Liputan6.com, Jakarta - Sulit tidur di malam hari, bangun dengan rasa lelah, hingga sulit berkonsentrasi sepanjang hari? Gejala ini mungkin terasa sama bagi semua penderita insomnia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak semua insomnia serupa.
Tim peneliti dari Netherlands Institute for Neuroscience di Amsterdam menemukan adanya lima subtipe insomnia berdasarkan hasil MRI otak. Temuan ini membuka peluang besar untuk menghadirkan terapi yang lebih spesifik dan efektif sesuai dengan jenis insomnia yang dialami pasien.
“Jika subtipe ini berbeda dalam mekanisme biologisnya, maka pasien di setiap subtipe mungkin akan mendapatkan manfaat dari terapi yang lebih terfokus,” kata ahli saraf sekaligus penulis utama studi tersebut, Tom Bresser.
Advertisement
Dilansir dari The Guardian, insomnia sendiri didefinisikan sebagai gangguan tidur yang membuat seseorang sulit tidur atau sulit mempertahankan tidur, sehingga memengaruhi aktivitas di siang hari. Sekitar sepertiga orang dewasa di negara Barat mengalami masalah tidur setidaknya sekali seminggu dan hingga 10% masuk kategori insomnia kronis. Kondisi ini dua kali lebih banyak dialami perempuan dibanding laki-laki.
Bukti Biologis di Balik Insomnia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5277892/original/056779200_1752048978-2045__1_.jpg)
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Biological Psychiatry, para peneliti menganalisis MRI dari 204 penderita insomnia dan sejumlah orang dengan tidur normal. Hasilnya, terlihat adanya perbedaan struktur otak pada masing-masing subtipe. Hal ini memperkuat bukti bahwa insomnia memiliki dasar biologis, bukan sekadar masalah kebiasaan tidur.
Prof Tsuyoshi Kitajima dari Fujita Health University, Jepang, menyebut hasil ini mengejutkan. “Studi ini memberi bukti signifikan tentang validitas subtipe insomnia,” ujarnya.
Sementara itu, profesor psiko-fisiologi klinis dari Universitas Freigburg, Jerman, Dieter Riemann, menambahkan bahwa temuan ini bisa membuat dunia medis lebih serius dalam memandang insomnia.
Advertisement
Gejala Bisa Terkait Karakter dan Emosi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5166986/original/033901200_1742294406-Insomnia.jpg)
Menurut para peneliti, faktor kepribadian dan suasana hati juga bisa menjadi kunci dalam membedakan subtipe insomnia. Misalnya, orang yang mudah stres di siang hari kemungkinan juga lebih mudah mengalami gangguan tidur saat malam.
Hal ini membuka pintu bagi terapi yang lebih personal. Meditasi bisa efektif untuk penderita insomnia dengan energi tinggi menjelang tidur. Sementara pasien yang lebih rentan mengalami depresi dapat diberikan terapi pencegahan sejak dini.
Mengubah Cara Pandang Terhadap Insomnia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5102914/original/006612800_1737448669-1737446612994_arti-insomnia.jpg)
Selama ini, sebagian klinisi hanya melihat insomnia sebagai gejala ringan atau masalah sekunder. Namun dengan adanya bukti biologis, insomnia perlu dipandang sebagai gangguan serius yang berhubungan erat dengan kesehatan mental maupun fisik.
“Kalau memang ada dasar neurobiologis, berarti kita harus memandang insomnia jauh lebih serius daripada sebelumnya,” kata Riemann.
Temuan ini membawa harapan baru bahwa suatu hari nanti, penderita insomnia bisa mendapatkan terapi yang sesuai dengan kondisi unik mereka bukan sekadar pengobatan umum untuk semua.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528977/original/025088700_1773301964-BGN_klaim_pendaftaran_PPPK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5249187/original/085359700_1749630481-PejalanKaki.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8219345/original/056761200_1781079103-koperasi_desa-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5304868/original/046768700_1754288189-morning-lifestyle-breakfast-people-concept-girl-with-insomnia-sleeping-mask-pajamas-hugging-pillow-drinking-coffee-yawning-trying-wake-up-white-background.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9245742/original/085478200_1783138991-verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299398/original/064759200_1784250864-000_B8VA8NK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300741/original/083077900_1784373810-olmo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5258902/original/057116300_1750404416-Perempuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5401216/original/077506700_1762160433-kinga-howard-FVRTLKgQ700-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5012966/original/090271700_1732072025-tips-anak-tidur-nyenyak.jpg)