Dokter Ingatkan Obat GLP-1 Bukan Solusi Instan Turunkan Berat Badan

Obat berbasis GLP-1 sering digunakan untuk menurunkan berat badan dengan cepat, tetapi hasilnya tidak akan efektif tanpa disertai pola makan dan gaya hidup sehat.

Diterbitkan 16 Oktober 2025, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Menurut dokter spesialis penyakit dalam, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, terapi obat berbasis GLP-1 tidak bisa dilakukan sembarangan dan memiliki batas dosis tertentu.

“GLP-1 itu dimulai dengan dosis kecil, lalu ditingkatkan,” jelasnya dalam peluncuran klinik obesitas digital dari Halodoc bernama Halofit pada Rabu, 15 Oktober 2015 di Jakarta.

Dia, menambahkan, penggunaan obat ini dapat dihentikan ketika target berat badan sudah tercapai, asalkan pasien tetap menjaga pola makan dan gaya hidupnya.

“Kalau target penurunan berat badan tercapai, boleh dihentikan, tapi dia tetap harus mengatur pola hidup dan pola makannya,” katanya.

Waluyo mengungkapkan, fenomena yoyo atau berat badan naik kembali jika pasien tidak konsisten menjaga kebiasaan sehat setelah menghentikan terapi.

“Kalau tetap enggak bisa ngatur, dia akan yoyo tadi, naik berat badannya lagi. Jadi GLP-1-nya enggak usah dihentikan-hentikan,” tambahnya.

Dia memastikan bahwa terapi GLP-1 aman digunakan dalam jangka panjang selama dibarengi dengan gaya hidup sehat dan di bawah pengawasan dokter.

“Iya suntik, tapi malam masih ngemil. Bukan cuma ngemil lagi, ngemil berat,” ungkapnya

GLP-1 Bukan Solusi Instan

GLP-1 atau Glucagon-Like Peptide-1 merupakan obat yang membantu menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung. Namun, menurut Waluyo, efek obat ini tidak akan optimal jika tidak dibarengi dengan disiplin dalam pola makan dan olahraga.

“GLP ini habis untuk makanannya dia aja, tapi berat badannya enggak turun,” katanya.

Dia, menjelaskan, banyak pasien yang gagal menurunkan berat badan meskipun menggunakan GLP-1 karena tidak melakukan perubahan perilaku makan. “Kegagalannya itu biasanya enggak jaga mulut (kontrol makan),” jelasnya. 

Dengan kata lain, keberhasilan program penurunan berat badan tetap bergantung pada perubahan gaya hidup dan pola makan jangka panjang, bukan semata-mata dari obat.

Penggunaan GLP-1 Harus di Bawah Pengawasan Medis

Selain itu, Waluyo mengingatkan bahwa terapi GLP-1 harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis agar dosis dan efek sampingnya dapat dipantau dengan baik. Efek mual yang muncul biasanya menandakan tubuh belum beradaptasi dengan dosis obat, sehingga perlu evaluasi dokter sebelum dilanjutkan.

Dengan pemahaman dan pengawasan yang tepat, GLP-1 dapat menjadi bagian dari strategi medis yang aman untuk menurunkan berat badan, selama pasien tidak menjadikannya sebagai jalan pintas.

"Tadi kan ada yang malam-malam burger. Kentang, mungkin kentang goreng. Kadang orang mikir mungkin udah minum GLP kan jadi kayak yaudahlah makan aja. Ya enggak akan turun-turun," pungkas Waluyo.