Sukses

Mantan Menkes Siti Fadilah Ceritakan Pengalaman Usai Suntik Vaksin Nusantara

Liputan6.com, Jakarta Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari menceritakan pengalaman setelah mendapatkan suntikan Vaksin Nusantara pada Jumat 23 April 2021.

Menurutnya, sebagai relawan penelitian vaksin imunoterapi dari Mantan Menteri Kesehatan dr. Terawan ia telah disuntik sel dendritik. Sel tersebut adalah milik Siti yang diambil dari darahnya sendiri 8 hari yang lalu (15/4/2020) sebanyak 40 cc.

“Sebagian untuk baseline data, sebagian untuk proses memisahkan dendritik sel dari darah putih saya secara bertahap dengan teknologi tertentu,” ujar Siti dalam keterangan pers, Sabtu (24/4/2021).

Ia menambahkan, kemudian dendritik sel diinkubasi dengan kit COVID-19 dan zat lainnya. Pada hari ke 8, dendritik sel Siti sudah dianggap mengerti dan kuat melawan COVID-19.

“Setelah itu dendritik sel tersebut dibersihkan kemudian disuntikkan ke diri saya lagi. Jadi saya disuntikkan sel dendritik saya sendiri. Jadi yang dimasukkan dalam tubuh saya itu murni dendritik sel saya sendiri.”

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Perbedaan dengan Vaksin Konvensional

Siti juga menjelaskan perbedaan antara Vaksin Nusantara dengan vaksin konvensional seperti AstraZeneca.

Pada vaksin AstraZeneca, yang disuntikkan kepada penerima vaksin adalah the whole of antigen yang mengandung bagian dari Virus SARS-CoV-2 yang disuntikkan masuk ke dalam tubuh.

“Apalagi dengan Sinovac, seluruh virusnya dimasukkan ke dalam tubuh, walaupun sudah dilemahkan.”

Kini, Siti sedang menunggu hasilnya. Rasanya sendiri seperti suntikan biasa, katanya. Bahkan, tidak ada yang ia rasakan sama sekali.

“Sekarang saya nunggu diambil darah saya lagi untuk menghitung antibodi beberapa hari lagi. Tujuannya untuk dibandingkan dengan jumlah antibodi saya sebelumnya. Saya sudah diberi jadwal untuk kembali ke RSPAD lagi untuk melanjutkan pemeriksaan lab dalam rangka penelitian vaksin Nusantara.”

Jika penelitian ini berhasil, lanjut Siti, nantinya diharapkan bukan hanya untuk COVID-19 saja, tapi bisa digunakan untuk semua antigen dari mutasi COVID-19 yang saat ini tersebar di berbagai belahan dunia.

“Inilah yang disebut vaksin imunoterapi. Pendekatannya yaitu vaksinasi berbasiskan imunoterapi,” tutupnya.

 

3 dari 4 halaman

Infografis Benarkah Sudah Divaksin Masih Bisa Kena COVID-19?

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini