Sukses

Cepat Atasi Depresi, Cegah Risiko Bunuh Diri

Liputan6.com, Jakarta - Perasaan tertekan berlebihan bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti pekerjaan, ekonomi, ataupun relasi. Kondisi ini dapat menyebabkan seseorang berisiko mengalami depresi.

"Apabila seseorang mengalami depresi dan tidak ditangani, risiko bunuh diri bisa meningkat," kata Sekretaris PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr Agung Frijanto seperti dikutip dari situs Promkes Kemenkes pada Selasa, 8 Oktober 2019.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dr. Anung Sugihantono juga mengatakan, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, perilaku bunuh diri mencapai angka kritis.

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lebih dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya atau sekitar 1 orang setiap 40 detik.

"Saya ingin mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya pencegahan jika memang terdapat anggota keluarga atau orang terdekat yang menunjukkan gejala depresi," ucap Agung.

 

2 dari 3 halaman

Gejala Depresi

Terdapat tiga aspek yang dapat dikategorikan sebagai gejala depresi yakni afek, kognitif, dan fisik. Pertanda yang ditunjukan juga berbeda pada setiap aspeknya.

"Gejela depresi dapat ditunjukan lewat afek atau suasana hati. Biasanya ditandai dengan sedih, hilangnya minat, apatis, tidak bersemangat, ataupun mengisolasi diri," ucap Agung.

Pada aspek kognitif dapat ditandai dengan rendah diri, konsentrasi dan daya ingat yang menurun, ragu-ragu, perasaan bersalah terus menerus, dan memiliki ide untuk bunuh diri.

Sedangkan pada aspek fisik dapat ditunjukan dengan adanya gangguan tidur, nafsu makan, merasa begitu cepat lelah, dan juga kemampuan psikomotorik yang menurun.

 

3 dari 3 halaman

Cara Menangani Depresi

"Setiap orang perlu untuk meningkatkan kepedulian antar sesama. Peran keluarga menjadi sangat penting dalam hal mencegah depresi menjadi lebih parah," ucap Agung.

Upaya pencegahan ini juga dapat dilakukan oleh lingkungan di luar keluarga seperti institusi pendidikan.

"Pada masa remaja atau sekolah, kita bisa melakukan deteksi dini. Misalnya dengan membagikan daftar pertanyaan untuk mengetahui apakah remaja tersebut mengalami depresi atau tidak," ucap Agung.

Menanggapi kondisi ini, pemerintah pun turut andil dalam menanganinya dengan memberikan layanan primer di beberapa tempat.

"Dalam sistem rujukan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kita menempatkan pelayanan jiwa di rumah sakit dan rumah sakit jiwa," ucap Agung.

Penulis: Diviya Agatha 

Loading
Artikel Selanjutnya
Cerita Kiper Timnas Jerman yang Bunuh Diri Usai Putrinya Meninggal Dunia
Artikel Selanjutnya
11 Juta Orang Indonesia Indonesia Alami Depresi