Liputan6.com, Jakarta - Astaghfirullah wa atubu ilaih artinya adalah ungkapan zikir dengan tulisan Arab أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ. Dalam Islam, kata-kata ini memiliki makna yang sangat mendalam dan berarti dalam praktik keagamaan sehari-hari. Istighfar adalah bentuk permohonan ampun kepada Allah SWT.
Sementara "atubu ilaih" artinya menunjukkan niat tulus untuk bertobat dari segala dosa dan kesalahan.
Dalam buku berjudul "Dahsyatnya Terapi Istighfar" yang ditulis oleh Hasan Hammam, Dadang Kusmayadi, dan Ahmad Faisal (2013), disarankan untuk membaca kalimat istighfar astaghfirullah wa atubu ilaih sebanyak 100 kali setiap hari.
Advertisement
Ini bukan hanya sekadar rutinitas keagamaan, tetapi juga merupakan suatu bentuk praktik spiritual yang membantu individu mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan kesadaran akan kesalahan dan dosa yang mungkin telah dilakukan. Begitupula waktu yang dianjurkan untuk mengamalkan astaghfirullah wa atubu ilaih.
Berikut Liputan6.com ulas lebih mendalam tentang arti astaghfirullah wa atubu ilaih, Kamis (19/6/2025).
Astaghfirullah wa Atubu Ilaih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2798272/original/079059200_1557206746-20190507-Mengisi-Waktu-Berpuasa-dengan-Tadarus-ARBAS-6.jpg)
أَسْتَغْفِرُ الله وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullah wa atubu ilaih
Artinya:
“Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertobat kepadanya.”
Hadis yang diriwayatkan dari ibnu Umar menunjukkan praktik istighfar yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dalam hadis tersebut, Rasulullah mengucapkan kalimat istighfar astaghfirullah wa atubu ilaih sebanyak seratus kali dalam satu majelis.
Dalam HR. Abu Dawud (1516), Rasulullah SAW berdoa:
"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha Menerima taubat lagi maha penyayang." ini menggambarkan kerendahan hati dan keinginan untuk memperbaiki diri di hadapan Allah.
Selain itu, hadis lain yang diriwayatkan dalam HR. Ahmad menegaskan keutamaan istighfar astaghfirullah wa atubu ilaih. Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya, dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka."
Penjelasan Arti Astaghfirullah wa Atubu Ilaih:
Ini menunjukkan bahwa istighfar astaghfirullah wa atubu ilaih, bukan hanya sebagai sarana memohon ampun. Akan tetapi, juga sebagai cara untuk mendapatkan bantuan Allah dalam menghadapi tantangan hidup.
Dalam ajaran Islam, istighfar memiliki peran yang sangat penting. Bacaan ini adalah pengakuan dari umat Muslim bahwa mereka adalah manusia yang penuh dengan kesalahan, dosa, dan lupa. Istighfar juga merupakan upaya untuk membersihkan hati, menghapus catatan kesalahan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selain fungsi spiritualnya, istighfar juga memiliki nilai psikologis yang positif. Merenungkan dosa-dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan, seseorang dapat menjadi lebih sadar akan perilaku mereka dan berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam buku "Matematika Pahala" karya Asrifin An Nakhrawie (2020), istighfar digambarkan sebagai permohonan ampun yang tulus yang datang dari hati seorang hamba kepada Tuhan. Dalam mengucapkan kalimat "astaghfirullah," seorang Muslim merenungkan kesalahan mereka, mengakui kelemahan mereka, dan berusaha untuk mendapatkan ampunan serta petunjuk dari Allah.
Ini adalah langkah pertama menuju perbaikan diri dan pencapaian kesejahteraan spiritual.
Advertisement
Waktu-Waktu Utama Mengamalkan Astaghfirullah wa Atubu Ilaih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4859531/original/051220700_1718070898-pexels-serhattugg-20558485.jpg)
1. Sepertiga Malam Terakhir & Waktu Sahur
Pada waktu ini, Allah disebutkan turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Ini adalah momen paling utama untuk memperbanyak istighfar.
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda:
“Tuhan kita turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam terakhir dan berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni.’(HR Bukhari & Muslim)
2. Setelah Melakukan Dosa atau Kesalahan
Istighfar sebaiknya langsung dibaca saat seseorang menyadari telah berbuat dosa, baik dosa kecil maupun besar. Hal ini merupakan bentuk kesadaran dan pertobatan langsung kepada Allah tanpa menunda-nunda waktu.
Dalam buku Sukses Dunia-Akhirat dengan Istighfar dan Taubat oleh Abu Utsman Kharisman disebutkan:
“Segera beristighfar setelah melakukan dosa akan menutup celah syaitan yang ingin terus menjerumuskan manusia.”
(Kharisman, tanpa tahun)
3. Setelah Menunaikan Sholat Fardhu
Membaca istighfar tiga kali setelah salam sholat merupakan sunnah yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Ini adalah bentuk refleksi diri dan pengakuan bahwa ibadah belum tentu sempurna.
Dalam buku Matematika Pahala oleh Asrifin An-Nakhrawie, disebutkan:
“Membaca istighfar seusai sholat fardhu bukanlah karena merasa berdosa, tetapi untuk menutup kekurangan dalam ibadah itu sendiri.
4. Di Tengah Aktivitas Sehari-hari
Membaca istighfar tidak harus dilakukan dalam kondisi formal seperti sedang duduk di sajadah. Ia bisa dilakukan kapan saja saat bekerja, memasak, berjalan, bahkan ketika menaiki kendaraan.
Dilansir dari laman Pusat Kajian Fiqih dan Ilmu-Ilmu Keislaman (2023), disebutkan bahwa Rasulullah SAW sendiri sering beristighfar dalam berbagai kesempatan.
“Perbanyaklah istighfar di manapun kalian berada, karena kalian tidak tahu kapan ampunan Allah itu turun.” (HR Bukhari & Muslim)
Astaghfirullah Hal Adzim Min Kulli Dzanbin wa Atubu Ilaih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2241533/original/091710500_1528333806-20180606-Muslim-Afghanistan-Berburu-Berkah-Lailatul-Qadar-AP-1.jpg)
Arti dari ungkapan astaghfirullah hal adzim min kulli dzanbin wa atubu ilaih tidak jauh berbeda dengan ungkapan astaghfirullah wa atubu ilaih." Kedua ungkapan ini memiliki akar kata yang sama, yaitu "ghofara," yang dalam bahasa Arab berarti "menutup."
Menurut pandangan Quraish Shihab dalam bukunya berjudul "Shihab & Shihab Edisi Ramadhan", yang dihormati sebagai seorang cendekiawan Islam, yang ditutupi oleh Allah secara umum dalam istighfar adalah dosa.
Ini berarti ketika seseorang memohon ampun dengan mengucapkan "Astaghfirullah" atau "Istighfar," mereka mengakui kesalahan mereka dan meminta Allah untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Dalam hal ini, "ghofara" juga memiliki makna "memperbaiki." Jadi, beristighfar bukan hanya tentang meminta ampun, tetapi juga tentang usaha untuk memperbaiki diri agar menjadi lebih baik di mata Allah SWT.
Kemudian, perlu memperhatikan tambahan kata "al-adzim" dalam ungkapan astaghfirullah hal adzim min kulli dzanbin wa atubu ilaih. Kata ini dapat diartikan sebagai na'at atau sifat dari Allah yang mempunyai arti yang Maha Agung. Adanya kata "al-adzim," ungkapan ini lebih menekankan pada sifat agung Allah dan penghormatan terhadap-Nya yang Mahabesar.
Dalam segi arti, "Astaghfirullah" berarti "Aku memohon ampun kepada Allah," sementara arti "Astaghfirullah al-adzim" berarti "Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung."
Ungkapan istighfar astaghfirullah hal adzim min kulli dzanbin wa atubu ilaih juga ditemukan dalam kitab "Zubdat al-Asrār," yang merupakan sebuah kalimat istighfar yang diajarkan oleh Syaikh Yusuf al-Makassari. Arti astaghfirullah hal adzim min kulli dzanbin wa atubu ilaih adalah "Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, dari semua dosa yang aku perbuat."
