Suka Menyimpan Dendam? Siap-Siap Risiko Diabetes dan Kanker Meningkat

Dendam yang dipelihara dapat memicu stres dan hormon kortisol berlebih, meningkatkan risiko diabetes hingga kanker.

Diterbitkan 25 November 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menyimpan dendam sering dianggap sebagai cara mempertahankan harga diri atau bentuk 'balasan setimpal' atas perlakuan buruk orang lain. Namun, Psychologist, Lecturer, dan Counselor, Tika Bisono, mengingatkan, memelihara emosi negatif dapat mengancam kesehatan, bahkan meningkatkan risiko penyakit serius seperti diabetes dan kanker.

Fenomena ini banyak terjadi tanpa disadari. Ketika seseorang merasa disakiti, baik oleh pasangan, teman, rekan kerja, atau keluarga, timbul dorongan untuk membalas. Sayangnya, dorongan itu sering disimpan lama, berubah menjadi kemarahan yang tidak tersalurkan dan akhirnya 'dirawat' oleh pikiran.

Menurut Tika, balas dendam adalah mekanisme psikologis yang muncul pada individu dengan mentalitas lemah atau kurang memiliki keterampilan mengelola emosi. Masalahnya, mekanisme ini justru mengaktifkan hormon stres, alias kortisol, secara berlebihan.

"Kalau balas dendam yang negatif, kortisol yang jalan. Keseringan kortisol dipakai, akhirnya bisa jadi kanker, diabetes. Itu hormon yang merusak kalau terlalu banyak," ujar Tika Bisono saat berbincang dengan Health Liputan6.com dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

 

Tubuh Manusia Merekam Emosi Negatif

Saat seseorang merasa ingin membalas perlakuan orang lain, tubuhnya merekam emosi negatif tersebut sebagai ancaman. Ini membuat kortisol bekerja tanpa henti. Alih-alih menyelesaikan masalah, tubuh justru bekerja dalam kondisi stres kronis.

Tidak banyak yang menyadari bahwa pikiran dan tubuh bekerja dalam satu sistem. Emosi yang terpendam dapat memengaruhi bagian tubuh yang paling lemah. Tika menjelaskan bahwa setiap orang memiliki titik rentan yang berbeda-beda.

"Setiap manusia punya titik lemah fisik. Kalau kortisol kebanyakan dipakai, yang kena itu terus. Yang tadinya psikis akhirnya jadi penyakit fisik," kata Tika.

Lama-kelamaan, kondisi ini memicu peradangan berkepanjangan, menurunkan imunitas, dan membuka peluang terbentuknya penyakit serius, termasuk kanker dan gangguan metabolik seperti diabetes.

 

Dendam yang 'Dirawat' adalah Bahan Bakar Penyakit

Bagi sebagian orang, menyimpan dendam memberi sensasi rasa berkuasa, seolah mengambil kembali kendali setelah sebelumnya menjadi korban. Namun, menurut Tika, sensasi itu palsu. Pada akhirnya, tubuhlah yang menanggung akibatnya.

Menyimpan dendam ibarat membiarkan racun mengalir pelan di dalam tubuh. Bukan hanya pikiran yang lelah, tapi kesehatan jangka panjang ikut terancam.

Tika menekankan bahwa setiap orang sebenarnya memiliki pilihan dalam merespons masalah. Mengelola emosi dengan baik akan memicu hormon positif seperti dopamin dan serotonin, membantu tubuh lebih kuat menghadapi tekanan.

"Ketika lo jatuh, membalnya tuh lo cerdas nggak? Itu adversity quotient, atau kecerdasan tahan banting," kata Tika.

Dengan kata lain, memilih untuk tidak membalas dendam bukan berarti lemah. Itu justru tanda seseorang memiliki kecerdasan emosional dan ketangguhan mental yang matang. Jadi, apa solusinya?

  1. Belajar melepaskan emosi negatif secara sehat
  2. Menghindari reaksi impulsif terhadap luka emosional
  3. Mencari bantuan profesional bila dendam terasa menghantui
  4. Memahami bahwa kesehatan jauh lebih berharga daripada ego
  5. Menyimpan dendam memang terasa memuaskan sesaat, tetapi risikonya jauh lebih besar. Bukannya menyakiti orang lain, tubuh sendiri yang menanggung akibatnya.