Sukses

Perempuan yang Punya Saudara Kembar Laki-laki Cenderung Sial?

Liputan6.com, Norwegia Perempuan yang punya saudara kembar laki-laki lebih cenderung putus sekolah. Mereka juga punya penghasilan lebih rendah di awal usia 30-an dan tingkat kesuburan dan pernikahan yang lebih rendah dibandingkan perempuan yang punya saudara kembar perempuan.

Temuan tersebut menurut studi dari New Northwestern University. Para peneliti Northwestern University dan Norwegian School of Economics memeriksa data semua kelahiran kembar di Norwegia selama periode 12 tahun.

"Sebelumnya tidak ada yang dapat mempelajari, bagaimana saudara kembar laki-laki berdampak pada saudara perempuan," kata penulis studi, Krzysztof Karbownik dari Northwestern University Research Policy (IPR) Institute, dikutip dari EurekAlert! Rabu, 20 Maret 2019.

Hasil studi berjudul Prenatal testosterone is associated with long-term effects in women who share the content with male twins dipublikasikan di Prosiding National Academy of Sciences (PNAS) pada 18 Maret 2019.

Para peneliti menggunakan data dari 13.800 kelahiran kembar antara tahun 1967 dan 1978. Penelitian demi menunjukkan, perempuan yang punya saudara kembar laki-laki lebih kecil kemungkinannya lulus dari sekolah menengah ( kurang dari 15,2 persen).

Mereka juga kecil kemungkinan menyelesaikan kuliah (kurang dari 3,9 persen) atau menikah (kurang dari 11,7 persen). Tingkat kesuburan juga lebih rendah (kurang dari 5,8 persen) dan pendapatan rendah (kurang dari 8,6 persen).

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Lebih banyak terpapar testosteron

Hipotesa dalam penelitian menyatakan, perempuan yang punya saudara kembar laki-laki terpapar lebih banyak testosteron di dalam rahim melalui cairan ketuban atau aliran darah ibu.

Paparan tersebut berdampak jangka panjang terhadap perilaku. Ini terkait biologi perbedaan jenis kelamin, menurut peneliti David Figlio, Northwestern School of Education and Social Policy.

"Kami menemukan paparan testosteron dalam rahim memberikan efek jangka panjang terhadap pendidikan dan hasil kesuburan perempuan," katanya.

Selama periode perkembangan dalam rahim, steroid yang diproduksi ovarium dan testis, termasuk testosteron membantu membangun perbedaan biologis antara pria dan wanita.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, paparan hormon lawan jenis dapat menyebabkan perubahan perilaku jangka panjang dan sifat-sifat lainnya.