Sukses

Kak Seto: Hari Anak Nasional Versus Promosi Rokok

Liputan6.com, Jakarta Hari Anak Nasional (HAN) yang jatuh tepat pada hari ini, 23 Juli 2018 diselenggarakan di Pasuruan, Jawa Timur. Beberapa hari sebelumnya, sekitar 520 anak dari seluruh penjuru Indonesia hadir menyampaikan aspirasi, yang kemudian dirumuskan pada Forum Anak Nasional. Kegiatan itu berlangsung pada 20-22 Juli 2018 di Surabaya.

Berlokasi di kota yang sama, perayaan Hari Anak Nasional di Surabaya rupanya bertepatan dengan diselenggarakannya kegiatan Audisi Beasiswa Djarum Bulutangkis. Ajang pencarian bibit unggul bulu tangkis itu diikuti oleh 802 anak umur 6–14 tahun dari berbagai daerah di Indonesia. Ratusan anak tersebut mengenakan kaus bertuliskan "DJARUM".

Menurut Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) penggunaan kaus itu tanpa mereka sadari telah dimanfaatkan untuk mempromosikan produk rokok tersebut. Mereka berisiko menjadi perokok di kemudian hari.

“Terlalu naif memandang anak-anak peserta audisi badminton itu sebatas sebagai generasi belia yang bercita-cita menjadi olahragawan. Ini bukan soal bagaimana anak-anak mengembangkan diri menjadi atlet profesional," ungkap Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi, yang akrab disapa Kak Seto, dalam rilis yang diterima Health Liputan6.com, ditulis (23/7/2018).

Strategi promosi yang dimainkan perusahaan rokok, kata Kak Seto, dimaksud untuk menetralkan persepsi masyarakat terhadap bahaya rokok, terutama di kalangan anak-anak.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Bahaya promosi rokok

Aspirasi penolakan anak-anak terhadap rokok sudah digemakan sejak bertahun-tahun silam. Pada 2016, Suara Anak meminta agar Indonesia menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control).

Pada 2017, anak-anak meminta perlindungan dari iklan, promosi, dan sponsor rokok.

Penelitian DiFanza, Wellman, Sargent, Weitzman, Hipple, dan Winickoff untuk Tobacco Consortium, Center for Child Health Research of the American Academy of Pediatrics menyimpulkan, promosi rokok akan memperteguh sikap, kepercayaan, dan ekspektasi mengonsumsi rokok.

Semakin tinggi promosi terhadap rokok, semakin tinggi pula risiko anak menjadi perokok.

"Ringkasnya, melibatkan anak–anak dalam kegiatan yang diselenggarakan perusahaan rokok sungguh hal yang membahayakan (karena anak berisiko jadi perokok)," tandas Kak Seto.

Loading