Sukses

Konsumsi Minuman Berpemanis Semakin Meningkat, Bagaimana Jika Cukai MBDK Tak Terealisasi?

Liputan6.com, Jakarta - Konsumsi Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia kini menempati peringkat ketiga konsumsi MBDK terbanyak di Asia Tenggara setelah Thailand dan Maldives.

Menurut Plt Manajer Riset Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) Gita Kusnadi, dari segi distribusi umur, konsumen terbanyak dari MBDK adalah kelompok umur 5 hingga 18 tahun.

"Kalau kita lihat dari data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) ternyata kebanyakan dari anak-anak dan remaja itu mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali sehari,” ujar Gita dalam wawancara eksklusif bersama Health Liputan6.com, Kamis (30/6/2022).

Konsumsi MBDK di masyarakat Indonesia terutama anak dan remaja perlu dibatasi lantaran memiliki kaitan erat dengan Penyakit Tidak Menular (PTM). MBDK berkontribusi pada peningkatan berat badan yang berujung pada obesitas dan meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular.

Untuk itu, penerapan cukai MBDK penting untuk direalisasikan guna mengurangi risiko PTM pada masyarakat.

Lantas, bagaimana jika cukai MBDK yang tengah dirancang sedemikian rupa tidak berjalan sesuai harapan?

Menanggapi pertanyaan ini, Project Lead for Food Policy CISDI Ayu Ariyanti mengatakan, jika konsumsi minuman berpemanis tidak terkendali maka dampaknya adalah ancaman pada kualitas hidup dan kesehatan dari generasi muda sampai jangka panjang.

"Jadi sebetulnya, isu cukai MBDK ini sudah dikaji dan didiskusikan selama 7 tahun dan yang bilang ini adalah Staf Khusus (Stafsus) Menteri Keuangan, Pak Yustinus Prastowo, cuman sampai saat ini memang belum ada penerapannya," ujar Ayu dalam kesempatan yang sama.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Mengancam Generasi Muda

Dampak kesehatan yang paling kentara adalah penyakit tidak menular termasuk obesitas yang semakin naik.

Di sisi lain, Indonesia akan menghadapi bonus demografi hingga 2045. Jadi, jika generasi muda di Indonesia hidup dengan sehat, maka produktivitasnya akan baik. Sebaliknya, jika sejak kecil konsumsinya tidak sehat maka akan ada dampak pada produktivitas mereka di masa depan.

“Yang akan rugi selain penderitanya ya negara lagi, jadi memang kerugiannya adalah beban biaya kesehatan. Kita kan sudah tahu BPJS itu meningkat biayanya dan PTM ini bukan penyakit yang biayanya sedikit dan bukan juga penyakit yang cepat sembuh.”

Dengan diterapkannya cukai MBDK maka akan terlihat perbaikan kesehatan masyarakat baik jangka pendek maupun jangka panjang, tambah Ayu.

Data menunjukkan, konsumsi MBDK yang berlebihan dampaknya tidak hanya terlihat pada masyarakat usia dewasa tapi juga usia muda.

Pada anak-anak, dampak MBDK bisa berkaitan dengan kualitas diet di masa depan.

3 dari 4 halaman

Jika Anak Dikenalkan MBDK Sejak Dini

Jika anak-anak sejak dini sudah dikenalkan dengan MBDK maka standar rasa manis yang diingat anak akan terbawa hingga remaja bahkan dewasa.

“Sekali anak dikenalkan dengan manisnya MBDK maka dia akan mengikuti standar ‘oh manis itu segini’ jadi itu akan terus menerus sampai dewasa,” kata Gita.

Sayangnya, lanjut Gita, penelitian MBDK pada anak-anak masih beragam. Ada yang mengatakan bahwa MBDK meningkatkan obesitas pada anak karena kalorinya cukup tinggi. Ada pula penelitian yang mengatakan bahwa MBDK hanya tinggi kalori dan tidak ada nutrisi lain.

“Kalau di anak-anak dampaknya itu bukan hanya obesitas tapi juga bisa mengalihkan anak dari konsumsi makanan yang lebih bergizi sehingga justru gizinya jadi kurang.”

Sedangkan, penelitian pada remaja merupakan penelitian terusan dari studi pada anak. Penelitian menyebutkan dampak konsumsi MBDK pada kehidupan anak saat dewasa.

“Kalau anak dari kecil kebiasaan konsumsi MBDK, nanti dewasanya akan seperti apa? Ternyata setelah mereka diikuti dalam beberapa tahun, risiko mereka mengalami obesitas itu lebih tinggi ketimbang anak-anak lain yang tidak mengonsumsi MBDK secara berlebihan.”

4 dari 4 halaman

Faktor yang Pengaruhi Konsumsi MBDK pada Anak

Gita juga menjelaskan terkait faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi MBDK pada anak-anak. Menurutnya, pola makan anak dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Faktor internal lebih merujuk pada pengetahuan dan sikap individu. Pada anak-anak, belum bisa dilihat dari sisi tersebut mengingat anak-anak juga belum terlalu sadar akan kandungan dari makanan atau minuman yang dikonsumsi.

“Memang kalau di anak-anak faktor eksternal yang paling berpengaruh besar. Dalam hal ini termasuk pola pengasuhan orangtua. Jika anak terekspos oleh lingkungan yang kurang sehat ya mau enggak mau dia ikut lingkungan itu.”

“Termasuk kalau dia melihat orangtuanya, orangtuanya pun dipengaruhi oleh lingkungan. Misalnya, akses ke produk MBDK murah, jarak 5 sampai 10 meter banyak toko yang jual MBDK bahkan dengan harga Rp1.000 pun banyak.”

Untuk itu, dorongan pada pemerintah terhadap penerapan cukai diperlukan karena yang memengaruhi diet masyarakat itu tidak hanya dari dalam diri mereka sendiri tapi juga dari lingkungan.