Sukses

Hoaks dan Pengalaman Tak Menyenangkan Jadi Alasan Lansia Enggan Vaksinasi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Masyarakat lanjut usia (lansia) merupakan salah satu kelompok yang rentan terpapar COVID-19. Para lansia menjadi kelompok prioritas penerima vaksin.

Namun, tak sedikit lansia di Indonesia enggan mendapat vaksinasi lantaran takut dengan efek sampingnya. Hal ini disampaikan Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) Siti Nadia Tarmizi.

“Memang sulit meyakinkan lansia untuk divaksinasi, banyak juga lansia yang enggak mau divaksinasi,” kata Nadia dalam seminar daring Geriatri TV dikutip Rabu (11/5/2022).

Banyaknya lansia yang enggan mendapat vaksinasi salah satunya diakibatkan paparan informasi yang salah, lanjut Nadia.

“Mereka mendengar informasi yang salah, contohnya ‘lansia kalau banyak komorbid jangan divaksinasi nanti malah jadi sakit berat’ nah ini adalah informasi yang salah karena sebenarnya justru vaksinasi COVID-19 ini ditujukan pada lansia dan orang dengan komorbid.”

Seiring dengan penambahan usia dan adanya komorbid, terutama komorbid yang tidak terkontrol dan berat maka risiko kematian dan keparahannya meningkat.

“Risikonya tinggi sekali bisa sampai 5 hingga 6 kalinya dari usia non lansia.”

Selain akibat hoaks atau berita bohong, beberapa lansia juga mengalami pengalaman tak menyenangkan setelah vaksinasi dosis pertama. Hal ini turut membuat lansia tak ingin melanjutkan vaksinasi.

Lansia mungkin di dosis satu mengalami efek samping seperti demam, sakit, ngilu-ngilu seluruh badannya, akhirnya jadi takut untuk dosis kedua.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Manfaat Perlindungan Vaksinasi pada Lansia

Padahal, lanjut Nadia, manfaat perlindungan vaksinasi terutama pada lansia terbilang luar biasa.

“Manfaat perlindungan vaksin terutama pada lansia itu luar biasa, makanya lebih baik kita divaksinasi dan merasakan sedikit gejala-gejala efek samping.”

“Tapi kan gejala-gejala efek samping itu akan hilang dalam dua sampai tiga hari. Jadi manfaat vaksin itu jauh lebih besar daripada keluhan efek sampingnya.”

Maka dari itu, Nadia mengimbau untuk para lansia segera mendapatkan vaksinasi. Pemerintah juga tidak lagi mengharuskan masyarakat untuk menunggu vaksin yang sama bagi setiap orang. Dengan kata lain, lansia bisa mendapatkan vaksin jenis apa saja.

“Sinovac, AstraZeneca, Pfizer, Moderna, Johnson & Johnson, bahkan saat ini kalau yang pertama kita dapat AstraZeneca terus yang kedua tersedianya Moderna, ya sudah bisa disuntik itu karena itu aman.”

“Jadi enggak usah pilih-pilih jenis vaksin dan menunggu vaksin tertentu karena belum tentu jenis vaksin tertentu itu akan ada dan jangan sampai kita tunggu-tunggu vaksin akibatnya kita tidak ada proteksi.”

3 dari 4 halaman

Meyakinkan Lansia

Proteksi lansia di masa pandemi COVID-19 sangat penting agar mereka terhindar dari gejala parah dan kematian, kata Nadia.

“Kalau ditanya bagaimana cara meyakinkan lansia ya jangan bosen-bosen mengedukasi, ngajakin, kalau perlu temannya orangtua kita yang ngomong ke orangtua kita langsung, ‘saya sudah divaksinasi kok enggak apa-apa’ karena kalau dengan peer group-nya akan lebih nyaman dan lebih mau datang untuk vaksinasi.”

Nadia kembali mengingatkan, kelompok yang memiliki risiko tinggi terkena COVID-19 yang fatal adalah para lansia dan orang dengan komorbid terutama yang tidak terkontrol.

“Ini terjadi di hampir setiap negara, lansia menjadi penyumbang kematian yang tinggi. Sebenarnya dari awal juga lansia memang paling banyak meninggal. Sekarang proteksi cakupan vaksinasi yang tinggi sudah terlihat hampir pada seluruh kelompok umur kecuali lansia dan komorbid.”

Indonesia hingga kini masih dalam situasi pandemi, imbuh Nadia, maka dari itu ia berharap keluarga dapat memberi proteksi pada para lansia.

4 dari 4 halaman

Tak Terpakai

Banyaknya lansia yang enggan mendapat vaksin membuat kelompok tersebut tidak terlindungi dengan optimal. Bukan hanya itu, lansia yang tak bersedia divaksinasi juga dapat membuat vaksin tidak terpakai.

Sebelumnya dilaporkan bahwa sedikitnya 30.000 vaksin di Lamongan bisa kadaluwarsa jika tak dihabiskan pada Senin (28/2/2022). Vaksin jenis Sinovac itu dikhususkan untuk vaksinasi tahap kedua bagi warga di Lamongan.

Kepala Dinas Kesehatan Lamongan, Taufiq Hidayat membenarkan ihwal vaksin kadaluwarsa tersebut. Dia mengatakan bahwa vaksin-vaksin tersebut sedianya akan diberikan kepada warga lanjut usia di Lamongan.

"Vaksinasi untuk lanjut usia kita kesulitan. Penyebabnya banyak faktor, salah satu di antaranya atas permintaan pihak keluarga yang tak mau divaksinasi,” kata Taufiq Hidayat, Minggu (27/2/2022).

Meski terancam bakal kadaluwarsa, Taufiq mengaku tak khawatir. Ia mengatakan vaksin-vaksin tersebut akan dikembalikan ke Pemprov Jatim dan meminta digantikan dengan yang baru.

"Undang-undang sekarang kan tidak lagi memberlakukan vaksin hanya untuk satu wilayah. Tapi, bisa disalurkan ke daerah lain yang membutuhkan. Kalau tidak bisa dikembalikan juga tidak masalah," katanya.