Sukses

Update COVID-19 Hari Ini 28 Juni 2022, Kasus Positif Bertambah 2.167, Sembuh 1.170, Meninggal Dunia 2

Liputan6.com, Jakarta - Kasus COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan yang cukup drastis. Dalam laporan harian sebaran COVID-19 per 28 Juni 2022 disebutkan bahwa penambahan kasus baru hari ini bertambah 2.167.

Angka ini turut menambah akumulasi kasus positif COVID-19 di Indonesia menjadi 6.084.063.

Penambahan juga terjadi pada kasus sembuh sebanyak 1.170 sehingga akumulasinya menjadi 5.912.025.

Sedangkan, kasus meninggal bertambah 2 sehingga akumulasinya menjadi 156.728.

Laporan per pukul 12.00 WIB itu juga menunjukkan angka kasus aktif yang terus bertambah. Penambahan kasus aktif hari ini adalah 995 sehingga totalnya menjadi 15.310.

Data juga menunjukkan penambahan kasus spesimen sebanyak 88.719 dan suspek sebanyak 4.822.

Laporan dalam bentuk tabel turut menunjukkan 5 provinsi dengan penambahan kasus terbanyak.

Kelima provinsi itu adalah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Bali.

-DKI Jakarta hari ini melaporkan 1.250 kasus baru dan 718 pasien telah sembuh.

-Jawa Barat 425 kasus positif baru dan 115 orang sembuh dari COVID-19.

-Banten di peringkat ketiga dengan 227 kasus baru dan 77 orang sembuh.

-Jawa Timur 109 kasus baru dan 104 sembuh dari COVID-19.

-Bali 54 kasus baru dan 70 orang sembuh.

Provinsi lain tidak menunjukkan penambahan kasus baru yang signifikan. Dan masih ada 8 provinsi tanpa penambahan kasus baru sama sekali. Provinsi-provinsi itu adalah Aceh, Bengkulu, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, dan Maluku Utara.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Laporan Sebelumnya

Di hari sebelumnya, yakni pada Senin 27 Juni 2022 kasus sembuh tercatat lebih tinggi dari kasus konfirmasi COVID-19.

Kasus sembuh bertambah 1.637 sementara kasus terkonfirmasi COVID-19 adalah 1.445. Kasus positif kemarin membuat akumulasi COVID-19 di Indonesia menjadi 6.081.896.

Berdasarkan tambahan kasus konfirmasi pada Senin, ada tiga provinsi teratas yang paling banyak sumbang kasus positif:

- DKI Jakarta 838 kasus positif

- Jawa Barat 241 kasus positif

- Banten 147 kasus positif

Meski begitu, kasus aktif per kemarin di angka 14 ribu. Ada 14.315 orang yang masih menjalani perawatan di rumah sakit ataupun menjalani isolasi di rumah.

Sementara itu, kasus kesembuhan yang signifikan naik kemarin membuat angka akumulasinya menjadi 5.910.855.

Sayangnya, kasus meninggal bertambah sembilan. Akumulasi selama pandemi COVID-19 adalah 156.726 meninggal akibat virus SARS-CoV-2.

Di tengah kenaikan kasus COVID-19 Tanah Air, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Mohammad Syahril mengingatkan masyarakat tetap memakai masker di luar ruang.

Masyarakat juga diingatkan, pelonggaran masker bukan berarti bebas masker sepenuhnya. Jika ingin melepas masker, terutama dalam kondisi tidak banyak orang dan orang yang mempunyai komorbid tetap menggunakan masker.

"Kalau ada pelonggaran memakai masker di luar itu bukan berarti bebas tidak memakai masker. Lepas masker ya dengan cara benar. Jadi, ada yang boleh memakai masker dan yang tidak," terang Syahril saat Talkshow Optimalisasi 3T: Upaya Bendung Gelombang Baru yang disiarkan dari Media Center COVID-19, Graha BNPB, Jakarta pada Kamis, 23 Juni 2022.

3 dari 4 halaman

Tetap Vaksinasi

Selain menggunakan masker, vaksinasi juga tetap direkomendasikan oleh para ahli mengingat kasus terus meningkat.

Seperti diketahui, sebagian masyarakat enggan mendapatkan vaksinasi COVID-19 lantaran ada anggapan bahwa vaksin memicu masalah kesehatan lain seperti penyakit jantung.

Salah satu vaksin yang dikhawatirkan masyarakat dapat memicu penyakit jantung adalah AstraZeneca. Terkait hal ini, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Prof. Dr. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, SpA(K), M. Trop.Paed mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara AstraZeneca dengan sakit jantung.

“Kaitannya enggak ada, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga tidak menunjukkan data yang demikian,” kata Hinky dalam dalam seminar daring bertajuk Perjalanan Vaksinasi COVID-19: Pentingnya Vaksinasi Booster di Masa Pandemi Sabtu (25/6/2022).

Bukan hanya AstraZeneca, vaksin Sinovac juga tidak terbukti menyebabkan penyakit jantung atau penyakit jantung yang diderita menjadi lebih parah.

“Artinya, bukan merupakan kontraindikasi apabila seseorang yang menderita penyakit jantung divaksinasi Sinovac atau AstraZeneca. Dengan catatan penyakit jantungnya terkendali dengan atau tanpa obat.”

4 dari 4 halaman

Pastikan Penyakit Terkontrol

Hinky mengimbau, bagi pasien penyakit jantung yang hendak vaksinasi, Hinky mengimbau agar memastikan penyakitnya terkontrol dengan baik dan istirahat cukup.

“Sampai saat ini enggak ada laporan yang menunjukkan setelah vaksinasi Astrazeneca atau Sinovac kemudian sakit jantung,” kata Hinky.

Ia pun mengimbau semua masyarakat untuk segera melengkapi vaksinasi hingga booster. Mengingat capaian booster di Indonesia masih terbilang rendah.

Data Kementerian Kesehatan serta Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah vaksinasi COVID-19 terbanyak di dunia.

Indonesia menempati urutan keempat setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat dengan sasaran target vaksinasi COVID-19 nasional sebesar 208.265.720 juta penduduk.

Namun, sekitar 76 persen masyarakat Indonesia belum melakukan vaksinasi booster. Padahal, diketahui bahwa seiring berjalannya waktu efektivitas vaksin primer bisa terus menurun.

Data surveilans Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 viral vektor aman sebagai vaksin primer maupun booster yang memberikan perlindungan tinggi dan konsisten setara dengan vaksin 'mRNA', bahkan pada kelompok yang lebih rentan.

Hinky mengatakan bahwa lebih dari 65 juta dosis vaksin COVID-19 viral vektor telah diberikan di Indonesia.

“Hingga saat ini, data surveilans KIPI menunjukkan bahwa vaksin COVID-19 viral vektor aman sebagai primer maupun booster. Manfaat yang diperoleh juga jauh lebih besar daripada risiko yang mungkin terjadi,” katanya.