Liputan6.com, Jakarta Ular dikenal sebagai reptil tanpa kaki yang sering menimbulkan ketakutan bagi banyak orang. Meski tampak terbatas dalam bergerak, ular justru termasuk hewan paling mematikan di dunia.
Senjata utama ular bukanlah gigi tajam atau tubuhnya yang lincah, melainkan bisa—racun biologis yang mereka suntikkan melalui gigitan. Bisa inilah yang membuat sebagian besar ular berbisa menjadi ancaman bagi manusia dan hewan lainnya.
Dilansir Liputan6.com dari AZ Animals, Selasa (28/10/2025), artikel ini akan membahas empat jenis utama bisa ular yang bekerja dengan cara berbeda terhadap tubuh manusia. Mulai dari menyerang sistem saraf hingga merusak jaringan darah dan otot.
Advertisement
Namun, di antara semuanya, ada satu jenis bisa yang paling berbahaya dan benar-benar harus dihindari jika tak ingin nyawa melayang.
Alasan Beberapa Ular Menggunakan Bisa
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4734671/original/026981800_1707064726-ular_berbisa_8.jpg)
Ular berbisa menggunakan bisanya untuk melumpuhkan mangsa dan membantu proses pencernaan. Penelitian pada awal tahun 2000-an menunjukkan bahwa bisa dari ular jenis elapid dan viperid mampu memicu pelepasan protein bebas serta menghancurkan struktur sel, sehingga mangsa lebih mudah dicerna.
Bisa ular merupakan campuran kompleks dari berbagai senyawa organik, sehingga fungsinya tak hanya untuk membunuh mangsa. Setiap spesies ular bisa memiliki komposisi racun yang berbeda sesuai kebutuhan dan lingkungannya.
Evolusi juga berperan besar. Misalnya, ular golden lancehead yang hidup terisolasi di Snake Island, Brasil. Karena pulau ini tidak memiliki populasi mamalia, bisa ular ini berevolusi menjadi lebih kuat terhadap burung, yang merupakan sumber makanannya di sana.
Advertisement
4 Jenis Bisa Ular dan Efek Mematikannya pada Tubuh Manusia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/811404/original/058816900_1423977991-7.jpg)
Secara umum, ada empat jenis utama bisa ular, yaitu proteolitik, hemotoksik, neurotoksik, dan sitotoksik. Masing-masing jenis memiliki cara kerja berbeda dalam melumpuhkan atau membunuh mangsanya.
1. Bisa Proteolitik
Jenis bisa ini mengandung enzim yang memecah jaringan tubuh dan dinding pembuluh darah, menyebabkan kerusakan parah di area gigitan. Efeknya tampak nyata berupa pembengkakan, jaringan membusuk, hingga pendarahan lokal. Ular seperti rattlesnake dan pit viper memiliki kadar bisa proteolitik tinggi, yang bekerja bersama bisa hemotoksik untuk mempercepat kematian mangsa sekaligus membantu pencernaan.
2. Bisa Hemotoksik
Bisa ini menyerang sel darah merah, jaringan, dan organ tubuh, menimbulkan nyeri hebat, pendarahan internal, dan gangguan peredaran darah. Hemotoksin dapat menyebabkan darah membeku berlebihan atau justru tidak membeku sama sekali, keduanya bisa berujung fatal. Meski efeknya lebih lambat dibanding jenis lain, korban bisa selamat jika segera mendapat penanganan medis. Ular seperti Russell’s viper, rattlesnake, dan copperhead termasuk jenis ini.
3. Bisa Neurotoksik
Jenis ini menyerang sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan otot, gangguan otak, hingga hilang kesadaran. Efeknya cepat dan sering tanpa rasa sakit, sehingga korban sering tidak menyadari telah digigit hingga gejala muncul. Black mamba misalnya, dapat membuat manusia tak sadarkan diri dalam waktu kurang dari satu jam, dan tanpa pertolongan medis, bisa ini berakibat fatal.
4. Bisa Sitotoksik
Bisa ini merusak dan membunuh sel-sel tubuh, terutama pada kulit dan jaringan di bawahnya. Biasanya dimiliki oleh ular kobra dan jenis elapid lainnya. Meskipun tidak secepat mematikan seperti hemotoksin atau neurotoksin, efeknya bisa menimbulkan luka parah, hilangnya fungsi anggota tubuh, atau cacat permanen. Bahkan setelah sembuh, bekas luka dari bisa sitotoksik sering meninggalkan kerusakan jangka panjang.
Jenis Bisa Ular Paling Mematikan di Dunia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5210513/original/043723200_1746510058-WhatsApp_Image_2025-05-06_at_12.33.03_PM.jpeg)
Dari semua jenis bisa ular, bisa neurotoksik dianggap sebagai yang paling mematikan dan paling harus dihindari. Racun ini menyerang sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan, kehilangan kesadaran, hingga kematian dalam waktu 30 menit hingga beberapa jam, tergantung jumlah racun dan kondisi korban.
Sebagian besar neurotoksin bersifat fatal tanpa pengobatan cepat. Misalnya, ular black mamba memiliki tingkat kematian 100% jika tidak ditangani secara medis, menjadikannya ular paling berbahaya di dunia.
Namun, bukan berarti jenis bisa lainnya mudah dihadapi. Bisa sitotoksik menimbulkan rasa sakit luar biasa, sedangkan bisa hemotoksik menyebabkan kerusakan jaringan dan pendarahan hebat yang sering berujung kehilangan anggota tubuh.
Advertisement
FAQ
Apa saja empat jenis bisa ular yang perlu diketahui?
Empat jenis bisa ular meliputi bisa proteolitik, hemotoksik, neurotoksik, dan sitotoksik, masing-masing dengan karakteristik berbeda.
Bagaimana efek bisa hemotoksik pada tubuh manusia?
Bisa hemotoksik merusak sel dan jaringan, menyebabkan nyeri, gangguan pembekuan darah, pendarahan internal, hingga gagal jantung.
Apa yang membuat bisa neurotoksik sangat berbahaya?
Bisa neurotoksik menyerang sistem saraf, bekerja sangat cepat, dan seringkali tanpa rasa sakit awal, dapat menyebabkan ketidaksadaran dan kematian.
Mengapa bisa proteolitik sering tidak disebutkan terpisah?
Bisa proteolitik adalah komponen umum yang ditemukan di semua jenis bisa ular, sehingga sering tidak dikategorikan sebagai jenis terpisah.
Ular jenis apa yang memiliki bisa hemotoksik?
Ular derik, Russell's viper, dan copperheads dikenal memiliki bisa hemotoksik yang merusak darah dan jaringan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5550896/original/089873500_1775711382-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-09T120454.556.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5411187/original/066520500_1763004762-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-11-13T103028.882.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4866719/original/017032400_1718697583-Pajak1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497481/original/095565600_1770631238-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-09T163415.626.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1418609/original/089215400_1480304990-pertolongan_pertama_digigit_ular_berbisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288624/original/094450800_1783327932-000_B9C996W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293466/original/077963300_1783718956-063_2285564351.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262489/original/072589900_1781818934-Switzerland_s_Johan_Manzambi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293456/original/054507100_1783717417-000_B9W36UY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293465/original/017817900_1783718956-063_2285562554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293455/original/048931800_1783717383-000_B9W36VN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110960/original/024723100_1783047145-sp7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289078/original/032461700_1783391107-bel11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291435/original/001786200_1783562166-argentina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292618/original/088093700_1783634462-000_B9T74UT.jpg)