Sukses

Cacing Pita Bersembunyi di Otak Pria Ini Lebih Dari Satu Dekade

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pria asal Tiongkok mengalami kejang dan gejala yang misterius selama bertahun-tahun. Setelah diperiksa, dokter menemukan parasit langka berupa cacing pita spirometra yang hidup di otaknya selama lebih dari sepuluh tahun.

Sejak 2007, pria tersebut merasakan mati rasa pada sisi kiri tubuhnya. Selama bertahun-tahun juga pria tersebut mengalami gejala seperti kejang dan kehilangan kesadaran. Kemudian baru pada tahun 2018, dokter menemukan cacing pita sepanjang 12 sentimeter di otaknya.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), AS, manusia jarang terinfeksi cacing spirometra. Karena biasanya parasit jenis ini hidup di usus anjing dan kucing. Hewan lainnya yang biasa memiliki parasit ini adalah ikan, reptil, dan amfibi.

Makanan atau minuman yang terinfeksi"Manusia tetap bisa terinfeksi parasit ini jika mereka meminum air yang terkontaminasi parasit, atau jika mereka memakan daging yang kurang matang dari hewan, seperti katak atau ular," tulis peneliti pada CDC seperti dikutip Live Science, Rabu (6/11/2019).

Meskipun cacing pita spirometra bisa berada di mana pun, sebagian besar kasus manusia yang terinfeksinya dilaporkan dari negara-negara di Asia Tenggara. Biasanya, manusia dapat terinfeksi karena tidak sengaja dan untungnya tidak bisa menularkannya.

 

2 dari 2 halaman

Cacing Ini Bisa Hidup di Mana Saja

Cacing spirometra dapat berada di mana saja dan berpindah ke mana saja dalam tubuh, termasuk mata, saluran kemih, paru-paru, perut. Dalam kasus ini, cacing spirometra berada pada sistem saraf pusat pria tersebut.

Infeksi otak dengan cacing ini bisa menyebabkan berbagai gejala seperti merasa kelelahan, sakit kepala, kejang, mati rasa atau kesemutan. Dokter berusaha mengeluarkan cacing pita dari otak pria tersebut selama dua jam operasi.

"Operasi itu berisiko karena cacing pita hidup bergerak di otaknya, dan kami harus mengangkatnya. Kalau tidak, cacing tersebut bisa terus bertumbuh," kata seorang ahli bedah, Dr. Gu Youming.

Penulis: Diviya Agatha

Loading