Sukses

Catat, 6 Penyebab Anda Mudah Lupa Selain karena Penuaan

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda mengalami hal yang membuat Anda merasa seperti harus melakukan sesuatu, namun saat sudah tiba di tempat tujuan, Anda lupa ingin melakukan apa.

Dilansir dari Livestrong, seorang dokter keluarga dan ahli kesehatan otak di St. George, Utah, yang bernama Dr. Scott Noorda, DO menjelaskan kalau kehilangan ingatan sampai taraf tertentu sebenarnya normal.

"Seiring dengan meningkatnya tanggung jawab dan tingkat stres, kita cenderung mengabaikan beberapa hal yang dibutuhkan otak kita," katanya. Namun hal-hal yang menghalangi fokus, misalnya stres yang berlebihan, kurang tidur, cenderung menjadi penyebab lupa.

Jadi jika Anda lupa dimana Anda letakkan kunci masih terbilang normal. Lain halnya ketika Anda lupa mengapa Anda pergi ke toko dan bagaimana cara pulang. Normal juga untuk melupakan nama seseorang, tetapi jika Anda lupa mengapa Anda pergi ke rumah seseorang atau bagaimana Anda mengenal mereka maka hal ini perlu dibawa ke dokter.

Adapun penyebab Anda beberapa kali melupakan hal-hal remeh mungkin disebabkan oleh berikut ini.

1. Anda sedang tertekan

"Untuk benar-benar belajar dan mengingat sesuatu, Anda harus memusatkan perhatian padanya," kata Dr. Noorda. Maka bisa saja kerja otak terganggu oleh suatu hal, terlebih jika kortisol (hormon stres) meningkat secara kronis membuat otak Anda dalam mode bertahan hidup, yang bekerja melawan kemampuan Anda untuk menyimpan ingatan baru, katanya. Jika ini masalah Anda, Dr. Noorda menyarankan untuk menemukan aktivitas penghilang stres yang Anda sukai, seperti berolahraga, berada di alam bebas, membaca buku, dsb., dan lakukan setiap hari.

2. Kurang tidur

Tidur tidak hanya membantu Anda merasa segar, terjaga, dan energik keesokan harinya. Melainkan tidur memainkan peran utama dalam konsolidasi memori, atau tindakan mengambil ingatan jangka pendek dan mengubahnya menjadi ingatan jangka panjang, kata Dr. Noorda.

Dalam sebuah penelitian Mei 2014 di Journal of American Geriatrics Society, wanita paruh baya yang lebih tua, yang tidur selama 5 jam atau kurang atau lebih dari 9 jam per hari memiliki skor kognisi lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang lama tidurnya 7 jam. Jika dibandingkan, selain yang tidurnya selama 7 jam seolah memiliki otak dua tahun lebih tua dibanding usia sebenarnya.

 

2 dari 5 halaman

3. Anda depresi

Berdasarkan studi yang dirilis Januari 2018 di Psychological Medicine menemukan orang ang mengalami depresi juga mengalami kinerja memori buruk dan kemampuan untuk informasi recall, mungkin karena peningkatan kortisol yang menyertai depresi, yang merupakan kondisi stres. "Depresi mungkin adalah hal paling umum yang tumpang tindih dengan gangguan kognitif. Ketika Anda tidak dapat memikirkan apa pun selain berjuang melawan depresi, ingatan Anda dapat terpengaruh," kata Dr. Noorda.

Menurut National Institute of Mental Health , gejala depresi lainnya meliputi:

- Merasa sedih, cemas atau "kosong" hampir sepanjang waktu

- Energi berkurang, atau merasa lelah

- Memiliki perasaan putus asa atau tidak berdaya

- Sulit tidur

- Perubahan berat badan atau nafsu makan

- Pikiran tentang kematian atau bunuh diri

4. Anda mengalami infeksi

Menurut Dr. Noorda, penyakit infeksi seperti meningitis, penyakit Lyme kronis, dan infeksi saluran kemih juga menyebabkan masalah memori. Jika Anda memiliki gejala penyakit lain, seperti demam, kedinginan, mual atau muntah, atau rasa terbakar atau sering buang air kecil, segera temui dokter Anda.

 

3 dari 5 halaman

5. Masalah tiroid

Tiroid adalah kelenjar di pangkal leher Anda yang membuat hormon yang mengontrol banyak proses tubuh, termasuk metabolisme Anda. Jika fungsi tiroid Anda melambat, suatu kondisi yang disebut hipotiroidisme, itu juga memengaruhi fungsi otak Anda.

Sebuah penelitian yang sangat kecil dalam jurnal Thyroid Maret 2014 melihat MRI otak pada orang dewasa yang memiliki hipotiroid dibandingkan dengan kontrol. Mereka yang berada dalam kelompok hipotiroid memiliki volume yang lebih sedikit di hipokampus kanan mereka, area otak yang terlibat dalam pembelajaran dan memori yang dikemas dengan reseptor tiroid.

Menurut American Thyroid Association, hipotiroidisme dapat terjadi karena penyakit autoimun yang menyerang kelenjar, obat-obatan tertentu (seperti lithium) dan kerusakan kelenjar pituitari. Jika Anda memiliki gejala penyakit tiroid lainnya, seperti intoleransi dingin, kulit kering, kelelahan atau depresi, segera kunjungi dokter dan tanyakan perlukah Anda menjalani tes.

6. Anda kekurangan nutrisi

Semua jenis anemia, seperti kekurangan zat besi atau vitamin B12 , dapat bermanifestasi sebagai kabut otak dan pelupa, kata Dr. Noorda.

Bahkan studi tentang orang dewasa yang dirilis Juli 2020 di Medicine menemukan bahwa mereka yang memiliki tingkat yang cukup B12 tampil lebih baik pada memori dan tes kognitif lainnya. Ditambah penelitian terakhir yang dirilis di The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan wanita muda yang sedang kekurangan zat besi memiliki kinerja yang buruk terkait tugas-tugas kognitif dibandingkan mereka yang memiliki kecukupan gizi. Mereka juga menemukan suplemen zat besi meningkatkan kinerja kognitif mereka lima sampai tujuh kali lipat, alias otak mereka menjadi lebih cepat dan efisien. Namun sebelum mengambil tindakan minum suplemen, sebaiknya tanyakan dulu ke dokter apakah Anda memerlukan B12 atau zat besi tambahan, yang biasanya dilakukan dengan tes darah sederhana.

4 dari 5 halaman

Infografis Biang Kerok Lonjakan Covid-19 di Indonesia

5 dari 5 halaman

Simak Video Berikut Ini: