Sukses

HEADLINE: Cacar Monyet Menyebar Lebih dari 20 Negara, Antisipasi di Indonesia?

Liputan6.com, Jakarta Saat COVID-19 mulai terkendali, dunia kembali dibuat deg-degan dengan kehadiran penyakit monkeypox atau cacar monyet. Ini bukan penyakit baru tapi yang bikin ketar-ketir adalah orang yang terinfeksi bukan berasal di negara endemik cacar monyet yakni di Afrika.

Berawal pada 7 Mei 2022, Inggris Raya melaporkan ke World Health Organization (WHO) satu kasus terkonfirmasi cacar monyet. Pria ini memang memiliki riwayat perjalanan ke Nigeria yang merupakan salah satu negara endemik monkeypox.

Pasien tersebut pada tanggal 29 April 2022 bergejala dan tiba di Inggris pada 4 Mei. Ia sudah menjalani isolasi dan karantina kontak selama 21 hari.

Lalu, kasus di Inggris Raya terus bertambah. Pada tanggal 13 Mei 2022 ada 2 kasus konfirmasi dan 1 (satu) probable monkeypox pada sebuah keluarga. 

Bak gulungan salju, jumlah orang terkonfirmasi cacar monyet di Inggris terus bertambah. Data terakhir pada 25 Mei total kasus monkeypox di Inggris ada 85.

"Berdasarkan data kasus terakhir 25 Mei, hal ini membuat kasus terkonfirmasi cacar monyet di Inggris sejak 7 Mei menjadi 85," tulis laman resmi pemerintah Inggris dikutip pada Jumat (27/5/2022).

Bukan cuma Inggris yang melaporkan. Beberapa negara Eropa seperti Spanyol, Portugal, Italia, Prancis juga melaporkan kasus cacar monyet ke WHO.

Lalu, negara-negara Skandinavia seperti Belgia dan Swedia juga melaporkan temuan warganya kena cacar monyet.

Amerika Serikat juga melaporkan kasus cacar monyet baru-baru ini. Seorang pria Massachusets yang baru kembali usai bepergian dari Kanada positif cacar monyet seperti disampaikan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) pada 18 Mei 2022.

Lalu, negara tetangga Australia juga sudah melaporkan kasus warganya terpapar cacar monyet. Ceko, Slovenia, dan Uni Emirat Arab juga sudah melaporkan ke WHO untuk pertama kalinya dalam sejarah ada kasus cacar monyet di negara tersebut.

Total sudah ada 200 kasus terkonfirmasi cacar monyet dan lebih dari 100 kasus suspek yang dilaporkan lebih dari 20 negara di dunia seperti disampaikan epidemiolog penyakit infeksi yang juga menjabat sebagai WHO Health Emergencies Programme, Maria Van Kerkhove.

"Kami menduga ada lebih banyak kasus terdeteksi. Maka dari itu, kami meminta negara-negara meningkatkan pengawasan," kata Maria saat sesi live tanya jawab yang disiarkan di YouTube WHO pada Selasa, 26 Mei waktu Jenewa.

 

2 dari 8 halaman

Belum Ada Kasus Cacar Monyet di RI

Ketika lebih dari 20 negara sudah melaporkan kasus cacar monyet, hingga kini Indonesia masih nol kasus tersebut. Meski begitu, Kemenkes RI mengatakan tetap waspada.

"Indonesia belum ada kasus (cacar monyet)," kata Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia (RI) Mohammad Syahril pada konferensi pers Perkembangan Kasus Hepatitis Akut dan Cacar Monyet di Indonesia di Jakarta pada Selasa, 24 Mei 2022.

Sejak kasus tersebut merebak di Eropa, Syahril mengatakan Indonesia sudah melakukan langkah mitigasi sebagai kewaspadaan cacar monyet.

"Tetapi karena ini adalah (penyakit) yang bisa menular kepada negara lain, yang dibawa oleh hewan maupun manusia, maka seluruh negara sebetulnya sudah melakukan upaya-upaya kewaspadaan," terangnya.

