Sukses

Kemenkes Petakan Daerah Risiko Tinggi KLB Polio

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia sedang melakukan surveilans ke seluruh provinsi di Indonesia untuk memetakan daerah mana saja yang berisiko tinggi terjadi KLB Polio. Upaya ini belajar dari kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio beberapa waktu lalu di Kabupaten Pidie, Aceh.

Staf Ahli bidang Politik dan Globalisasi Kesehatan Kemenkes RI Kirana Pritasari menyampaikan, pemetaan daerah risiko tinggi KLB Polio ini melihat kriteria dari cakupan imunisasi rutin -- termasuk imunisasi Polio -- yang rendah.  

"Kita mengetahui bersama, beberapa minggu terakhir telah ditemukan adanya kasus Polio di Provinsi Aceh dan saat ini telah dilakukan upaya untuk menanggulangi KLB tersebut," ujarnya saat 'Peluncuran Buku Hidup Bersama Polio - Sumbangsihku Bagi Bangsa dan Negara' di Hotel JS Luwansa, Jakarta pada Sabtu, 3 Desember 2022.

"Saat ini, Kemenkes melakukan pengamatan surveilans ke seluruh provinsi di Indonesia untuk bisa memastikan, memetakan daerah yang berisiko tinggi untuk terjadi KLB Polio karena cakupan imunisasi yang rendah."

Ditegaskan Kirana, Polio sangat berbahaya bagi anak-anak. Sebab, penyakit menular ini dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kecacatan. Satu-satunya upaya pencegahan yang utama adalah imunisasi rutin lengkap pada anak.

Khususnya imunisasi Polio lengkap, yakni pemberian Polio Tetes (Bivalent Oral Polio Vaccine/bOPV) dan Polio Suntik (Inactivated Polio Vaccine/IPV). Pemberian bOPV biasanya ditujukan pada bayi usia 1 - 4 bulan, sedangkan IPV pada usia 4 bulan. 

"Kita mengetahui bahwa penyakit Polio sangat berbahaya bagi anak. Karena akan menyebabkan kelumpuhan dan tidak ada obatnya. Akan tetapi, dapat dicegah dengan mudah melalui upaya pencegahan lewat imunisasi yang lengkap serta imunisasi (rutin) yang lain," terang Kirana.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Masih Ada yang BAB di Sungai

Pencegahan penyakit Polio, lanjut Kirana Pritasari juga dilakukan dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat. Misalnya, Buang Air Besar (BAB) di jamban yang sesuai dengan standar, selalu cuci tangan pakai sabun menggunakan air bersih sebelum makan dan sesudah Buang Air Besar.

"Ini untuk mencegah terjadinya penularan penyakit," katanya.

Perilaku hidup bersih sangat penting, apalagi dari adanya temuan tiga anak positif virus Polio tanpa gejala lumpuh layuh mendadak di Kabupaten Pidie, Aceh. Laporan ini dipublikasikan Kemenkes pada 24 November 2022.

Temuan ini berdasarkan hasil pemeriksaan lanjut anak usia di bawah 5 tahun yang tinggal di sekitar satu kasus positif Polio pada awal November 2022.

Bahwa adanya virus Polio pada feses tinja ketiga anak di atas, menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat penduduk yang masih kurang. Masih ada penduduk yang menerapkan BAB terbuka di sungai.

Meskipun tersedia toilet, lubang pembuangan langsung mengalir ke sungai, sedangkan air sungai turut dipakai untuk berbagai aktivitas penduduk termasuk tempat bermain anak-anak.

3 dari 4 halaman

Lindungi Anak dengan Imunisasi Rutin

Demi mengejar kekurangan cakupan imunisasi rutin, Kementerian Kesehatan dengan dukungan berbagai pihak menyelenggarakan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) tahun 2022 dalam rangka Pekan Imunisasi Sedunia beberapa waktu lalu.

Tahap Pertama, pelaksanaan BIAN telah dimulai pada Mei 2022 meliputi Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, sedangkan Tahap Kedua berlangsung diawal bulan Agustus 2022 di Pulau Jawa dan Bali.

"Imunisasi rutin ini akan melindungi anak-anak Indonesia dari berbagai penyakit termasuk Polio. Untuk meningkatkan kesehatan masyarakat tentu tidak berhenti setelah vaksinasi," Kirana Pritasari menambahkan.

"Dunia belum lepas dari bayang-bayang Polio secara total. Otoritas kesehatan di Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengumumkan telah mengidentifikasi virus Polio yang ditemukan dalam sampel air limbah di kota New York."

Pada 21 Juli 2022, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS melaporkan kasus Polio yang ditemukan virus Polio dalam air limbah di pinggiran kota New York. CDC mengumpulkan sampel pada Juni atau sebelum kasus Polio yang menginfeksi seorang warga di Rockland County, New York diumumkan.

Penemuan kasus menunjukkan mungkin ada lebih banyak orang di masyarakat yang membawa virus Polio lewat tinja mereka. Sebagai informasi, AS belum menemukan kasus Polio yang dihasilkan di dalam negeri sejak 1979. Namun, Negeri Paman Sam menemukan kasus penyakit tersebut pada 1993 dan 2013.

4 dari 4 halaman

Jumlah Provinsi Risiko Tinggi KLB Polio

Berdasarkan laporan cakupan imunisasi rutin Kemenkes per 29 November 2022, ada dua provinsi yang sangat berisiko tinggi KLB Polio dilihat dari cakupan vaksinasi tetes di bawah 60 persen pada tahun 2020.

Plt. Direktur Imunisasi Kemenkes RI Prima Yosephine memaparkan, ada 13 provinsi lain yang berisiko tinggi karena cakupan imunisasi rutin hanya berkisar 60  - 79 persen. Lalu ada 13 provinsi juga yang cakupannya sedang, sebesar 80 - 94 persen.

Kemudian ada 6 provinsi dengan capaian imunisasi rutin cukup baik untuk imunisasi Polio di atas 95 persen. Jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota, dari 514 kabupaten/kota, tercatat 60 daerah yang sangat berisiko dengan cakupan imunisasi di bawah 60 persen.

Selanjutnya, ada 132 kabupaten/kota yang risikonya tinggi antara 60 sampai 79 persen cakupan imunisasi rutin. Ada pula risiko sedang sebanyak 166 daerah, dan yang resiko rendah ada 154 kabupaten/kota.

"Demikian juga untuk imunisasi suntikan (IPV), hanya Yogyakarta di tahun 2020 (yang memenuhi target cakupan imunisasi). Namun, untuk kabupaten/kota sebagian besar berisiko tinggi dan sangat tinggi,” beber Prima saat konferensi pers, Jumat (29/11/2022).

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS