Liputan6.com, Jakarta - Kasus penyakit akibat virus Nipah sedang terjadi di India. Yang menyedihkan, kasus bermula dari dua orang perawat di kota Barasat, negara bagian West Bengal, India. Satu perawat pria sudah membaik, tapi satu perawat wanita masih dalam kondisi kritis di ICCU.
Dari dua kasus awal tersebut, penyakit kemudian menyebar ke sedikitnya tiga orang lainnya, sehingga jelas telah terjadi penularan antar manusia. Saat ini, sekitar 100 orang yang merupakan kontak erat dari kasus-kasus tersebut berada dalam karantina dan pengawasan ketat.
Virus Nipah memang sangat patogenik dan merupakan virus RNA dari famili Paramyxoviridae. Virus ini bersifat Zoonotik, yaitu awalnya menular dari binatang (seperti kelelawar, babi, dan lain-lain) ke manusia.
Advertisement
Namun, pada kondisi tertentu, virus ini dapat menular antar manusia, seperti yang terjadi di India saat ini, selain juga dapat menular melalui makanan yang terkontaminasi.
Sejauh ini, di dunia telah tercatat sekitar 750 kasus sejak 1998 s.d 1999 yang bermula dari Malaysia. Hingga kini, letusan kasus virus Nipah juga pernah dilaporkan di Bangladesh, India, Malaysia, Filipina, dan Singapura, sehingga penyakit ini juga pernah muncul di negara tetangga kita.
Pada waktu saya bertugas sebagai Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, pernah pula dilaporkan letusan kasus ini di India dengan kecurigaan adanya kasus di Bangladesh.
Masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 4 hingga 21 hari, walaupun ada yang lebih lama. Gejala sering bermula dari keluhan seperti flu (flu-like illness), berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, dan lemah. Dua masalah utama yang kemudian dapat terjadi adalah gangguan paru dan gangguan di otak.
Â
Virus Nipah Serang Paru
Pada paru, keluhan dapat bermula dari batuk dan sesak napas, kemudian berkembang menjadi pneumonia yang bila tidak tertangani dapat berujung pada gagal napas. Sementara itu, gangguan di otak dapat berupa ensefalitis, dan pada sebagian kasus disertai meningitis.
Pada ensefalitis, pasien dapat menunjukkan berbagai gejala neurologis seperti kebingungan, gangguan kesadaran, kejang, hingga koma. Jika sudah berat, angka kematian dapat mencapai 40%–75%.
Perlu disampaikan bahwa hingga saat ini belum tersedia vaksin untuk pencegahan penyakit akibat virus Nipah, dan juga belum ada obat spesifik untuk mengobatinya.
Kita tentu perlu waspada di Indonesia, setidaknya karena lima hal.
Pertama, pada tahun 2018 WHO memasukkan penyakit akibat virus Nipah sebagai prioritas penelitian dan pengembangan dalam WHO R&D Blueprint. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini memang menjadi perhatian serius hingga tingkat global.
Kedua, di India tampak telah terjadi penularan antar manusia, sesuatu yang patut menjadi perhatian penting dalam pengendalian penyakit menular dunia.
Ketiga, banyak negara telah melakukan kewaspadaan khusus. Thailand, misalnya, melakukan skrining di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang, khususnya bagi pendatang dari negara bagian West Bengal, serta memberlakukan kartu kewaspadaan kesehatan (Health Beware Card). Nepal juga melakukan skrining di Bandara Internasional Tribhuvan.
Taiwan, pada 16 Januari 2026, memasukkan penyakit akibat virus Nipah ke dalam kategori 5, yaitu penyakit langka yang sedang muncul (emerging), berisiko besar bagi kesehatan masyarakat, dan memerlukan deteksi serta pelaporan segera, disertai penanganan khusus.
Taiwan juga memberlakukan peringatan Level 2 (kuning) bagi warganya yang berencana bepergian ke wilayah Kerala.
Â
Advertisement
Warga India ke Indonesia
Keempat, cukup banyaknya kunjungan warga India ke Indonesia sehingga diperlukan pengamatan khusus, setidaknya bagi mereka yang datang dari wilayah Kolkata dan West Bengal.
Kelima, Indonesia sebaiknya terus waspada dan mengikuti secara ketat perkembangan penularan yang terjadi, baik di India maupun di negara-negara tetangga.
Koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO) dan Pasifik Barat (WPRO) perlu ditingkatkan, termasuk pengaktifan kegiatan ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases).
Hal ini penting mengingat Indonesia memegang peran dalam deteksi dan asesmen risiko (Detection and Risk Assessment) di ACPHEED tersebut.
Prof. Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta
Kepala Balitbangkes Penerima Rekor MURI April 2024
Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)

:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/5484197/original/094786300_1769415999-Prof_Tjandra_Yoga_Aditama.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264097/original/098152700_1782090739-AP26172582885325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4891677/original/000043600_1721008752-10_AP24196756280349.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8504143/original/019730100_1782424741-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260740/original/033303400_1781654609-063_2281951293.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/934935/original/034536700_1437647124-AP_173328494831.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264147/original/086220300_1782096373-063_2282523599.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8465383/original/050312900_1782366651-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8416186/original/024427500_1782301137-dedy.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8412524/original/075709100_1782296596-muntah_darah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8408522/original/077840600_1782291770-MbahNdi_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5580020/original/087479900_1778124108-Gemini_Generated_Image_dq4o5cdq4o5cdq4o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4142369/original/038986000_1661944854-harry-cao-vqlWFI_LYEo-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8272477/original/090972000_1782124497-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_5.26.33_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7777090/original/090510300_1780589259-Kacamata_hitam.jpg)