Pelajaran dari Mpok Alpa, Kenali Risiko dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Kanker payudara bisa dialami mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Terbaru, komedian Mpok Alpa meninggal karena kanker payudara.

Diterbitkan 18 Agustus 2025, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Komedian Mpok Alpa meninggal dunia akibat kanker payudara pada usia 38 tahun menjadi pengingat nyata akan pentingnya kesadaran dan deteksi dini.

Kanker payudara adalah kondisi dimana terjadi mutasi gen yang membuat sel-sel di payudara berkembang cepat atau tidak terkendali membentuk benjolan atau tumor.

Perubahan sel sehat menjadi sel kanker ini diyakini dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut meliputi genetik, jenis kelamin, paparan lingkungan, serta fluktuasi hormon dalam tubuh.

Meskipun penyebab tunggal tidak dapat diidentifikasi, pemahaman tentang faktor-faktor pemicu ini sangat penting. Dengan mengenali dan mengelola faktor-faktor tersebut, individu dapat mengambil langkah proaktif untuk mengurangi risiko terkena penyakit ini.

 

  • Jenis Kelamin: Perempuan memiliki risiko sekitar 100 kali lebih tinggi dibandingkan pria.
  • Usia: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, dengan sebagian besar kasus didiagnosis pada wanita di atas 45 tahun.
  • Riwayat Keluarga atau Genetik: Seseorang yang salah satu anggota keluarga di lini pertama terkena payudara maka risiko perempuan di keluarga itu kena kanker payudara 2-3 kali lebih besar dibandingkan yang tanpa riwayat kanker payudara di keluarga
  • Menstruasi Dini dan Menopause Terlambat: Haid pertama sebelum usia 12 tahun dan menopause setelah usia 55 tahun dapat meningkatkan risiko.progesteron.

Langkah Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Payudara

Faktor risiko kanker payudara tidak selalu dapat dihindari, langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini sangat krusial untuk mengurangi risiko dan meningkatkan peluang kesembuhan. Deteksi dini memungkinkan penanganan yang lebih efektif sebelum kanker menyebar luas.

Deteksi Dini:

  • SADARI (Periksa Payudara Sendiri): Lakukan pemeriksaan payudara mandiri secara rutin setiap bulan untuk mengenali perubahan atau benjolan. Dokter spesialis bedah dari RS EMC Tangerang, Aseanne Femelia Ramodora mengungkapkan agar anak perempuan yang sudah haid untuk rutin melakukan SADARI. "Saya selalu anjurkan saat anak perempuan sudah haid mama menganjurkan anak perempuanya untuk melakukan SADARI. Ketika ada benjolan bisa diperiksakan ke dokter umum atau dokter spesialis," tuturnya dalam bincang-bincang di Youtube RS EMC. 
  • USG Mammae: Bagi perempuan muda disarankan rutin untuk melakukan USG mammae SG mammae untuk mendeteksi ukuran, lokasi, dan jenis benjolan pada payudara.
  • Mammografi: Skrining mammografi direkomendasikan secara rutin, terutama bagi wanita berusia 40 tahun ke atas, untuk mendeteksi kelainan yang tidak teraba.

Skrining Rutin Payudara, Bisa Temukan Kanker Lebih Awal

Lewat pemeriksaan payudara secara rutin maka bila ada temuan tumor maka masih di stadium awal atau 1 dan 2.

"Bila ditemukan di stadium awal, angka keselamatan lebih tinggi dibandingkan datang sudah stadium lanjut," papar Aseanne.

Dalam praktik sehari-hari, Aseanne mengungkapkan banyak pasien yang datang dengan stadium kanker payudara sudah lanjut. Seperti datang dalam kondisi payudara sudah nyeri, bengkak, bahkan bernanah yang merupakan tanda sudah stadium lanjut. 

Seringkali perempuan sudah merasakan benjolan tapi karena tidak merasakan nyeri atau sakit sehingga dibiarkan saja. Padahal penting untuk segera memeriksakan bila muncul benjolan di payudara.

"Kalau sudah stadium 4, enggak ada opsi operasi. Tim dokter akan memikirkan cara pasien bertahan hidup mengurangi keluhan yanga ada," jelas Aseanne.

 

Di Indonesia Mayoritas Pasien Kanker Payudara Datang Stadium Lanjut

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2020, sebanyak 60 - 70 persen pasien kanker payudara di Indonesia didiagnosis stadium lanjut. Prevalensi ini juga sesuai dengan data Globocan tahun 2020.

Di Indonesia, jumlah kasus baru kanker payudara pada tahun 2020 mencapai 65.858 kasus (16,6 persen) dari total 396.914 kasus kanker, dengan jumlah kematian sebanyak 22.430.

Padahal, sekitar 43 persen kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.

Selain angka kematian yang cukup tinggi, penanganan pasien kanker payudara yang terlambat menyebabkan beban pembiayaan yang kian membengkak. Para pasien pun harus melakukan kemoterapi secara rutin.