Sukses

Meluruskan Diet ala Tya Ariestya, Ini Kata Ahli Gizi tentang Konsumsi Gula dan Lemak

Liputan6.com, Jakarta -  Baru-baru ini, artis Tya Ariestya ramai diperbincangkan karena menerbitkan sebuah buku diet berjudul The Journey of Fit Tya Ariestya. Buku tersebut menuai kontroversi karena menyajikan beberapa informasi keliru terkait diet dan kandungan makanan.

Salah satu hal yang disebutkan dalam buku tersebut adalah cara menurunkan berat badan dengan tidak mengonsumsi minyak, santan, gula, dan tepung.

Menanggapi hal tersebut, Dokter Ahli Gizi Komunitas, Tan Shot Yen, menjelaskan bahwa manusia butuh makro dan mikro nutrien. Karena dari sana tubuh manusia didesain dan terkomposisi.

“Makro nutrien terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Jika pilihan makronutrien itu baik, dan diolah dengan benar, maka mikronutrien sudah ada di dalamnya,” ujar Tan kepada Health Liputan6.com melalui pesan teks, Jumat (5/3/2021).

Ia menambahkan, karbohidrat yang baik tentu ada kriterianya. Prinsip dari karbo adalah jika dicerna, akan menjadi gula sebagai sumber tenaga.

“Jadi, bukan makan gulanya. Makan karbohidrat kompleks. Biarkan tubuh yang memecah dan mencerna.”

“Nah soal tepung-tepungan, produk gula, itu rafinasi (sudah melalui proses pemurnian), makanya menimbulkan masalah, tubuh enggak butuh.”

 

 

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

2 dari 4 halaman

Konsumsi Lemak

Tan menambahkan, lemak baik dibutuhkan oleh tubuh. Lemak tidak selalu identik dengan minyak goreng. Namun, bisa didapat juga secara alami dari ikan laut dalam, telur, kelapa, kemiri, kacang-kacangan, dan alpukat.

Menurutnya, asupan gula dan lemak itu dibutuhkan tubuh, tapi bukan berarti mengonsumsi gula dan minyak secara langsung, melainkan melalui makanan-makanan sehat yang mengandung gizi dan nutrisi serupa, seperti dalam bahan makanan alami yang telah disebutkan di atas.

“Jadi, ngapain diet kalau bisa makan bener?”

Terkait konsumsi santan, Tan mengatakan bahwa kelapa adalah sumber lemak jenuh sehat asal pengolahannya benar seperti dibuat urap atau santan yang tidak dipanaskan secara berulang.

Ia menyimpulkan bahwa konsumsi gula itu perlu, tapi harus berasal dari sumber aslinya seperti beras, umbi, sagu, sayur, dan buah. Sebisa mungkin tidak perlu menambah olahan pabrik seperti gula pasir dan pemanis buatan, tambahnya.

"Hindari pangan kemasan yang bergula tinggi, waspada dengan gula tersembunyi dalam produk kemasan, dan biasakan memahami label pangan,” tutup Tan. 

3 dari 4 halaman

Infografis Kiat Makan Sehat Kala Lebaran

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini