Sukses

Sulitnya Menurunkan Jumlah Kasus HIV/AIDS di Papua

Aktivis peduli masalah HIV-AIDS di Kabupaten Mimika, Papua, Pastor Bert Hogendoorn OFM menilai angka penularan kasus tersebut sangat sulit dikendalikan di Kabupaten Mimika akibat tingginya arus urbanisasi warga dari daerah lain ke wilayah itu.
    
"Angka kumulatif HIV-AIDS tidak pernah bisa diturunkan. Yang bisa dikendalikan hanyalah penambahan atau temuan kasus baru. Upaya ke arah itu tetap ada namun masalah utama di Timika yaitu mobilitas warga yang sangat tinggi dimana setiap saat terus-menerus ada orang baru yang datang dari luar dan kurang memahami adanya epidemi HIV-AIDS di Timika," kata Pastor Hogendoorn kepada Antara di Timika, Senin.
     
Sesuai data KPA Mimika, saat ini jumlah kasus HI-AIDS di Mimika sebanyak lebih dari 3.600 kasus. Temuan kasus HIV-AIDS di Mimika merupakan yang tertinggi di Papua dan Papua menduduki peringkat dua tertinggi di Indonesia setelah DKI Jakarta.
     
Pastor Hogenboorn yang sudah lebih dari 10 tahun terlibat dalam upaya penanggulangan masalah HIV-AIDS terutama di kalangan pemuda dan remaja mengatakan mereka yang saat teridentifikasi tertular HIV-AIDS, kemungkinan besar telah terinfeksi sejak kurun waktu 3-5 tahun lalu. Program penyuluhan yang dilakukan berbagai lembaga saat ini, katanya, akan terlihat efeknya pada kurun waktu 3-5 tahun ke depan.
     
Pastor Hogenboorn yang menjabat sebagai Direktur Yayasan Peduli AIDS Daerah (Yapeda) Mimika mengatakan lembaga yang dipimpinnya itu masih memberikan pelayanan kepada Orang Dengan HIV-AIDS serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan perhatian khusus pada kaum remaja melalui sekolah-sekolah dan para remaja putus sekolah.
     
Pastor Hogendoorn menyatakan prihatin dengan laju penularan HIV-AIDS di kalangan pemuda dan remaja di Mimika. Dari temuan 3.600 kasus HIV-AIDS di Mimika, katanya, sebanyak dua persen diantaranya menimpa pemuda dan remaja.
     
"Sebanyak dua persen dari angka kumulatif kasus HIV-AIDS di Mimika berada dalam usia remaja dan pemuda hingga 25 tahun. Itu yang tercatat, tapi sudah tentu masih banyak yang belum terdata. Dalam kegiatan yang kami lakukan selama ini, kadang-kadang kita menemukan kasus AIDS yang tidak pernah terdata dan tidak mau ikut pengobatan," tutur Pastor Hogenboorn.
     
Dari laporan yang diterima Yapeda Mimika, katanya, program pengobatan para ODHA dengan pemberian obat Anti Retroviral (ARV) selama ini berjalan memuaskan di Mimika. Meski banyak yang ’drop-out’ mengonsumsi ARV, namun para staf di berbagai pusat layanan kesehatan terus memberikan pengawasan kepada para ODHA untuk tetap mengonsumsi ARV secara teratur.
     
"Mengonsumsi obat secara teratur dan terikat pada jam tertentu memang menjadi sebuah tuntutan yang berat. Sudah tentu bahwa ada yang tetap ’drop-out’, tapi staf tetap ada untuk mengawasi," tutur Pastor Hogenboorn.
     
Menurut dia, obat ARV tersedia dalam jumlah yang cukup untuk dikonsumsi para ODHA di Mimika. Mereka bisa menemukan obat itu pada berbagai apotek, rumah sakit dan pusat layanan kesehatan lainnya di Timika secara gratis karena ditanggung oleh pemerintah.

(Abd)