Suka Main Sudoku? Studi Ungkap Keterkaitannya dengan Kesehatan Otak

Studi mengungkapkan bahwa bermain sudoku tidak serta-merta meningkatkan fungsi otak. Hal ini karena otak berkembang ketika mempelajari aktivitas baru dan didukung dengan gaya hidup sehat.

Diterbitkan 19 November 2025, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sudoku merupakan salah satu permainan teka-teki yang digemari banyak orang. Sebagian besar menjadikan permainan ini sebagai rutinitas karena dianggap mampu meningkatkan fungsi otak.

Melansir Right As Rain, Selasa, 18 November 2025, mengembangkan kesehatan otak tidak sesederhana menyelesaikan permainan. Faktanya, belum ada penelitian yang berhasil membuktikan bahwa teka-teki kata dan logika memiliki dampak baik untuk otak manusia.

"Saya sendiri menikmati permainan seperti sudoku, catur, teka-teki silang, dan Wordle. Namun, saya sangat terbuka untuk menyampaikan sebenarnya tidak ada bukti yang mendukung bahwa jenis aktivitas tersebut dapat mencegah percepatan penuaan otak atau penurunan kognitif," ujar Neuropsikolog dari Harborview Medical Center, Washington, Justin Miller.

Dia, menambahkan, efek dari bermain teka-teki tidak akan terasa secara langsung sekalipun seseorang mahir memainkannya. Hal ini karena kebanyakan studi menemukan bahwa minat seseorang terhadap sesuatu, apalagi hal yang baru hanya bertahan selama 30 menit.

Sementara itu, studi yang mengaitkan permainan teka-teki dengan fungsi otak dikhawatirkan menjadi alat promosi. Sebagian perusahaan meneliti untuk memberikan klaim luas pada game yang dirilisnya. Game dengan klaim dapat mencegah atau menunda kehilangan ingatan terdengar sangat menarik bagi orang-orang.

 

Cara Terbaik untuk  Menjaga Fungsi Otak

Miller, menjelaskan, menantang diri sendiri dengan permainan yang berbeda setiap hari justru bermanfaat bagi nilai kognitif dan neurologis. Hal ini karena otak berfungsi melalui jaringan yang cukup kompleks.

Ketika seseorang mencoba hal baru, otak akan menggunakan jaringan yang sudah tersistematis untuk mengerjakan hal tersebut. Namun, ketika jaringan tersebut tidak berhasil, maka otak akan membentuk jaringan baru dengan sistem yang juga baru.

Ini sejalan dengan teori ilmiah neuroplastisitas. "Alasan mengapa segala sesuatu menjadi terasa lebih mudah, karena semakin sering berlatih otak kita semakin mampu mengelola keterampilan tersebut," ujarnya.

Mencoba banyak hal baru dapat menciptakan jaringan yang kuat dan membangun ketahanan fungsi kognitif. Jika jaringan tersebut diperkuat sejak dini, penyakit neurologis seperti alzheimer dapat dicegah.

 

Langkah-Langkah Mempertahankan Fungsi Otak

1. Mulai dari langkah kecil dengan menemukan hal baru dari kegiatan yang diminati. Misalnya, ketika seseorang suka merajut, mempelajari teknik baru bisa menjadi latihan untuk otaknya.

2. Bermain sudoku atau teka-teki lain mengharuskan seseorang untuk selalu duduk. Miller mengatakan, ini akan berdampak buruk bagi kesehatan otak manusia. Oleh karena itu, aktivitas fisik dapat membantu mencegah penurunan kognitif pada seseorang.

3. Memperkuat relasi sosial juga mampu mencegah penuaan fungsi otak. Menurut studi, membangun komunitas dapat meningkatkan kesejahteraan emosional seseorang sehingga menurunkan risiko demensia sebesar 31 persen.

4. Semakin awal seseorang memperbaiki gaya hidup, semakin baik pula kesehatan otaknya. Hal ini tentunya perlu didukung dengan pola makan yang sehat, pengelolaan tekanan darah yang baik, tidak merokok, dan selalu melindungi kepala dari benturan. Miller mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai membangun kebiasaan sehat sebagai rutinitas.