Sukses

Teknologi Robotic Prostate Biopsy Bantu Deteksi Dini Kanker Prostat dengan Keakuratan Tinggi

Liputan6.com, Jakarta Kunci utama keberhasilan penanganan kanker prostat adalah ditemukannya kanker dalam stadium dini. Masalahnya, kebanyakan pasien kanker prostat datang berobat pada stadium lanjut.

Kini, sebuah teknologi digital bernama Robotic Prostate Biopsy hadir di Indonesia dan mampu mendeteksi kanker prostat sejak dini sehingga dapat meningkatkan keberlangsungan hidup pasien.

Seperti disampaikan dokter spesialis bedah urologi dr Hery Tiera, Sp.U, teknologi robotik MRI/US Fusion Prostate Biopsy ini memiliki detection rate lebih tinggi. 

“Biopsi akan dipandu oleh gambar dari pencitraan MRI. Potongan gambar hasil MRI yang dicurigai memiliki indikasi jaringan kanker akan dikontemplasi ke dalam sebuah robot platform yang akan melakukan scanning digital dan menggabungkannya dengan gambar USG real time, dan secara otomatis menentukan titik-titik lokasi biopsi selama proses pengambilan sampel jaringan,” katanya dalam konferensi pers “Terus Berinovasi Selama 35 Tahun, RS Pondok Indah Group Dukung Transformasi Teknologi dan Digitalisasi dalam Dunia Kesehatan”, ditulis Minggu (18/12/2021).

Menurut dr Hery, dibandingkan dengan metode lainnya, prognosisnya Robotic Prostate Biopsy pun lebih baik.

"Tindakan ini bersifat minimal invasif, sehingga mengurangi risiko komplikasi dan pendarahan pasca-tindakan, serta minim risiko infeksi dengan proses pemulihan yang lebih singkat, dan tanpa memerlukan rawat inap,” ungkap dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah – Pondok Indah dan RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

 

Simak Video Berikut Ini:

2 dari 4 halaman

Proses biopsi

dr Hery menerangkan, proses biopsi dilakukan untuk mengambil sampel jaringan dari kelenjar prostat. Tujuannya untuk menentukan apakah jaringan tersebut bersifat ganas atau tidak.

"Prosedur ini dilakukan dengan bius lokal, epidural/spinal atau bius umum. Lalu dokter akan melakan biopsi Prostat dengan memasukkan jarum biopsi pada dinding rektum (transrectal) dan perineum atau bagian kulit diantara anus dan skrotum (transperineal)," jelasnya.

Jika dibandingkan dengan USG, MRI lebih baik dalam membedakan jaringan prostat abnormal dari jaringan normal. "Pada MRI-US fusion prostate biopsy, MRI dilakukan sebelum prosedur, kemudian pada saat biopsi, gambaran MRI digabungkan/di-mapping ke gambaran USG real time sebagai panduan biopsi pada lesi target."

"Pengembangan teknologi kedokteran yang menggunakan sistem robot ini membantu prosedur pembedahan. Namun dokter (ahli bedah) tetap berperan dalam tindakan operasi pengambilan keputusan, dan mengoperasikan robot. Lengan robot dikontrol oleh dokter," katanya.

Dengan teknik robotik ini, dokter juga bisa mengurangi atau menghilangkan trauma jaringan pada pasien. Selain itu, gambaran USG real-time untuk biopsi lebih terarah sehingga lukanya lebih kecil dan risiko infeksi mendekati nol.

"Selama ini transrectal US guided biopsy menjadi gold standard dalam mendeteksi Prostate-Specific Antigen (PSA), namun angka false negative-nya tinggi berkisar 30%. Sedangkan Robotic MRI/US fusion-guided targeted biopsy meningkatkan angka deteksi kanker prostat yang signifikan 30% dari biopsi standar, dan menurunkan diagnosis kasus insignifikan atau low-risk 89.4%," jelasnya. 

3 dari 4 halaman

Sekilas tentang kanker prostat

Seperti diketahui, Kanker prostat merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada pria di seluruh dunia. Data Global Cancer Observatory (Globocan) WHO 2018 mencatat, kanker prostat dialami 1.276.106 pria. Sedangkan di Indonesia ada sekitar 11. 361 pria mengalaminya.

Sejumlah tokoh pun diketahui meninggal dunia karena kanker prostat seperti Rudy Wowor dan Arswendo Atmowiloto. Sementara presiden RI ke-6 yakni Susilo Bambang Yudhoyono baru saja melakukan operasi kanker prostat di Amerika dan kini sedang menjalani tahap pemulihan. 

Prostat sebenarnya merupakan organ pada laki-laki yang berfungsi untuk memproduksi cairan semen/air mani. Ukurannya sebesar buah kastanye (chestnut). 

“Kanker prostat cenderung dialami oleh laki-laki berusia lebih dari 50 tahun. Sejumlah faktor seperti ras atau etnis tertentu seperti Afrika-Amerika serta genetik memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker prostat,” ujar dr Hery.

Lantas, apa saja gejalanya?

Dr Hery menjelaskan gejala yang kerap dialami pasien kanker prostat seperti:

- Sering berkemih

- Pancaran kencing lemah

- Ada darah pada cairan kencing 

- Pada saat kencing nyeri 

- Sering kencing pada malam hari 

- Pada beberapa kasus temukan juga ada disertai disfungsi ereksi 

"Untuk mendiagnosis, pertama yang dilakukan dokter biasanya wawancara riwayat penyakit apabila ditemukan gejala-gejala seperti yang saya sebutkan dan kita curiga ada kanker prostat kemudian dilakukan pemeriksaan fisik seperti colok dubur untuk pemeriksaan kelenjar prostat," katanya.

"Biasanya pada pasien kanker prostat ditemukan benjolan--bahasa medisnya nodul. Dan kemudian pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah pemeriksaan PSA di mana nilai normal nya kurang dari 4 bila nilai yang lebih tinggi dari 3 pasien mungkin perlu melakukan pemeriksaan pencitraan yang meliputi USG," jelas dr Hery. 

Selanjutnya, dokter akan menilai apakah kanker prostat itu stadium dini atau lanjut hingga nantinya akan diberikan pilihan terapi.

Siapa saja yang perlu melakukan deteksi dini?

dr Hery menyarankan pemeriksaan pada:

- laki-laki berusia > 50 tahun

- laki-laki berusia > 45 tahun, dengan riwayat kanker prostatdalam keluarga

- laki-laki berusia > 40 tahun, dengan kadar PSA > 1 ng/ml

- laki-laki berusia > 60 tahun, dengan kadar PSA > 2 ng/ml

"Angka kelangsungan hidup pasien dalam 5 tahun itu berkisar hampir 100% sementara pada stadium lanjut angka kelangsungan hidupnya menurun hanya sekitar 31% sehingga penting lakukan deteksi dini kanker prostat," pungkasnya.

 

4 dari 4 halaman

Infografis Hidup Sehat Hindari Kanker