Sukses

[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Masker di Mekkah dan Kismis

Liputan6.com, Jakarta Kita tahu bahwa pandemi COVID-19 di sebagian besar negara sudah mereda, dan kebijakan protokol kesehatan juga sudah banyak dilonggarkan, seperti yang kita lihat di banyak negara.

Salah satu contohnya yang saya lihat di Mekkah di hari-hari ini, sekitar Masjidil Haram penuh sekali manusia yang menjalankan Umrah dan Ibadah lainnya.

Berdasar pengamatan kasar saya, dari ratusan ribu orang dari berbagai negara di dunia yang ada di dalam dan di pelataran Masjidil Haram, maka lebih dari 95% tidak memakai masker sama sekali.

Dari sedikit orang yang saya jumpai pakai masker maka lebih dari separuhnya adalah orang Indonesia, sisanya dari berbagai negara dan petugas Masjid yang menjaga air zam zam dll.

Ada tiga hal yang kita pelajari dari hal ini:

Pertama, ternyata disiplin pakai masker rakyat kita jauh sekali lebih tinggi dari rakyat negara lain.

Kedua, mungkin kita perlu pertimbangkan kebijakan pakai masker kita, bagaimana keputusan terbaiknya.

Tiga, pendekatan tentu berdasar bukti ilmiah yang ada yang dipunyai Kementerian Kesehatan kita, dan juga mengaca pada kebijakan sebagian besar negara di dunia.

Di seputar Masjidil Haram juga masih tersedia hand sanitizer, memang tidak terlalu banyak. Klinik di dalam Masjid seperti yang saya foto ini juga tampak lengang saja, dan saya sempat lihat dokter dan alat2 di dalamnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Soal Kismis

Hal lain, pada hari Kamis yang lalu maka menjelang sholat Maghrib seperti biasa digelar plastik dan disediakan makanan untuk yang akan buka puasa Senin Kamis, biasanya kurma, yoghurt, roti dan kopi atau teh Arab terhidang didepan kita.

Yang menarik untuk saya, pada hari Kamis yang lalu ada seorang pemuda membawa sekantong besar kismis, lalu dia membagi ke semua kita yang duduk sambil menyebut ini silakan kismis dari Uzbekistan.

Rasanya manis dan kita jadi terkesan. Mungkin ini dapat jadi masukan untuk Menteri Agama dan atau Menteri Pariwisata, kalau ada pemuda kita yang membagi makanan kita dan menyebut ini dari Indonesia maka selain beramal maka juga menjadi ajang perkenalan budaya (dan wisata) Indonesia ke berbagai negara sekaligus pada satu kesempatan saja, bagus tentunya.

 

 

**Penulis adalah Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia TenggaraMantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Mantan Kabalitbangkes

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS