Sukses

Akhir Klinik Kanker Warsito, Sang Doktor yang Kontroversial

Liputan6.com, Jakarta Nama Dr. Warsito Purwo Taruno kembali mencuat belakangan ini. Salah satunya adalah, keputusan Dr Warsito untuk menutup klinik riset kanker miliknya setelah 27 Januari 2016.

Menurut Dr. Warsito, alasan beliau menutup kliniknya tersebut adalah berdasarkan hasil perbincangannya dengan Kementerian Kesehatan Indonesia, dan melihat tidak ada celah baginya untuk melanjutkan membuka klinik risetnya tersebut.

Namun, siapa sebenarnya Dr Warsito itu sendiri?

Dr. Warsito Purwo Taruno lahir di Karanganyar, 15 Mei 1967, dan merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Warsito mendapatkan gelar sarjananya dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada tahun 1986, dengan jurusan Teknik Kimia.

Warsito kemudian melanjutkan studinya, dan meraih gelar S2-nya dari Shizouka University, Jepang, pada tahun 1992. Dan gelar doktor teknik elektronya dari universitas yang sama pada tahun 1997.

Saat melakukan studinya, Warsito mulai tertarik untuk mempelajari tentang kemampuan menembus pandang sebuah objek, yang sekarang disebut sebagai tomografi. Kemudian Dr Warsito ingin menciptakan teknologi yang mampu "melihat" tembus dinding reaktor yang terbuat dari baja atau objek lainnnya yang tak tembus cahaya. Tak mau tinggal diam, Dr Warsito kemudian mulai melakukan risetnya di Laboratorium of Molecular Transport di Jepang, di bawah bimbingan Profesor Shigeo Uchida.

Kerja kerasnya mulai menampakkan hasil di tahun 2004 ketika beliau berhasil menyelesaikan risetnya meski masih dalam bentuk protipe. Protipenya ini kemudian menjadi incaran banyak pihak, termasuk badan antariksa Amerika Serikat (NASA).

Hasil riset Dr Warsito adalah Electrical Capacitance Volume Tomography (ECTV), yang merupakan teknologi pemindai 4D pertama di dunia. Temuannya ini dianggap mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI.

Dr Warsito kemudian mengembangkan Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) di Tangerang, Banten.

Menggunakan ECTV untuk melawan sel kanker

Menurut Warsito yang pernah ditemui tim Health Liputan6.com, ECCT ini merupakan aliran elektro listrik berdaya kecil, yang berpusat pada titik tertentu dalam saraf yang terjangkit kanker tersebut.

Gara-gara kakak menderita kanker, ide Warsito muncul. Ia berinovasi menciptakan alat pembasmi kanker payudara, kanker yang diderita sang kakak. Sang kakak yang sudah menderita kanker payudara stadium IV, perlahan-lahan sembuh berkat alat yang diciptakan adik tercintanya itu.

Alat yang berbasis teknologi ECVT itu terdiri dari empat perangkat yakni brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy. Brain activity scanner dibuat Dr. Warsito sejak Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi.

Sukses dengan rompi antikanker payudara, Warsito melanjutkan inovasinya dengan menciptakan topi dan celana anti kanker. Topi anti kanker ciptaannya tersebut, telah memberikan banyak manfaat bagi pasien penderita kanker otak.

Menurut Dr Warsito, alat yang diciptakannya tersebut didesain sesuai dengan posisinya.

Bentuk bra untuk kanker payudara, penutup kepala untuk kanker otak, rompi untuk kanker paru-paru, dan celana untuk kanker rahim, kolon, dan ovarium. Sedangkan selimut diciptakan bagi penderita kanker darah, kanker kelenjar getah bening, dan kanker tulang.

Meski sudah mendapatkan hasil yang luar biasa, Dr Warsito mengakui bahwa alat yang sudah dipakai oleh banyak pasiennya masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh.

Di sisi lain, para onkolog atau dokter ahli kanker juga masih berhati-hati menyikapi temuan Dr Warsito yang diklaim bisa menyembuhkan kanker payudara itu. Menurut para dokter sulit dibuktikan secara medis pengobatan ala Dr Warsito ini.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS