Sukses

Pandangan Ahli Terkait Keamanan Berkumpul dengan Orang yang Belum Divaksinasi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta Jika Anda sangat antusias saat akhirnya berpikir bisa berkumpul dengan teman (bukan lewat video call atau zoom) karena sudah vaksinasi COVID-19, namun karena jumlah infeksinya lagi-lagi jauh meningkat, begini pendapat para ahli.

Dilansir dari Health, di AS sekitar 57% penduduk selain anak-anak di bawah usia 12 tahun sudah sepenuhnya terlindungi oleh vaksin COVID-19. Namun dari sekian persen yang belum vaksin, masih ada jutaan orang termasuk anak-anak yang masih berlalu-lalang tanpa perlindungan dan rentan terinfeksi COVID-19.

Sehingga, pada akhirnya menurut ahli, jawabannya tergantung pada kesehatan Anda sendiri, kesehatan orang lain di sekitar Anda, dan toleransi risiko jika Anda ingin memaksakan berkumpul lagi dengan teman yang tidak divaksinasi.

"Jika Anda divaksinasi sepenuhnya, sebagian besar interaksi berisiko rendah untuk Anda. Tetapi Anda mungkin ingin tahu tentang status vaksinasi orang lain untuk membantu memikirkan bagaimana Anda dapat membuat aktivitas serendah mungkin untuk (melindungi) semua orang," kata dokter yang berbasis di Seattle dan pemimpin penyakit menular dengan Kaiser Permanente, Paul A. Thottingal, MD, dikutip dari Health.

Itupun berlaku jika Anda menghabiskan waktu di dalam ruangan, kata Paul, sementara akan baik-baik saja jika bertemu di luar ruangan alias tempat terbuka.

 

Simak Video Berikut Ini:

2 dari 4 halaman

Ahli lain tak sependapat

Sementara itu, Profesor kedokteran darurat di Brown University di Providence, Rhode Island, Megan L. Ranney, MD, kurang sependapat. Menurutnya, bertemu dengan orang yang belum divaksin tetap akan membuat Anda berisiko terinfeksi COVID-19.

"Secara umum, jika saya bergaul dengan teman yang tidak divaksinasi, saya hanya akan bertemu di luar ruangan, itupun dengan menggunakan masker," katanya dikutip dari Health. Karena, menurutnya, meskipun vaksin sangat efektif, ia tidak ingin mengambil risiko apalagi (secara hipotesis) virus ini menularkan infeksi ke anak atau orang tua yang tidak divaksinasi.

Kemudian William Schaffner, MD, profesor penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center di Nashville, menyarankan untuk berdiskusi dengan keluarga yang ingin melakukan kunjungan ke orang yang berisiko atau tidak divaksin. Sehingga bisa membuat nyaman kedua belah pihak saat kunjungan, jelasnya.

William juga menyarankan mengajari anak-anak bagaimana menjaga nenek dan kakek tetap aman dengan mengenakan masker selama kunjungan dan memeluk kakek-nenek mereka di pinggang (tidak mencium bibir).

Sementara Dr. Thottingal menyarankan agar semua orang di rumah memakai masker jika Anda memiliki teman yang berkunjung yang anaknya tidak divaksinasi. "Lebih mudah untuk mendukung anak-anak jika semua orang memakai masker tanpa membedakan mereka," katanya.

 

3 dari 4 halaman

Pencegahan ekstra

Mirella Salvatore, MD, asisten profesor spesialis penyakit menular di Weill Cornell Medicine di New York City, menyarankan untuk menggunakan kesempatan ini untuk berbicara tentang vaksinasi jika Anda bertemu dengan teman yang belum divaksinasi.

"Cobalah untuk memahami mengapa mereka tidak ingin divaksinasi, atau mungkin Anda dapat berbagi pengalaman Anda dengan vaksin tersebut. Kita harus berpikir secara global (untuk masyarakat luas), tidak hanya untuk diri kita sendiri," katanya.

Meski para ahli menyatakan bahwa vaksin sangat membantu dalam menjaga orang yang divaksinasi tetap terlindungi, namun tetap saja vaksin tidak ada yang sempurna. Oleh karena itu langkah-langkah mitigasi lainnya dapat berperan penting.

"Divaksinasi adalah hal yang hebat tetapi tidak membuat Anda menjadi Superman. Sebagian besar varian bahkan lebih mudah menular saat ini," kata Salvatore.

Dr. Schaffner menawarkan saran serupa. Jika menurut Anda vaksin tidak memberikan perlindungan yang optimal maka tentu harus pakai masker dan juga melakukan jarak sosial.

4 dari 4 halaman

Infografis Yuk Kenali Cara Kerja Vaksin Covid-19.