Sukses

Capaian Masih Rendah, Jokowi Jabarkan Manfaat Terpenting dari Vaksinasi Booster COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah telah memberikan lampu hijau untuk pemberian vaksinasi COVID-19 dosis keempat atau booster kedua untuk orang lanjut usia (lansia) atau 60 tahun ke atas. Bersamaan dengan hal ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun menjabarkan manfaat terpenting dari vaksinasi booster.

"Saya tadi baru saja divaksin booster, vaksin penguat. Ini saya ajak seluruh masyarakat utamanya tenaga kesehatan, utamanya lansia, dan juga orang-orang yang interaksinya tinggi antar masyarakat (untuk melakukan vaksin booster)," ujar Jokowi usai melakukan vaksinasi booster kedua di Istana Kepresidenan Bogor ditulis Jumat, (25/11/2022).

Capaian vaksinasi booster di Indonesia memang masih terbilang rendah bila dibandingkan dengan vaksin dosis primer. Per 24 November, vaksinasi dosis ketiga baru disuntikkan sebanyak 66 juta dosis dan vaksinasi dosis keempat 738 ribu dosis.

"Untuk vaksin booster pertama telah disuntikkan 66 juta dosis, dan untuk booster yang kedua memang masih kecil sekali, masih 738 ribu dosis vaksin," kata Jokowi.

Berbeda dengan vaksinasi dosis pertama yang telah mencapai 205 juta dosis dan vaksinasi dosis kedua mencapai 172 juta dosis. Untuk itu, Jokowi pun menjelaskan apa saja manfaat terpenting dari vaksinasi booster.

Menurut Jokowi, selain untuk menjaga imunitas, vaksinasi booster terpentingnya diberikan untuk memutus transmisi COVID-19 antar masyarakat.

"Kenapa kita membutuhkan booster? Agar imunitas kita terjaga dan dapat memutus penularan COVID-19 dari orang ke orang, itu yang paling penting," ujar Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi pun mengungkapkan bahwa dirinya baru saja melakukan vaksinasi booster kedua menggunakan vaksin yang 100 persen diproduksi dalam negeri yakni Indonesia Vaccine (IndoVac).

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Siapa yang Perlu Dapat Vaksin Booster Kedua?

Seperti diketahui, tenaga kesehatan dan lansia memang telah diperbolehkan untuk mendapat vaksin booster kedua. Namun selain dua kelompok tersebut, ternyata masih ada kelompok lain yang dianggap perlu untuk mendapatkannya.

Peneliti Keamanan dan Kesehatan Global Griffith University Australia, Dicky Budiman mengungkapkan bahwa kelompok lain yang perlu mendapatkan booster kedua adalah mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi booster pertama lebih dari 5-6 bulan.

"Yang perlu mendapatkan booster kedua atau vaksinasi dosis keempat ini adalah orang-orang yang sudah melebihi 5 atau 6 bulan dosis vaksinasi dosis sebelumnya. Sebetulnya dia sudah harus mendapatkan dosis berikutnya," ujar Dicky melalui keterangan pada Health Liputan6.com pada Kamis, 24 November 2022.

Hal tersebut lantaran menurut Dicky, orang-orang yang berada dengan kondisi tersebut tetap masuk kategori berisiko. Mengingat varian COVID-19 yang baru muncul seperti XBB, BN.1, maupun CH.1 membuat kelompok berisiko menjadi bertambah.

"Kalau bicara soal subvarian baru, yang berisiko dengan keparahan dan meninggal bukan hanya lansia, bukan hanya komorbid. Tapi juga orang yang belum mendapatkan booster. Apalagi orang itu sudah pernah terinfeksi COVID-19 lebih dari dua kali, dan kelompok itu banyak di Indonesia," kata Dicky.

3 dari 4 halaman

Punya Kaitan dengan Long COVID-19

Sehingga menurut Dicky, vaksin booster kedua sebetulnya sudah harus diberikan pada masyarakat umum. Di sisi lain, diperlukan pula dorongan untuk masyarakat umum melakukan vaksinasi booster pertama yang capaiannya masih terbilang rendah.

Hal tersebut lantaran dampak COVID-19 tak berhenti pada tingkat keparahan dan kematian. Namun masih ada dampak jangka panjang berupa long COVID-19 yang mana berpotensi meningkatkan beban pembiayaan negara kedepannya.

"Booster ketiga saja masih dibawah 30 persen dan ini yang mengkhawatirkan, karena sekali lagi, gelombang-gelombang dari COVID-19 itu akan menjadi pemicu bukan hanya kematian. Tapi yang semakin membesar disisi lain adalah para calon penderita long COVID-19, yang akan menjadi beban pembiayaan kesehatan negara 5-10 tahun kedepan," ujar Dicky.

Dicky mengungkapkan bahwa efektivitas vaksin untuk mencegah infeksi dan penularan sendiri sebenarnya sudah jauh menurun. Namun, bukan berarti vaksin yang ada saat ini tidak efektif.

"Efektivitas vaksin cegah infeksi dan penularan sudah jauh menurun dengan adanya subvarian baru. Tapi vaksin tetap ampuh cegah keparahan dan kematian. Apalagi untuk daerah bencana, vaksinasi booster harus diprioritaskan," kata Dicky.

4 dari 4 halaman

Angka Kematian di Indonesia yang Belakangan Tinggi

Belum lagi, angka kematian di Indonesia selama dua pekan terakhir terbilang tinggi. Eks Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan bahwa angka kematian di Indonesia memang perlu untuk diwaspadai.

Tjandra menjelaskan, puncak kasus tertinggi di RI sebelumnya terjadi pada 9 Agustus 2022 dengan total 6.276 kasus. Kemudian kasus menurun dan saat ini kembali mengalami kenaikan yang bahkan sudah lebih tinggi.

"Memang sudah banyak dibicarakan bahwa kasus memang akan masih meningkat. Tetapi yang perlu jadi perhatian dan membuat kita prihatin adalah angka kematian," kata Tjandra melalui keterangan pada Health Liputan6.com, Rabu, 23 November 2022..

Tjandra mengungkapkan bahwa bila dibandingkan dengan Singapura, puncak kasus disana mencapai 11.934 orang pada 18 Oktober 2022. Namun angka kematian tertingginya hanya mencapai 5 orang. Sehingga menurut Tjandra, persentase kematian di Indonesia jelas lebih tinggi dari negara-negara tetangga.

"Padahal kita tahu bahwa XBB ini adalah bagian dari Omicron juga yang harusnya tidaklah terlalu berat, tetapi entah kenapa di kita menimbulkan angka kematian naik cukup tinggi. Ini harus diantisipasi segera," pungkasnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS