegah atau dikelola.
1. Faktor Genetik dan Kromosom
Cacat lahir seringkali disebabkan oleh kelainan genetik atau kromosom. Kelainan kromosom dapat terjadi karena kromosom yang hilang atau berlebih, seperti pada kasus Down Syndrome yang menyebabkan keterlambatan perkembangan mental dan fisik anak.
Selain itu, mutasi gen tunggal dan faktor keturunan juga berperan penting. Kelainan kongenital multipel (KKM), penyebab utama kecacatan pada bayi, 50% di antaranya tidak diketahui penyebabnya, sisanya disebabkan kelainan gen tunggal, kromosom, atau pewarisan multifaktorial.
2. Faktor Gizi dan Kesehatan Ibu
Kekurangan asam folat selama kehamilan merupakan salah satu penyebab utama cacat lahir yang dapat dicegah. Penelitian menunjukkan bahwa kekurangan asam folat dan multivitamin pada saat kehamilan menjadi penyebab kecacatan yang utama, mencapai 49% kasus, karena asam folat penting untuk pembentukan tabung saraf janin.
Selain itu, defisiensi multivitamin dan mineral lain juga berkontribusi. Obesitas pada ibu hamil juga dapat meningkatkan risiko cacat lahir, sehingga penting menjaga berat badan ideal.
3. Paparan Zat Berbahaya (Teratogen)
Paparan zat teratogenik, yaitu zat yang dapat menyebabkan cacat lahir, merupakan faktor risiko signifikan. Ini termasuk konsumsi alkohol, rokok (nikotin, tar), dan obat-obatan terlarang yang dapat menghambat perkembangan janin, menyebabkan IQ rendah, berat badan tidak normal, dan perilaku tidak baik.
Infeksi selama kehamilan, seperti Rubella, Toxoplasma, Cytomegalovirus (CMV), Herpesvirus, dan Zika, juga dapat menyebabkan cacat lahir. Paparan radiasi atau bahan kimia berbahaya juga termasuk dalam kategori ini yang harus dihindari.
4. Kondisi dan Gaya Hidup
Beberapa kondisi dan gaya hidup ibu juga dapat memengaruhi risiko cacat lahir. Usia ibu yang terlalu tua atau terlalu muda, serta penyakit kronis ibu yang tidak terkontrol seperti diabetes dan hipertensi, dapat meningkatkan risiko.
Stres psikologis berat pada ibu hamil juga dapat berdampak negatif pada kehamilan. Inilah yang mungkin menjadi seed of truth di balik mitos, bukan aksi membunuh ular itu sendiri, melainkan dampak trauma atau ketakutan yang ditimbulkannya pada ibu.
Cara Mencegah Cacat Lahir Sejak Dini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496723/original/082498100_1688964288-sylwia-bartyzel-m7HrMJJ0bW0-unsplash.jpg)
Meskipun beberapa cacat lahir tidak dapat dicegah, banyak di antaranya dapat diminimalkan risikonya melalui persiapan dan perawatan yang tepat. Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah bayi lahir dalam kondisi cacat.
1. Persiapan dan Pemeriksaan Pra-Kehamilan
Pencegahan cacat lahir dimulai bahkan sebelum kehamilan. Penting untuk melakukan konsultasi dengan dokter (prenatal check-up) untuk merencanakan kehamilan yang sehat. Salah satu langkah krusial adalah mengonsumsi asam folat setidaknya 400 mcg/hari sejak merencanakan kehamilan, karena ini dapat mengurangi risiko cacat tabung saraf.
Skrining penyakit menular dan kondisi genetik juga direkomendasikan untuk mengidentifikasi potensi risiko sejak dini, memastikan kesehatan optimal bagi ibu dan janin.
2. Perawatan Selama Kehamilan
Selama kehamilan, kontrol kehamilan (Antenatal Care/ANC) secara teratur sangat penting untuk memantau kesehatan ibu dan janin. Ibu hamil harus menerapkan pola makan bergizi seimbang, kaya asam folat (dari sayuran hijau, kacang-kacangan), dan multivitamin.
Menghindari seluruh paparan zat teratogen seperti rokok, alkohol, dan obat-obatan tanpa resep dokter adalah keharusan. Vaksinasi yang aman untuk ibu hamil (sesuai anjuran dokter) dan menjaga kebersihan diri serta lingkungan juga penting untuk mencegah infeksi yang dapat membahayakan janin.
3. Menjaga Kesehatan Psikologis
Menciptakan lingkungan yang tenang dan suportif bagi ibu hamil sangat penting untuk menjaga kesehatan psikologisnya. Komunikasi yang baik antara suami dan istri, serta dukungan emosional, dapat mengurangi stres. Daripada berfokus pada larangan mitos seperti membunuh ular, yang lebih penting adalah melindungi ibu dari stres dan trauma, termasuk jika ia sangat takut pada ular atau kejadian yang mengancam.
Advertisement
FAQ
Q: Apakah bayi bisa lahir bersisik jika ayahnya membunuh ular?
A: Tidak benar. Itu adalah mitos. Cacat fisik seperti kulit bersisik tidak disebabkan oleh tindakan membunuh hewan, melainkan oleh kelainan genetik, kondisi medis spesifik, atau faktor lingkungan yang memengaruhi perkembangan janin.
Q: Bagaimana hukum Islam jika ada ular berbisa di rumah saat istri hamil?
A: Dalam Islam, diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk membunuh ular yang membahayakan seperti ular berbisa, karena termasuk hewan pembawa bahaya (fuwaisiq). Keselamatan jiwa adalah prioritas dalam Islam. Namun, untuk ular yang ditemukan di rumah, ada anjuran untuk memperingatkan terlebih dahulu selama tiga hari sebelum membunuhnya.
Q: Benarkah kekurangan asam folat adalah penyebab cacat lahir utama?
A: Benar. Berdasarkan penelitian, kekurangan asam folat dan multivitamin selama kehamilan merupakan kontributor utama yang dapat dicegah, menyumbang sekitar 49% kasus cacat lahir. Konsumsi asam folat sangat vital sejak sebelum hamil untuk pembentukan tabung saraf janin.
Q: Selain medis, apa peran suami untuk mencegah cacat lahir?
A: Peran suami sangat krusial. Suami harus mendukung pola hidup sehat istri, menciptakan lingkungan bebas stres dan asap rokok, membantu pekerjaan berat, dan menemani istri kontrol ke dokter secara rutin. Fokuslah pada dukungan nyata dan positif, bukan pada pantangan mitos yang tidak berdasar.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5496891/original/097309800_1770608635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T103958.761.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710243/original/038928400_1782790135-IMG_3966.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715404/original/084148600_1782803575-Cek_fakta_bsu_25_juta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714532/original/000144500_1782797436-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-30T122233.633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3051591/original/000650000_1657289366-IMG_20220526_150737_149.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5430455/original/058941100_1764663800-Mencoba_Menangkap_atau_Membunuhnya_Sendiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812277/original/052062800_1684314288-Beach_life.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715414/original/056650500_1782804083-AP26180851266408.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711445/original/003693600_1782792455-000_B8QK6YV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715315/original/077601700_1782799662-Netherlands__Jan_Paul_van_Hecke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8714917/original/028527700_1782798194-Brazil_s_Gabriel_Martinelli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8713141/original/058795600_1782795003-Germany_players_are_dejected.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8513256/original/026711200_1782437004-AP26176799194484.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710893/original/011996500_1782791219-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.26__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8709002/original/001727100_1782787701-000_B8QH9N2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8711341/original/045734100_1782792164-IMG-20260630-WA0021.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)