Badan Kesehatan Dunia (WHO) Kamis 23 Mei memperingatkan negara-negara yang kemungkinan mendapat kasus koronavirus baru, jenis penyakit mirip SARS, agar segera memberitahukan dan tidak memberikan keuntungan pada laboratorium komersial.
Serangan koronavirus baru ini di seluruh dunia telah menyebabkan 22 orang meninggal dunia.
Pengembangan uji diagnosa penyakit ini di Arab Saudi, negara pertama tempat penyakit baru ini diketahui, telah dibatalkan oleh laboratorium asing yang mempunyai hak paten atas virus mirip SARS.
  Â
"Memuat kesepakatan dengan ilmuwan yang ingin menjadi pihak pertama untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual (IP), karena mereka ingin menjadi yang pertama di dunia dalam melaporkannya pada jurnal ilmiah, adalah masalah yang harus mendapat perhatian," kata dirjen WHO Margaret Chan kepada para menteri kesehatan sedunia yang menghadiri konferensi internasional WHO di Jenewa seperti dikutip dari Xinhua, Selasa (28/5/2013).
"Tidak ada IP untuk aksi kesehatan masyarakat."
  Â
Virus ini dikenali sejak September tahun lalu, tiga bulan setelah para ilmuwan mengambil contoh dari Arab Saudi untuk dipelajari di Pusat Kesehatan Erasmus di Belanda.
"Ada ketertinggalan sekitar tiga bulan saat kami belum menyadari adanya virus baru itu," kata Wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, Ziad Memish pada pertemuan di Jenewa itu.
  Â
Ia mengatakan, contoh virus itu dibawa keluar dari Arab Saudi tanpa izin dan baru mengetahui tentang virus itu melalui sistem pelaporan dengan internet, dari lembaga ProMED di Amerika Serikat.
Laboratorium Erasmus yang berada di Rotterdam kemudian mematenkan proses pemaduan virus, artinya siapapun yang akan menggunakan metode penelitian itu harus membayar ke laboratorium tersebut.
  Â
Pematenan itu telah menghambat pengembangan perangkat diagnosa dan uji serologi atas penyakit tersebut, ujar Memish.
  Â
"Virus itu dikirim keluar negeri dan kemudian dipatenkan, kontrak sudah ditandatangani antara perusahaan-perusahaan vaksin dan obat anti-virus, itulah sebabnya mereka memiliki Kesepakatan Alih Materi (MTA) yang harus ditandatangan oleh siapapun yang akan menggunakan virus tersebut. Ini seharusnya tidak boleh terjadi."
  Â
Pada Kamis, Arab Saudi mengumumkan kembali kematian yang disebabkan oleh virus tersebut di kawasan al-Qassim, sehingga jumlah kematian akibat tertular koronavirus baru di kerajaan itu menjadi 17 jiwa.
  Â
Jordania, Qatar, Tunisia dan uni Emirat Arab, Prancis serta Inggris telah mendapat serangan virus tersebut. (Abd/*)
Serangan koronavirus baru ini di seluruh dunia telah menyebabkan 22 orang meninggal dunia.
Pengembangan uji diagnosa penyakit ini di Arab Saudi, negara pertama tempat penyakit baru ini diketahui, telah dibatalkan oleh laboratorium asing yang mempunyai hak paten atas virus mirip SARS.
  Â
"Memuat kesepakatan dengan ilmuwan yang ingin menjadi pihak pertama untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual (IP), karena mereka ingin menjadi yang pertama di dunia dalam melaporkannya pada jurnal ilmiah, adalah masalah yang harus mendapat perhatian," kata dirjen WHO Margaret Chan kepada para menteri kesehatan sedunia yang menghadiri konferensi internasional WHO di Jenewa seperti dikutip dari Xinhua, Selasa (28/5/2013).
"Tidak ada IP untuk aksi kesehatan masyarakat."
  Â
Virus ini dikenali sejak September tahun lalu, tiga bulan setelah para ilmuwan mengambil contoh dari Arab Saudi untuk dipelajari di Pusat Kesehatan Erasmus di Belanda.
"Ada ketertinggalan sekitar tiga bulan saat kami belum menyadari adanya virus baru itu," kata Wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, Ziad Memish pada pertemuan di Jenewa itu.
  Â
Ia mengatakan, contoh virus itu dibawa keluar dari Arab Saudi tanpa izin dan baru mengetahui tentang virus itu melalui sistem pelaporan dengan internet, dari lembaga ProMED di Amerika Serikat.
Laboratorium Erasmus yang berada di Rotterdam kemudian mematenkan proses pemaduan virus, artinya siapapun yang akan menggunakan metode penelitian itu harus membayar ke laboratorium tersebut.
  Â
Pematenan itu telah menghambat pengembangan perangkat diagnosa dan uji serologi atas penyakit tersebut, ujar Memish.
  Â
"Virus itu dikirim keluar negeri dan kemudian dipatenkan, kontrak sudah ditandatangani antara perusahaan-perusahaan vaksin dan obat anti-virus, itulah sebabnya mereka memiliki Kesepakatan Alih Materi (MTA) yang harus ditandatangan oleh siapapun yang akan menggunakan virus tersebut. Ini seharusnya tidak boleh terjadi."
  Â
Pada Kamis, Arab Saudi mengumumkan kembali kematian yang disebabkan oleh virus tersebut di kawasan al-Qassim, sehingga jumlah kematian akibat tertular koronavirus baru di kerajaan itu menjadi 17 jiwa.
  Â
Jordania, Qatar, Tunisia dan uni Emirat Arab, Prancis serta Inggris telah mendapat serangan virus tersebut. (Abd/*)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329887/original/014746300_1787301484-HOAX__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329801/original/040098200_1787296595-HOAX__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4712284/original/099342900_1704930645-cek_fakta_stiker_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/22511/original/virus-korona-130518b.jpg)