Sukses

Ada 12 Jenis Depresi, Kenali Lebih Jauh Perbedaannya

Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan mental jadi topik yang banyak digaungkan di era saat ini, termasuk soal Depresi. Namun tak dapat dipungkiri, depresi seolah ada dalam tenda besar yang memiliki banyak nuansa abu-abu.

Padahal, mengetahui jenis depresi yang dialami seseorang dapat membantu siapapun yang mengalaminya untuk lebih mudah memahami kondisi dan mungkin membuka pintu untuk mencari pengobatan yang paling efektif.

"Orang-orang tampaknya terhibur ketika sudah mengetahui apa yang terjadi pada mereka. Setidaknya mereka memiliki jawaban atas apa yang mereka alami," ujar psikiater Einstein Healthcare Network di Philadelphia, Sarah Noble dikutip Health, Selasa (17/5/2022).

Depresi bisa berlangsung ringan ataupun berat, bisa dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Bahkan dalam kondisi tertentu seperti kehamilan atau kelahiran bayi pun dapat memicu adanya gejala depresi.

Biasanya, depresi dapat dinilai berdasarkan gejala yang muncul. Seperti perasaan sedih, hampa, tidak berharga, putus asa, dan bersalah.

Serta kehilangan energi, nafsu makan, atau minat dalam kegiatan yang menyenangkan, perubahan kebiasaan tidur dan pikiran tentang kematian dan bunuh diri.

Lalu, apa sajakah ke 12 jenis depresi tersebut? Berikut penjelasannya.

Major depressive disorder

Anda mungkin tak asing dengan jenis depresi yang satu ini. Major depressive disorder (gangguan depresi mayor) merupakan jenis depresi berat atau depresi klinis.

Berdasarkan daftar diagnostik American Psychiatric Association, seseorang setidaknya harus memiliki lima gejala depresi yang bertahan selama dua minggu atau lebih untuk dapat dikatakan memiliki depresi jenis ini.

Gangguan depresi mayor juga memiliki dua subtipe yakni depresi atipikal dan depresi melankolis.

"Orang yang termasuk dalam kategori pertama cenderung banyak tidur dan makan. Mereka secara emosional reaktif dan sangat cemas," ujar Sarah.

"Kebalikannya, mereka yang termasuk dalam kategori melankolis mengalami kesulitan tidur dan cenderung merenungkan pikiran yang dipenuhi rasa bersalah," tambahnya.

2 dari 4 halaman

Depresi resistan

Sarah menjelaskan, terkadang orang dengan gangguan depresi mayor tidak segera melakukan pengobatan. Sehingga depresi bisa berlanjut.

"Bisa karena genetik, bisa juga karena lingkungan. Depresi jenis ini bisa begitu kuat (sulit dihilangkan)," ujarnya.

Depresi subsindromal

Jenis depresi satu ini terjadi ketika seseorang memiliki tiga atau empat gejala depresi, dan mengalaminya selama seminggu.

"Tak hanya gejala, depresi juga bisa dilihat berdasarkan fungsi. Seperti apakah masih dapat pergi kerja dan mengurus tanggung jawab sehari-hari atau tidak," ujar Sarah. 

Gangguan depresi persisten

Orang dengan gangguan depresi persisten memiliki suasana hati yang rendah, gelap, atau sedih hampir setiap hari dan setidaknya dua gejala tambahan depresi yang berlangsung dua tahun atau lebih.

Tak hanya itu, orang dengan jenis depresi ini juga memiliki masalah tidur yang terlalu banyak atau justru sedikit, energi rendah atau kelelahan, rendah diri, nafsu makan buruk atau berlebihan.

Serta konsentrasi buruk atau kesulitan membuat keputusan, dan perasaan putus asa. 

3 dari 4 halaman

Gangguan disforia pramenstruasi

Bentuk PMS yang berat dianggap dapat memicu depresi, kesedihan, kecemasan, atau mudah marah. Serta gejala ekstrem lainnya pada minggu sebelum menstruasi pada wanita.

"Ini bisa sangat tidak nyaman, melumpuhkan, dan mengganggu kehidupan sehari-hari wanita," kata Dorothy Sit, MD, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Fakultas Kedokteran Feinberg Universitas Northwestern Chicago.

Depresi bipolar

Perubahan suasana hati dan energi yang luas dari kegembiraan hingga keputusasaan menjadi tanda dari jenis depresi satu ini bipolar.

Depresi bipolar juga disebut gangguan bipolar atau penyakit manik-depresi, yang mana dapat terjadi jika seseorang mengalami serangan mania.

Disruptive mood dysregulation disorder (DMDD)

Jeritan dan amarah dapat menjadi ciri DMDD, sejenis depresi yang didiagnosis pada seseorang yang kesulitan mengatur emosinya.

Gejala lain termasuk suasana hati yang mudah tersinggung atau marah hampir setiap hari dan kesulitan bergaul di sekolah, di rumah, atau dengan teman sebayanya.

Depresi pasca persalinan

Kelahiran bayi dapat membawa kebahagiaan yang luar biasa. Namun terkadang di sisi lain dapat menyebabkan depresi pasca persalinan.

Pada wanita, depresi pasca persalinan kemungkinan dipicu oleh perubahan hormon, kelelahan, dan faktor lainnya.

Sedangkan pada pria, itu adalah lingkungan, yang disebabkan oleh pergeseran peran dan perubahan gaya hidup yang menyertai pengasuhan.

 

4 dari 4 halaman

Seasonal affective disorder

Seasonal affective disorder (SAD) merupakan jenis depresi berulang yang biasanya terjadi akibat adanya perubahan cuaca atau musim.

Jenis depresi satu ini muncul pada waktu yang sama setiap tahunnya setidaknya selama dua tahun berulang.

Gangguan suasana hati akibat zat adiktif

Menggunakan atau menyalahgunakan obat penenang dapat mengubah suasana hati Anda. Zat yang dapat menyebabkan jenis depresi tersebut termasuk alkohol, obat penghilang rasa sakit opioid, dan benzodiazepin.

Depresi psikotik

Orang dengan depresi psikotik mengalami depresi berat disertai psikosis, yang ditandai dengan hilangnya kontak dengan kenyataan.

Gejala psikosis biasanya termasuk halusinasi dan delusi.

Depresi atas suatu penyakit

Mengatasi penyakit kronis yang serius, seperti penyakit jantung, kanker, multiple sclerosis, dan HIV/AIDS dapat membuat seseorang depresi dengan sendirinya.

Peradangan yang terjadi pada tubuh juga ternyata dapat berkontribusi dalam jenis depresi satu ini.

"Peradangan menyebabkan pelepasan bahan kimia tertentu oleh sistem kekebalan yang masuk ke otak, menyebabkan perubahan otak yang dapat memicu atau memperburuk depresi pada orang-orang tertentu," kata Sarah.