Sukses

Selama Pandemi Menkes Budi Punya 20 Grup WhatsApp, Apa Saja Isinya?

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin mengungkap bahwa selama pandemi COVID-19 dia memiliki lebih dari 20 grup WhatsApp baru dengan berbagai topik berbeda.

“Selama pandemi ini saya punya lebih dari 20 grup WhatsApp baru, grup satu untuk tim saya di rumah sakit, grup lainnya untuk surveilans, oksigen, tes dan telusur, obat-obatan,” kata Menkes Budi dalam diskusi virtual United Nations General Assembly (UNGA) pada Selasa, 21 September 2021.

Da juga memiliki grup bersama para profesor untuk diskusi COVID-19 secara ilmiah, misalnya dari sisi epidemiologi.

“Ada juga grup dengan ahli whole genome sequencing, grup dengan media, jadi ini lucu, tanpa disadari teknologi (WhatsApp) menjadi bagian dari hidup kita. Bahkan, kita bisa berkomunikasi lebih cepat dan lebih baik ketimbang harus menggelar konferensi pers," katanya.

2 dari 4 halaman

Diam-Diam Pantau Aktivitas di Level Dasar

Dalam acara tersebut, Budi juga mengungkap fakta lain bahwa dirinya sering memantau aktivitas grup WhatsApp di level dasar atau level masyarakat.

Menurutnya, banyak daerah memiliki grup WhatsApp tingkat rukun tetangga (RT) yang khusus menangani COVID-19.

“Saya takut ketinggalan informasi dari level paling dasar, jadi, saya masuk ke grup WhatsApp tingkat RT untuk memantau perkembangan mereka," ujarnya.

Masuknya Budi ke grup WhatsApp tersebut tentu tanpa sepengetahuan anggota grup bahwa di balik nomor yang digunakan ternyata ada Menteri Kesehatan.

“Jika mereka tahu mereka akan diam dan tidak leluasa menyampaikan informasi-informasi yang buruk sehingga kita bisa ketinggalan informasi buruk yang sebenarnya terjadi," kata Menkes.

“Dalam grup itu saya hanya membaca dan mendengarkan, jika ada sesuatu yang keliru saya coba luruskan (tanpa membuka identitas). Dengan cara itu, saya bisa benar-benar mengetahui apa yang terjadi di level dasar dan itu sangat penting," Budi menambahkan.

3 dari 4 halaman

Teknologi Mengubah Dunia Kesehatan

Dia juga berpendapat bahwa teknologi mampu mengubah dunia kesehatan secara drastis.

Sebagai pencinta teknologi dia berpikir bahwa big data, internet, dan kecerdasan buatan memiliki peran penting di bidang layanan kesehatan dan diagnosis penyakit.

“Misalnya dokter yang mendiagnosis kanker dari keadaan seorang pasien akan berbeda dengan dokter yang mengetahui data jutaan orang yang mengalami kanker serupa dan apa diagnosis yang sukses untuk mereka," katanya.

Dengan kata lain, teknologi di dunia kesehatan tidak hanya mengubah cara penyampaian yang biasanya dilakukan langsung atau tatap muka menjadi jarak jauh (telemedisin), tapi juga cara diagnosis yang dilakukan dokter terhadap pasien, katanya.

   

4 dari 4 halaman

Infografis Tak Usah Pilih-Pilih, Ayo Cepat Vaksin COVID-19