Sukses

Melawan Zaman, 8 Dokter Perempuan Ini Taklukkan Dunia Medis (2)

Liputan6.com, Jakarta Perempuan sudah sejak lama membuktikan diri dalam bidang kedokteran dan medis. Beberapa dokter perempuan malah menjadi tokoh dalam berbagai isu yang terkait dengan dunia kesehatan.

Dalam artikel sebelumnya, telah diperkenalkan 4 perempuan inspiratif dalam dunia medis.

Dilansir dari Buzzfeed, Rabu (14/3/2018), berikut ini 8 perempuan yang berhasil catatkan prestasi di bidang kesehatan:

5. Patricia E. Bath

Bath memulai karirnya ketika dia menjadi dokter kulit hitam pertama yang menyelesaikan residensi (periode pelatihan spesialisasi medis tertentu) di bidang oftalmologi, studi yang mempelajari penyakit mata, di New York University.

Setelah dia berlatih di Harlem dan mengamati tingkat kebutaan pada orang kulit hitam, Bath memperkenalkan disiplin kedokteran baru. Oftalmologi komunitas.

Dia memberikan perawatan di komunitas masyarakat yang tersingkirkan dan minoritas. Setelah itu, dia menjadi dokter mata wanita pertama di Fakultas Kedokteran University of California, Los Angeles (UCLA).

Bath juga menciptakan perangkat untuk menghilangkan katarak pada mata yang disebut, Probe Laserphaco. Perangkat ciptaannya Bath sudah menyelamatkan jutaan orang di dunia sampai saat ini.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

1 dari 4 halaman

Perawatan Mereka yang Depresi Di Akhir Hidupnya

6. Elisabeth Kubler-Ross

Elisabeth Kubler-Ross, memberikan kontribusi pada bidang psikiatri. Dia adalah kelahiran Swiss yang sejak remaja, sudah meninggalkan rumah untuk jadi sukarelawan di sekitar Eropa. Dia membantu masyarakat yang sedang berantakan setelah Perang Dunia kedua.

Tahun 1957, dia menerima gelar medisnya. Kubler-Ross pindah ke Amerika Serikat dan bekerja di Chicago sebagai asisten profesor psikiatri di Rumah Sakit Billings.

Kubler-Ross memusatkan perhatian pada perawatan pasien yang sakit parah dan sekarat, yang menderita kecemasan dan depresi mendekati akhir hidupnya. Dia mengubah cara orang berbicara tentang kematian.

Tahun 1969, dia menerbitkan salah satu buku psikologi penting di abad 20. Judulnya adalah On Death and Dying. Buku tersebut berisi lima tahap kesedihan pada mereka yang sekarat yaitu: penyangkalan, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan pasrah.

Lima tahap itu menjadi alat penting bagi para profesional, untuk memahami dan merawat pasien yang sedang dalam sakratul maut.

 

2 dari 4 halaman

Skrining Bayi Sejak Lahir

7. Marilyn Hughes Gaston

Marilyn Hughes Gaston mendapatkan gelar medisnya di University of Cincinnati. Dia meneliti sickle cell disease (SCD) atau anemia sel sabit, di Rumah Sakit Umum Philadelphia. SCD merupakan kelainan darah warisan, yang berpotensi fatal bagi orang-orang Timur Tengah, Asia, India, dan keturunan Afrika.

Studinya pada tahun 1986 menunjukkan bahwa bayi perlu melakukan skrining penyakit ini sejak lahir, serta diberikan antibiotik untuk pencegahan sepsis.

Tahun 1990, Gaston menjadi direktur di Bureau of Primary Health Care di US Health Resources and Services Administration. Dia mendedikasikan karyanya untuk memperbaiki perawatan medis bagi orang miskin dan minoritas.

 

3 dari 4 halaman

Kulit Hitam Pertama

8. Rebecca Lee Crumpler

Crumpler awalnya hanyalah perawat di Massachusetts. Namun dia kemudian melanjutkan pendidikan di New England Female Medical College. Dia menjadi wanita kulit hitam pertama yang mendapat gelar medis dan menjadi dokter di Amerika serikat.

Ini terjadi pada tahun 1864 ketika saat itu tengah pecah perang sipil, dan masih banyak orang kulit hitam yang jadi budak.

Crumpler pergi ke Richmond, Virginia. Di sini, dia bekerja sama dengan Freedmen's Bureau, untuk memberikan perawatan kesehatan kepada budak-budak yang dibebaskan, jika mereka tidak punya akses ke rumah sakit atau klinik.

Crumpler juga menerbitkan sebuah buku berjudul A Book of Medical Discourses. Isinya adalah mengenai karir dan pengobatan dalam keluarganya. Ini menjadikannya salah satu orang kulit berwarna pertama yang menerbitkan sebuah literatur medis.

Gambar maupun foto Crumpler sulit ditemukan. Namun, bukunya menjadi sebuah sejarah penting dalam dunia medis.

Artikel Selanjutnya
Melawan Zaman, 8 Dokter Perempuan Ini Taklukkan Dunia Medis (1)
Artikel Selanjutnya
Pemuda Dorong Akses Kesehatan bagi Wanita di Wilayah Bermasalah