8 Ciri Keputihan yang Perlu Diwaspadai Usai Memasuki Masa Menopause

Simak 8 ciri keputihan pasca menopause yang tidak normal.

Diterbitkan 21 Juli 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika keputihan menunjukkan gejala abnormal termasuk saat memasuki masa menopause, hal ini bisa menjadi petunjuk adanya infeksi atau kelainan pada area kewanitaan.

Dokter spesialis kebidanan kandungan RS EMC Sentul, Beta Andewi Resti Anggraheni, mengatakan, setidaknya ada delapan ciri keputihan yang patut dicurigai, yakni:

  1. Cairan berbau amis atau menyengat.
  2. Gatal pada area vagina, disertai iritasi atau kemerahan.
  3. Keputihan keluar dalam jumlah banyak dan terus-menerus.
  4. Muncul sensasi terbakar di area kewanitaan.
  5. Nyeri saat melakukan hubungan seksual.
  6. Cairan yang keluar memiliki warna putih dan konsistensi kental yang menyerupai gumpalan keju.
  7. Cairan berwarna kuning kehijauan.
  8. Cairan berwarna merah muda atau cokelat.

Sementara, keputihan yang sehat atau normal tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan di atas.

“Keputihan yang sehat dihasilkan secara alami sebagai upaya tubuh menjaga kelembapan dan mencegah infeksi di area reproduksi,” kelas Beta mengutip laman EMC, Minggu (20/7/2025).

Keputihan yang sehat biasanya memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Berwarna bening, putih, atau krem.
  • Teksturnya ringan, tidak terlalu kental atau menggumpal.
  • Tidak memiliki bau menyengat.
  • Jumlahnya sedikit dan muncul secara berkala, tidak terus-menerus.

"Selama tidak disertai rasa gatal, perih, atau bau yang tidak sedap, keputihan tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan," terang Beta.

 

Keputihan Setelah Menopause, Wajarkah?

Beta menjelaskan, wanita mulai mengalami keputihan sebagai bagian dari perubahan tubuh saat memasuki usia pubertas. Perubahan hormon dalam tubuh, aktivitas seksual, menyusui, maupun siklus menstruasi dapat memicu munculnya cairan ini.

Namun, saat keputihan terjadi setelah seorang wanita memasuki masa menopause, kekhawatiran sering kali muncul.

Lantas apakah wajar mengalami keputihan setelah menopause?

Menjawab hal ini, Beta menerangkan bahwa tubuh menghasilkan keputihan secara alami guna menjaga lingkungan vagina tetap lembap dan bersih. Meskipun lebih umum terjadi pada wanita usia subur, keputihan tetap bisa dialami oleh wanita yang telah memasuki masa menopause.

“Setelah menopause, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh mengalami penurunan. Dinding vagina pun cenderung menjadi kering dan mengalami penipisan akibat perubahan tersebut.”

Meski demikian, vagina masih dapat memproduksi cairan, meskipun dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan saat masih menstruasi.

 

Perubahan Hormonal Picu Keputihan

Pada beberapa kasus, perubahan hormonal dapat menyebabkan keputihan yang sifatnya masih normal.

Apabila keputihan tampak tidak biasa dalam hal warna, jumlah, serta menimbulkan gejala seperti bau tidak enak atau rasa gatal, besar kemungkinan penyebabnya adalah infeksi jamur maupun bakteri.

Perbedaan keputihan sehat dan yang perlu diwaspadai dapat dilihat dari warna, kekentalan, dan aromanya. Dengan mengenali ciri-ciri tersebut, wanita dapat lebih waspada terhadap kondisi yang membutuhkan perhatian medis.

 

Bagaimana Cara Menangani Keputihan?

Untuk menjaga kesehatan vagina dan mencegah keputihan yang tidak normal, berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Pilih celana dalam dari bahan katun yang longgar dan mampu menyerap keringat dengan baik.
  • Pastikan area intim tetap kering dengan menyekanya memakai handuk bersih setiap selesai mandi atau ke toilet. Bersihkan dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) untuk mencegah infeksi silang dari bakteri anus.
  • Area vagina sebaiknya dibersihkan dengan air tanpa menggunakan sabun atau produk yang mengandung parfum.
  • Segera ganti celana dalam jika mulai terasa lembap atau basah untuk menjaga kebersihan area intim.
  • Hindari penggunaan pembalut, pantyliner, tisu basah, atau sabun pembersih kewanitaan yang mengandung bahan kimia, parfum, atau pewarna, karena dapat memicu iritasi.

Selain itu, menerapkan gaya hidup sehat juga berperan penting. Konsumsi makanan bergizi, cukupi kebutuhan cairan, olahraga teratur, dan hindari stres berlebih agar sistem kekebalan tubuh tetap optimal dalam melawan infeksi.

“Konsultasi dengan dokter diperlukan bila Anda mengalami gejala keputihan abnormal, guna memastikan diagnosis dan memperoleh pengobatan yang tepat,” pungkas Beta.