Beri Gawai agar Anak Mau Makan, Wamen Isyana: Bisa Perparah Gerakan Tutup Mulut

Biarkan anak main gawai agar mau makan, ini dampaknya menurut Wamendukbangga Isyana Bagoes Oka.

Diterbitkan 27 Oktober 2025, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gerakan Tutup Mulut (GTM) adalah situasi ketika anak enggan melahap makanannya. GTM kerap menjadi sumber stres bagi orangtua terutama ibu dan ayah muda.

Terkait hal ini, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengingatkan bahwa kunci mengatasinya bukan dengan paksaan, melainkan dengan cinta, kesabaran, dan kehadiran penuh orangtua.

“Anak tidak hanya butuh makan dan pakaian, tapi juga kehadiran serta keterlibatan orangtua. Kolaborasi antara ayah dan ibu adalah fondasi utama pola asuh yang sehat,” ujar Isyana dalam webinar pada Kamis (23/10/2025).

Menurutnya, menjadi orangtua di era modern bukan perkara mudah. Ritme hidup yang serba cepat dan tekanan pekerjaan membuat banyak orangtua kehilangan momen berharga bersama anak.

“Multitasking dan kesibukan sering membuat kita memilih cara instan untuk memberi makan, seperti menggunakan gawai atau televisi. Padahal hal itu justru bisa memperparah GTM,” jelasnya.

Fenomena GTM, lanjutnya, bisa dipicu berbagai hal, mulai dari tumbuh gigi hingga pengalaman negatif saat makan. “Kalau tidak ditangani dengan tepat, GTM bisa menyebabkan malnutrisi dan menghambat perkembangan anak. Waktu makan seharusnya menjadi momen hangat, bukan sumber stres bagi anak maupun orangtua,” tegasnya.

 

 

Masih Banyak Keluarga Butuh Pendampingan Pengasuhan

Isyana mengingatkan, tantangan pengasuhan seperti GTM juga mencerminkan pentingnya pendampingan tumbuh kembang secara menyeluruh.

Berdasarkan Pendataan Keluarga 2024, masih terdapat 12,3 persen anak usia 2–4 tahun yang belum tumbuh sesuai tahapan. Sementara itu, hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 56,7 persen orangtua belum rutin memantau pertumbuhan anak usia 0–59 bulan.

“Artinya, masih banyak keluarga yang memerlukan dukungan, pendampingan, dan pengetahuan agar dapat menjalankan pengasuhan secara optimal,” lanjutnya.

 

Persoalan Makan pada Anak Bukan Sekadar Isu Kesehatan

Untuk itu, sambung Isyana pemerintah melalui program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) terus memperkuat edukasi dan dukungan kepada orangtua.

Program yang diinisiasi BKKBN ini menghadirkan empat layanan utama, yakni:

  • peningkatan kapasitas pengasuh
  • pemantauan tumbuh kembang
  • pendampingan orangtua
  • layanan rujukan bagi anak yang membutuhkan perhatian lebih.

Lebih jauh, Isyana menekankan bahwa persoalan makan pada anak tidak boleh dilihat semata sebagai isu kesehatan, melainkan juga sebagai bagian dari ikatan emosional dan pembangunan karakter.

“Di balik setiap sendok nasi yang disuapkan, ada proses tumbuh bersama yang membentuk karakter dan masa depan. Pengasuhan bukan hanya tugas ibu, tapi juga tanggung jawab ayah, keluarga, komunitas, dan negara menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Isyana.