Syahril mengatakan ada empat upaya kewaspadaan RI hadapi cacar monyet. Pertama, mengedukasi masyarakat mengenai cacar monyet. Hal ini lewat update situasi dan merilis serba-serbi tentang cacar monyet lewat Frequently Asked Questions di laman infeksiemerging, kemkes.go.id.

Kedua, menerbitkan surat edaran (SE) terkait kewaspadaan terhadap wabah cacar monyet (monkeypox) yang sedang melanda negara-negara non endemis.

Surat edaran di atas tertuang melalui SE Nomor: HK.02.02/C/2752/2022 Tentang Kewaspadaan Terhadap Kewaspadaan Terhadap Penyakit Monkeypox di Negara Non Endemis. SE ini ditandatangani Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu tertanggal 26 Mei 2022.

Dalam SE yang diperoleh Health Liputan6.com, Jumat (27/5/2022), Kemenkes meminta seluruh elemen masyarakat, tenaga kesehatan, rumah sakit sampai dinas kesehatan setempat untuk memantau bila ada temuan kasus cacar monyet.

Ketiga, merevisi pedoman pencegahan dan pengendalian monkeypox menyesuaikan situasi dan update WHO yang berisi tentang surveilans, tata laksana klinis, komunikasi risiko hingga pengelolaan laboratorium.

Keempat, Kemenkes juga tengah menyiapkan laboratorium pemeriksaan dan rujukan. Untuk diketahui, dalam menegakkan seseorang terkonfirmasi cacar monyet perlu pemeriksaan spesimen di laboratorium dalam hal ini lesi cacar monyet.

"Telah ditetapkan laboratorium nasional untuk pemeriksaan di Badan Litbangkes Kemenkes--sekarang bernama Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) milik Kementerian Kesehatan. Di sana, disiapkan untuk memberikan penilaian konfirmasi terhadap kasus," kata Syahril.

 

3 dari 8 halaman

Epidemiolog: Indonesia Harusnya Siap Hadapi Cacar Monyet

Ahli epidemiologi Dicky Budiman menilai dari sisi surveilans dan infrastruktur seharusnya Indonesia memang sudah lebih siap dibanding saat melawan COVID-19 yang penularannya lebih cepat.

“Tapi hal itu juga akan bergantung kepada respons, karena bicara siap itu tetap kemampuan surveilans, tenaga tracing, sistemnya, termasuk ada enggak vaksinnya? Karena vaksin yang relatif aman dan dianjurkan itu yang terkini, Nordic, yang relatif terbatas aksesnya.”

“Jadi kalau saya lihat, fifty fifty lah kesiapannya karena ini bicara juga suatu respons untuk menghadapi penyakit dengan masa inkubasi panjang, kemampuan deteksi dini, tracing, dan literasi menjadi sangat penting,” kata Dicky kepada Health Liputan6.com melalui pesan suara, Jumat (27/5/2022).

Meski belum ada kasus di Indonesia, Dicky menilai potensi masuknya cacar monyet ke Tanah Air jelas ada.

“Potensi penyebaran cacar monyet atau monkeypox ini jelas ada, jelas bisa masuk ke wilayah Indonesia. Karena, era global saat ini memungkinkan manusia untuk terbang dari satu negara ke negara lain dengan cepat,” ujar Dicky.

Situasi pelonggaran saat ini juga menjadi waktu yang rawan untuk virus seperti penyebab cacar monyet masuk ke berbagai negara termasuk Indonesia.

Meski begitu, cacar monyet belum sebanding dengan COVID-19. Dari sisi kecepatan penularan, monkeypox di bawah COVID. Namun, monkeypox tidak bisa dianggap remeh karena ini adalah “sepupu” dari penyakit virus yang sempat menjadi pandemi besar penyebab kematian ratusan juta orang yang disebut smallpox atau variola.

“Jadi ya enggak bisa dan enggak boleh dianggap remeh.”

Cacar monyet sendiri secara aspek epidemiologi sudah banyak diketahui walau belum menyeluruh, lanjut Dicky. Berbeda dengan hepatitis akut atau acute hepatitis of unknown aetiology yang masih misterius.

“Ini yang disayangkan, karena ini (monkeypox) adalah penyakit endemi lama, tapi karena dikesampingkan karena dianggap sebagai penyakit endemik di Afrika akhirnya semua bertanya-tanya kenapa bisa ada di luar Afrika, berarti ada beberapa hal yang belum diketahui secara utuh.”

 

 

4 dari 8 halaman

Cacar Monyet Bukan Penyakit Baru

Cacar monyet bukanlah penyakit baru. Ini adalah penyakit zoonosis yaitu penyakit yang ditularkan oleh virus ke manusia dari hewan seperti monyet dan hewan pengerat (rodent) melalui kontak langsung.

Virus monkeypox merupakan anggota genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar Smallpox) dan virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar Smallpox).

Pertama kali, cacar monyet ditemukan pada 1958 pada kera yang dipelihara untuk penelitian. Lalu, pertama kali menginfeksi manusia pada 1970 ke seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di Kongo.

Sejak saat itu, sebagian besar kasus cacar monyet telah dilaporkan dari pedesaan dan daerah hutan hujan di Kongo. Kemudian, kasus cacar monyet pun semakin banyak dilaporkan dari seluruh Afrika tengah dan barat.

Wilayah negara yang sudah dinyatakan endemik monkeypox secara global adalah Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Pantai Gading, Liberia, Sierra Leone, Gabon dan Sudan Selatan.

Namun, yang menjadi tanda tanya adalah kasus yang baru-baru ini terjadi dilaporkan dari luar negara endemik cacar monyet dalam waktu bersamaan seperti disampaikan WHO Smallpox Secretariat Emerging Diseases and Zoonoses Unit, Rosamund Lewis.

"Dalam lima tahun terakhir, biasanya yang terkena adalah para traveler yang baru kembali dari kawasan Afrika. Namun, ini pertama kali kami melihat kasus ini dilaporkan banyak negara dalam waktu bersamaan dan pada orang yang tidak melakukan perjalanan ke Afrika," kata Lewis dalam Live QnA Monkeypox pada 23 Mei 2022 di Twitter WHO.

Hingga kini para ilmuwan masih terus menelusuri penyebab cacar monyet menyebar di negara-negara non endemik.

Lewis mengatakan sejauh ini tidak dapat disebut akibat mutasi lantaran belum ada bukti yang mengarah ke sana. Mutasi cenderung lebih rendah pada virus ini. Namun, pengurutan genom kasus akan membantu menginformasikan pemahaman tentang wabah saat ini.

Kemungkinan mutasi memang menjadi salah satu perhatian pakar kesehatan. Pasalnya, mutasi bisa membuat virus lebih mudah menular atau parah.

5 dari 8 halaman

Penularan dan Gejala Cacar Monyet

Syahril mengungkapkan bahwa cacar monyet menular dari hewan ke manusia melalui kontak erat dengan hewan atau manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi virus. Penularan dari manusia ke manusia bisa terjadi.

"Contoh, ada monyet atau orang yang ada (positif) virus cacar monyet terkena, mungkin dari sprei atau bahan apapun, termasuk dari lesi. Itu dapat menular kepada orang lain yang bersentuhan," katanya.

"Bahan-bahan yang bisa menularkan, pertama lewat darah, air liur maupun cairan tubuh. Kedua, lesi di kulit cacar. Lesinya kan seperti ada cairannya. Makanya, kalau pecah bisa memberikan penularan. Kemudian juga ada dugaan droplet (percikan) pernapasan."

Di sisi lain, Chief Health Officer di Victoria Brett Sutton mengatakan, virus Human monkeypox secara teori tidak mudah menular antara manusia ke manusia lainnya. Biasanya orang yang terpapar akan sembuh sendiri dalam dua hingga tiga minggu.

Terkait kasus cacar monyet yang dilaporkan selama Mei 2022, Kepala WHO Emergency Committee, Professor David L. Heymann mengatakan bahwa kasus cacar monyet di luar negara endemik ini mungkin terjadi lewat transmisi seksual antara pria gay dan biseksual. Seperti temuan beberapa kasus di Inggris, Spanyol dan Belgia.

“Kita tahu monkeypox dapat menyebar ketika ada kontak dekat dengan lesi seseorang yang terinfeksi. Dan sepertinya kontak seksual sekarang telah memperkuat penularan itu,” kata Heyman mengutip New York Post.

Pejabat Spanyol pun telah mengatakan bahwa kasus cacar monyet di sana telah ditelusuri berasal dari perayaan Gay Pride di Kepulauan Canary.

Terkait itu, WHO dalam rilis 25 Mei 2022 memberikan pesan kepada mereka dengan orientasi seksual sesama jenis maupun biseksual berjudul "Monkeypox: public health advice for gay, bisexual and other men who have sex with men"

Dalam rilis tersebut, WHO mengatakan beberapa kasus cacar monyet teridentifikasi di klinik kesehatan seksual yang melayani komunitas gay dan biseksual.

Meski begitu, WHO juga menekankan bahwa cacar monyet bisa menular pada semua orang yang memiliki kontak dekat dengan orang yang terinfeksi virus tersebut.

"Meski begitu, mengingat virus ini pada sebagian kasus teridentifikasi di komunitas ini (gay dan biseksual) maka mempelajari tentang cacar monyet akan membantu mencegah penularan penyakit ini lebih lanjut dan wabah bisa dihentikan," kata WHO.

Maka dalam rilis tersebut, WHO menjelaskan mengenai gejala bila terpapar cacar monyet. Dengan jelas WHO menuliskan bahwa penularan bisa terjadi lewat kontak fisik termasuk aktivitas seksual.

"Cacar monyet dapat menular lewat kontak kulit dengan kulit yang dekat saat berhubungan seks, termasuk berciuman, bersentuhan, seks oral dan penetrasi pada seseorang yang memiliki gejala," kata WHO.

"Hindari melakukan kotak dekat dengan siapa pun yang memiliki gejala mengarah ke cacar monyet," jelas WHO lagi.

Ditekankan lagi di bagian bawah bahwa menstigmatisasi seseorang karena penyakit bukanlah hal baik. Siapapun bisa tertular atau menularkan cacar monyet, terlepas dari orientasi seksualitas mereka.

"Menstigmatisasi sekelompok orang karena suatu penyakit tidak pernah dapat diterima. Ini dapat menjadi penghalang untuk mengakhiri wabah karena dapat mencegah orang mencari perawatan, dan menyebabkan penyebaran yang tidak terdeteksi," kata WHO di kesempatan sebelumnya. 

Beberapa pakar kesehatan juga angkat suara mengenai stigma. Selalu menghubungkan antara cacar monyet dan pria gay mengingatkan mereka pada pelaporan awal soal HIV dan AIDS pada 40 tahun lalu.

"Meski begitu, cacar monyet bukanlah penyakit gay," ahli virus sekaligus peneliti kesehatan masyarakat Keletso Makofane, Dr Boghuma Kabisen Titanji.

 

Gejala

Masa inkubasi cacar monyet biasanya 6 sampai 16 hari, tetapi dapat mencapai 5 sampai 21 hari. Saat seseorang terkena cacar monyet maka bakal melewati dua tahapan gejala. 

"Yang perlu diketahui gejalanya ada dua tahapan. Pertama disebut dengan gejala awal. Gejala ini berlangsung satu sampai tiga hari," kata Syahril.

Berikut gejala awal cacar monyet yang terjadi pada 1 sampai 3 hari:

- Demam tinggi

- Sakit kepala hebat

- Limfadenopati atau pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak dan selangkanan

- Nyeri punggung dan nyeri otot

- Lemas

Lalu, sesudah fase awal masuk ke fase erupsi atau fase paling infeksius terjadinya ruam atau lesi pada kulit biasanya dimulai dari wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Secara bertahap, muncul bintik merah seperti cacar makulopapula, lepuh berisi cairan bening (blister), lepuh berisi nanah (pustule). Selanjutnya, mengeras atau keropeng lalu rontok.

Seseorang yang terinfeksi berisiko menularkan monkeypox sejak timbulnya ruam atau lesi. Setelah semua keropeng rontok, seseorang sudah tidak berisiko menularkan lagi.

6 dari 8 halaman

Cacar Monyet Bisa Sembuh Sendiri

Syahril mengatakan orang yang terkena cacar monyet bisa sembuh sendiri.

"Sebenarnya (cacar monyet) bisa sembuh sendiri ya dengan ditandai rontoknya ruam-ruam atau lesi-lesi tadi. Sebagian menimbulkan bekas seperti bopeng, tapi itu bisa sembuh sendiri," katanya.

Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox. Pengobatan simptomatik dan supportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul. 

Pasien monkeypox dapat dirawat di ruang isolasi untuk mencegah penularan terutama pada fase erupsi. Biasanya pasien berada dalam kondisi penurunan daya tahan tubuh, sehinggarentan terkena infeksi nosocomial.

Belgia telah menjadi negara pertama di dunia yang mengumumkan karantina cacar monyet karena kasus terus menyebar dengan cepat.

Dalam aturan baru, mereka yang dites positif terkena virus cacar monyet di Belgia akan diminta untuk menjalani karantina wajib selama 21 hari. Aturan tersebut merupakan upaya untuk menghentikan penyebaran infeksi.

Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) mengeluarkan pedoman baru untuk pencegahan penularan cacar monyet. Dalam pedoman terbarunya, UKSHA meminta orang yang berkontak erat dari pasien terkonfirmasi dengan risiko paparan tertinggi harus menjalani isolasi mandiri (isoman) selama 21 hari.

 

7 dari 8 halaman

Cegah Terpapar Cacar Monyet

Kementerian Kesehatan RI juga telah merilis upaya mencegah terpapar monkeypox. Berikut caranya:

- Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan air dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.

- Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata dan membatasi pajanan langsung dengan darah atau daging yang tidak dimasak dengan baik.

- Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau material yang terkontaminasi, termasuk tempat tidur atau pakaian yang sudah dipakai penderita.

- Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging yang diburu dari hewan liar (bush meat)

- Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit monkeypox agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, serta menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.

- Petugas kesehatan agar menggunakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

8 dari 8 halaman

Hadapi Cacar Monyet Lewat Vaksinasi, Memang Perlu?

Kementerian Kesehatan RI mengatakan vaksin yang digunakan selama program pemberantasan cacar (smallpox) memberikan perlindungan terhadap monkeypox. Lalu, vaksin baru yang dikembangkan untuk smallpox telah disetujui pada tahun 2019 untuk digunakan dalam mencegah monkeypox namun ketersediaan global masih terbatas.

Salah satu yang hendak memberikan vaksin cacar terbaru itu adalah Amerika Serikat. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS mengumumkan akan menyuntikkan vaksin cacar pada kelompok berisiko di negaranya.  Vaksin akan diberikan kepada orang yang pernah berkontak dengan pasien cacar monyet seperti petugas kesehatan, orang yang melakukan kontak fisik dekat, dan mereka yang mungkin berisiko tinggi terkena penyakit parah akibat infeksi.

Amerika Serikat juga mengatakan bahwa bahwa pihaknya sedang dalam proses produksi vaksin Jynneos untuk digunakan dalam kasus cacar monyet. 

Tak berapa lama usai hal tersebut diutarakan CDC, WHO mengungkapkan bahwa saat ini vaksinasi cacar monyet atau monkeypox di luar Afrika belum dibutuhkan. Hal tersebut lantaran masih terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebarannya.

Menurut WHO, cara untuk mencegahnya masih berkaitan dengan menjaga kebersihan yang baik. Termasuk soal perilaku seksual yang harus dilakukan dengan aman untuk membantu mengendalikan penyebaran cacar monyet.

Dalam kesempatan berbeda, pemimpin tim patogen WHO Eropa, Richard Pebody mengungkapkan bahwa pasokan langsung vaksin dan antivirus terkait cacar monyet juga masih terbatas.

"Langkah-langkah utama untuk mengendalikan wabah adalah pelacakan kontak dan isolasi," ujar Richard dikutip Channel News Asia.

"Itu bukan virus yang menyebar dengan sangat mudah, juga sejauh ini tidak menyebabkan penyakit serius. Vaksin yang digunakan untuk memerangi cacar monyet dapat memiliki beberapa efek samping yang signifikan," Richard menjelaskan.

Sedangkan, pemerintah Jerman sendiri mengatakan bahwa mereka sedang menilai pilihan untuk vaksinasi, sementara Inggris telah menawarkannya kepada beberapa petugas kesehatan.