Kolesterol Kerap Dianggap Musuh, Padahal pada Kadar Normal Justru Bermanfaat

Kolesterol merupakan salah satu senyawa lemak (lipid) yang menyerupai lilin. Pada tingkat yang normal kolesterol berperan dalam memproduksi sel-sel sehat tubuh.

Diterbitkan 09 Februari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kolesterol mungkin kata atau istilah yang kerap kali dianggap negatif oleh hampir seluruh kelompok masyarakat. Namun, sebenarnya perilaku dan kebiasaan seseorang yang mengubah kolesterol menjadi kata yang menyeramkan bagi kesehatan.

Menurut ahli gizi (dietisien) RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, Yesi Herawati, S.Gz, RD, pada umumnya orang menghindari makanan yang mengandung kolesterol karena takut terkena penyakit jantung.

"Pendapat itu mungkin benar tapi bisa juga jadi tidak demikian. Sebagian orang ada yang tidak tahu apa itu kolesterol, bahkan tidak peduli sama sekali. Bagi mereka yang penting makan bisa nikmat dan mengenyangkan," terang Yesi dicuplik dari laman RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung.

Yesi menerangkan kolesterol merupakan salah satu senyawa lemak (lipid) yang menyerupai lilin. Sebagian kolesterol diproduksi di hati, serta sebagian lainnya didapatkan dari makanan.

Kolesterol tinggi (hiperkolesterol) adalah kondisi dimana tingkat kolesterol dalam darah melampaui kadar normal, sehingga dapat berpengaruh buruk bagi kesehatan.

"Makanya tak heran kalau ada orang yang sudah menjalankan diet rendah lemak masih tetap tinggi kolesterolnya karena produksi di hatinya tinggi," kata Yesi.

Ia menjelaskan fungsi kolesterol adalah turut memproduksi sel-sel sehat, sejumlah hormon (seperti hormon testosteron, kortisol, dan estrogen), vitamin D dan asam empedu untuk membantu mencerna lemak dari makanan," jelas Yesi.

Walaupun dibutuhkan, Yesi menegaskan kolesterol yang berlebih akan tertimbun di sepanjang dinding pembuluh darah arteri sebagai plak, sehingga aliran darah menjadi sempit dan terhambat.

Oleh karena itu, banyak bagian tubuh yang kekurangan pasokan darah. Hal inilah yang dapat menimbulkan masalah kesehatan serius, seperti serangan jantung atau stroke.

"Di dalam darah, kolesterol dibawa oleh protein yang disebut lipoprotein. Terdapat dua jenis lipoprotein dengan kepadatan rendah (LDL) yang biasa kita kenal dengan kolesterol jahat, dan lipoprotein dengan kepadatan tinggi (HDL) yang lebih kita kenal dengan kolesterol baik," ungkap Yesi.

Yesi menuturkan LDL bertugas mengangkut kolesterol dari organ hati ke sel-sel yang membutuhkan. Namun jika jumlah kolesterol melebihi kebutuhan, maka dapat mengendap pada dinding pembuluh arteri dan menyebabkan penyakit jantung atau stroke.

Sedangkan HDL berfungsi mengangkut kolesterol kembali ke organ hati. Di dalam hati, kolesterol akan dihancurkan atau dikeluarkan oleh tubuh melalui kotoran.

"Jumlah HDL yang lebih tinggi daripada LDL dalam tubuh sangat baik untuk kesehatan dan dapat membantu pencegahan penyakit kronis," ungkap Yesi.

 

Senyawa Lipid Bernama Trigliserida

Selain kolesterol LDL dan HDL, terdapat senyawa lipid lainnya yang sering diperiksa bersama kolesterol, yaitu trigliserida. Trigliserida adalah jenis lain dari senyawa lemak.

Tubuh akan mengubah kalori yang tidak digunakan menjadi trigliserida dan dilepaskan menjadi diantara waktu makan. Kadar trigliserida yang tersimpan dalam sel lemak akan semakin tinggi jika kalori (karbohidrat dan lemak) yang tertimbun lebih banyak daripada kalori yang terbakar.

"Belum diketahui secara pasti bagaimana kadar trigliserida yang tinggi berperan menyebabkan aterosklerosis, yang meningkatkan risiko penyakit jantung koroner atau stroke," sebut Yesi.

Namun, kadar trigliserida yang tinggi dapat menjadi tanda pengendalian yang buruk terhadap penyakit diabetes tipe 2, hipotiroidisme, penyakit hati, dan penyakit ginjal.

Kenaikan kadar trigliserida dalam tubuh seseorang juga dapat disebabkan oleh faktor genetik, kegemukan, terlalu banyak mengonsumsi minuman keras, dan terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tinggi gula atau lemak.

 

Faktor Pemicu Kolesterol Naik

Yesi memaparkan banyak faktor yang dapat meningkatkan kolesterol. Pada saat usia 40-50 tahun, pria ataupun wanita cenderung mengalami peningkatan kadar kolesterol darah terutama LDL.

"Peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi oleh perubahan fungsi dan metabolisme yang semakin menurun. Faktor yang sulit dikendalikan adalah faktor genetik, dimana terjadi kelainan di dinding sel yang menyebabkan hati terlalu banyak memproduksi LDL sehingga banyaknya LDL yang beredar di dalam darah," sebut Yesi.

Yesi mengatakan orang yang mempunyai riwayat keluarga hiperkolesterol walaupun kurus tetap berisiko terjadinya hiperkolesterol.

Selain faktor genetik, kolesterol tinggi juga bisa terjadi karena mengonsumsi makanan yang mengandung sumber kolesterol tinggi, lemak jenuh, dan lemak trans.

"Contohnya gorengan, makanan bersantan, ayam dengan kulit, kuning telur, jeroan, daging berlemak dan seafood," kata Yesi.

Yesi menyebut pula kurang olahraga juga dapat meningkatkan kolesterol. Dengan berolahraga dapat membantu meningkatkan lemak baik (HDL) dan membuat LDL menjadi kurang berbahaya dengan meningkatkan ukuran partikel yang membentuk LDL.

Selain itu, obesitas juga ikut andil dalam peningkatan kolesterol total, LDL dan trigliserida serta berperan dalam penurunan HDL. Asupan makan berlebih dan aktivitas fisik yang kurang semakin memperberat terjadinya obesitas .

"Apa lagi saat ini orang sudah dimanjakan dengan banyak kemudahan terutama alat transportasi, sehingga orang lebih banyak naik kendaraan daripada jalan kaki, lebih banyak duduk santai daripada mengerjakan pekerjaan rumah," ungkap Yesi.

 

Tips Hindari Hiperkolesterol

 

Kolesterol tinggi meningkatkan risiko seseorang terkena penyempitan pembuluh darah arteri, karena penumpukan plak dan pengerasan dinding pembuluh darah arteri yang disebut aterosklerosis.

Seiring waktu, kondisi ini dapat menyebabkan penyakit jantung koroner bila aterosklerosis terjadi di pembuluh darah jantung.

"Penyakit jantung koroner dapat ditandai dengan keluhan nyeri dada atau angina, dan berisiko menyebabkan serangan jantung," terang Yesi.

Kondisi serupa dapat terjadi pada pembuluh darah otak yang akan menyebabkan stroke, juga pada pembuluh darah lainnya, seperti tungkai, lengan, serta perut, yang akan menyebabkan penyakit arteri perifer.

Selain masalah jantung dan pembuluh darah, kolesterol tinggi juga dapat meningkatkan pembentukan kristal empedu yang bisa mengeras menjadi batu empedu.

"Mengingat risiko dari kolesterol tinggi, maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol dalam darah secara berkala," tukas Yesi.

Pemeriksaan tersebut dianjurkan, terutama bagi seseorang yang memiliki keluarga riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung dan pembuluh darah, serta bagi seseorang yang memiliki berat badan berlebih, hipertensi, atau diabetes.

 

5 Cara Mencegah Kolesterol Tinggi atau Hiperkolesterol

Yesi mengungkapka  5 cara menghindari terjadinya hiperkolesterol:

1. Menerapkan pola makan sehat dengan gizi seimbang

Batasi konsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi terutama makanan tinggi lemak dan karbohidrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang menjalankan diet rendah lemak dapat menurunkan kolesterol sebesar 13 persen.Selain itu hindari konsumsi alkohol, perbanyak sayuran dan dan buah-buahan.

Gunakan lemak tak jenuh untuk menurunkan LDL, seperti minyak zaitun, ikan salmon dan ikan lainnya yang kaya omega 3 tanpa digoreng, alpukat, dan kacang-kacangan.

2. Menurunkan berat badan berlebih

Dengan menurunkan berat badan , dengan sendirinya kadar kolesterol total juga ikut menurun.

3. Berolahraga secara teratur

Aktivitas fisik dapat memperbaiki kadar kolesterol dalam tubuh. Usahakan untuk berolahraga selama 30-60 menit tiap hari seperti jogging, lari, jalan kaki, bersepeda atau berenang.

4. Menghentikan kebiasaan merokok

Merokok dapat menurunkan HDL dalam tubuh sehingga LDL akan terus meningkat. Selain itu juga merokok dapat mempercepat penumpukan plak dalam arteri.

5. Menghindari stres

Pada saat kita stres, kadar LDL akan meningkat. Maka hindarilah stres cukupi kebutuhan tidur dan buatlah hidup yang menyenangkan.

Lima langkah diatas tadi mungkin dapat membantu Anda, agar tetap dapat beraktivitas tanpa harus khawatir terjadi hiperkolestreol di dalam tubuh. Jadi mengantisipasi lebih baik daripada mengobati.