Punya Manfaat, Dokter Ungkap Cara Jadikan Bekam sebagai Layanan Kesehatan Formal

Guru Besar FK Unair mengungkap bahwa bekam bukan lagi sekadar alternatif, melainkan salah satu pilihan terapi untuk pemulihan fungsi dan peningkatan kualitas hidup pasien.

Diterbitkan 24 Mei 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Profesor Imam Subadi mengungkap cara menjadikan bekam sebagai layanan kesehatan formal.

Pasalnya, selama ini posisi bekam sebagai pengobatan alternatif masih menjadi suatu perdebatan di dunia kesehatan.

“Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjadikan bekam sebagai layanan kesehatan formal. Diantaranya perlu dilakukan penyusunan pedoman klinis, pelatihan dan sertifikasi tenaga medis dan perlunya penelitian lanjutan yang mendukung klaim medis dari terapi ini,” kata Imam mengutip laman Unair, Jumat (23/5/2025).

“Selain itu, perlu adanya integrasi pada sistem kesehatan nasional untuk mempermudah akses pada layanan kesehatan,” tambahnya.

Menurut Imam, bekam memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari dunia kedokteran modern, bukan sekedar warisan budaya, tapi terapi yang ilmiah, aman, dan bermanfaat. Dengan pendekatan yang tepat, terapi ini bisa masuk ke sistem pelayanan medis resmi, terutama di bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi (KFR).

“Sudah waktunya masyarakat mendapat layanan bekam yang terstandar, dan dunia medis mengakui manfaatnya lewat bukti ilmiah. Bekam bukan lagi sekadar alternatif — melainkan salah satu pilihan terapi untuk pemulihan fungsi dan peningkatan kualitas hidup pasien,” ujarnya.

 

Bekam Dinilai Bukan Sekadar Warisan Tradisi

Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) itu menyampaikan bahwa sudah banyak penelitian mulai menunjukkan potensi manfaat dari bekam.

Terapi ini tidak hanya dipandang sebagai warisan tradisi. Namun, juga sebagai bagian dari pendekatan medis yang terbukti dalam Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi.

Penelitian mutakhir menunjukkan bekam dapat membantu mengurangi nyeri, memperbaiki aliran darah, dan mengontrol peradangan.

 

Perlu Protokol Medis Resmi untuk Bekam

Guru Besar Bidang Ilmu Traumatic Brain Injury, Nyeri, dan Neuroplastisitas itu menyebut bahwa bekam masih memiliki banyak tantangan dalam aplikasinya.

“Meskipun sudah sangat populer sebagai pengobatan alternatif, bekam masih memiliki banyak tantangan dalam aplikasinya. Belum adanya protokol medis resmi, membuat bekam memiliki berbagai teknik yang bervariasi.” 

Nihilnya protokol medis resmi untuk bekam juga menimbulkan potensi adanya risiko infeksi penyakit dari penggunaan alat tanpa sterilisasi. Serta adanya potensi klaim yang berlebihan.

Dalam perspektif kedokteran fisik dan rehabilitasi, terapi ini bisa digunakan sebagai terapi tambahan untuk nyeri kronis. Seperti, osteoarthritis, nyeri otot, bahkan dalam rehabilitasi pasca stroke atau cedera olahraga.

Tentunya harus dilakukan dengan prosedur medis yang aman dan sesuai standar. Karena itu, perlu perhatian khusus pada prosedur dan penjaminan keamanan terapi.