أستغفر الله العظيم من كلّ ذنبٍ أذنبته عمدًا أو خطأ سرًّا أو جهرًا كبيرًا أو صغيرًا وأتوب إليه من الذنب الذي أعلم ومن الذنب الذي لا أعلم وأنت علّام الغيوب ستار العيوب كشاف الكروب فلا حول ولا قوَّة إلا بالله العلي العظيم وإنا لله وإنا إليه راجعون
Astaghfirullaha al-‘Adzim min kulli dzanbin ‘adznabtuhu ‘amdan aw khatha’an, sirran aw jahran, kabiiran aw shaghiiran, wa atuubu ilahi min al-dzanbilladzi a’lamu wa al-dzanbilladzi la a’lam. Wa anta ‘allaamu al-ghuyuub sattar al-‘uyuub kassyaf al-kuruub, fa laa hawla wa laa quwwata illa billahi al-‘aliyy al-‘azhiim wa inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un.
Artinya:
"Aku memohon kepada Allah yang Maha Agung, dari semua dosa yang aku perbuat, sengaja ataupun khilaf, diam-diam atau terang-terangan, besar atau kecil, dan aku bertobat kepada-Nya dari dosa-dosa yang aku ketahui dan tidak. Engkaulah yang Maha Mengetahui yang gaib, Maha Menutupi aib, Maha Mewujudkan bencana, dengan demikian tiada daya dan upaya bagiku kecuali karena Allah semata Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan, sesungguhnya kita (semua hanya) kembali pada Allah dan hanya kepada-Nya kita (semua) kembali."
Jadi, perbedaan antara kedua ungkapan ini adalah tambahan kata "al-adzim" yang menekankan pada sifat agung Allah dalam "Astaghfirullah al-adzim." Namun, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memohon ampun kepada Allah, mengakui dosa-dosa, dan berusaha untuk memperbaiki diri di hadapan-Nya.
Advertisement
Q&A Seputar Doa Astaghfirullah Wa Atubu Ilaih
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4634077/original/027217700_1698981052-pexels-pavel-danilyuk-8422438.jpg)
Q1: Apa arti lengkap dari doa Astaghfirullah wa atubu ilaih dalam bahasa Indonesia?
A1: Doa ini berarti “Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya.” Ini adalah bentuk pengakuan dosa dan permohonan ampun secara langsung kepada Allah SWT. Doa ini mencerminkan kesadaran diri seorang hamba atas kesalahannya dan keinginan kuat untuk kembali kepada jalan yang benar.
Q2: Apakah doa Astaghfirullah wa atubu ilaih hanya untuk dosa besar saja?
A2: Tidak. Doa ini bisa dibaca setelah melakukan kesalahan kecil, ketidaksengajaan, atau bahkan sebagai bentuk introspeksi diri harian. Rasulullah SAW sendiri mengucapkan istighfar ini lebih dari 70 kali sehari, padahal beliau adalah manusia yang ma’shum (terjaga dari dosa) — sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Bukhari.
Q3: Apakah doa ini harus dibaca dalam bahasa Arab atau boleh diterjemahkan?
A3: Lebih utama dibaca dalam bahasa Arab karena itu lafaz yang diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, jika seseorang belum mampu, membaca maknanya dalam bahasa Indonesia juga diperbolehkan sebagai bentuk taubat, selama diniatkan dengan sungguh-sungguh.
Q4: Apakah doa ini bisa dijadikan wirid harian?
A4: Ya. Doa ini dianjurkan untuk dibaca secara rutin, baik pagi, sore, maupun sebelum tidur. Sebagaimana disebutkan dalam Fathul Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani, banyak ulama menganjurkan untuk menjadikan istighfar sebagai wirid rutin karena manfaatnya yang besar dalam mendatangkan rahmat dan keberkahan hidup.
Q5: Apa perbedaan Astaghfirullah dengan Astaghfirullah wa atubu ilaih?
A5: Astaghfirullah berarti “Aku memohon ampun kepada Allah,” sedangkan Astaghfirullah wa atubu ilaih menambahkan unsur taubat, yaitu “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.” Doa kedua lebih lengkap karena mengandung unsur permohonan dan pernyataan kembali ke jalan yang benar.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1919772/original/078451300_1618831223-IMG-20210310-WA0034.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/556495/original/100816afoto-zikir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/2608262/original/030108300_1666512422-pexels-ibrahim-hasan-3944317.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1812256/original/019737900_1776314232-pexels-beyzaa-yurtkuran-279977530-17071110.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8322679/original/008420700_1782191790-Amine_Gouiri.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)